Aug 2, 2010

Pejabat Dukun

Antara percaya nggak percaya: bukannya kita biasa tertawa, melihat sinetron mistis, penuh asap, menyan, keris, ular, belatung, dan dukun2 santet merapal mantra. Itu sinetron murahan, nggak lepel, merusak jiwa anak-anak !

Lalu apa itu membuat serta merta dunia mistis hilang kepopulerannya,
sejalan dengan diharamkannya tontonan mistis di media gambar ?

Hilang mungkin tidak, tapi tetap masih ada, padahal sudah satu dasawarsa kita meninggalkan tahun 2000:
Ada pejabat eselon (istrinya biasa ke salon), ingin jabatan, ingin mempertahankan posisi, koq pakai "penasehat" dukun. Katanya biar disenangi atasan, langgeng posisi, lhaa.. sekarang menteri nya diganti menjadi orang partai, tak mau pakai dia lagi, habis lah karir nya.
Sebenarnya Tuhan, Sang Pemberi Rezeki, yg tak mau melihat pejabat dukun ini tetap duduk di sana.

Latar belakang pejabat: lahir dan ortu berasal dari negeri penghasil santri, sekolah cemerlang hingga lulus institut teknik terbesar di seberang mesjid Salman bandung, karir melesat jadi orang nomor satu dibawah menteri, mondar-mandir dalam dan luar negeri, cas-cis-cus dengan tenaga ahli yang pasti tak mengakui teori jin setan bisa bikin rumah susun 50 lantai dalam sehari.

Ck..ck..ck.. hari genee masih percaya dukun utk dapat langgeng jabatan ?
Hari ini percaya dukun untuk dengar wejangannya dibandingkan analisis resume beratus halaman oleh para staf ahli dan tenaga konsultan yg sudah dibayar mahal ?

Pejabat dukun sudah tak percaya lagi --even-- kepada titel S1/2/3 yang dibanggakannya dulu dan beratus seminar/lokakarya/training/penghargaan yg telah diikutinya.

Dulu saya percaya orang Jawa yg gemar beginian.
Ternyata sekarang lintas pulau juga, yg Jawa cari dukun Padang, yg Padang cari dukun Banten, Bugis cari Kalimantan, macam mudah nya ketik REG NASEHAT ke 9010 dll.

Mungkin pelakunya adalah orang2 yg terlahir dari dari era 50'an-60'an,
mungkin pelaku umumnya birokrat plat merah, pejabat karatan, tak berprestasi dll,
tapi di swasta, BUMN tetap saja ada ... niru artis yg pasang susuk biar laris.
Si pejabat gemar memegang kursi empuknya erat-erat.
Jadi memang ada :-(

Heran kan, masih banyak orang yg masih nggak senang lihat orang senang dan senang lihat orang susah:
Kirim santet untuk mempercepat selesai masalah,
masih untung tak dikirimi sniper plus karung, biar sekalian pesan peti jenazah,
kalau santet itu kan masih hidup hanya menderita saja.
Kirim bungkusan tanah, tulisan acak huruf Arab, paku, jarum karat, bubuk merica (dari zaman baheulak, masih nggak kreatif kan caranya),
Pakai pemanis tusuk sana tusuk sini, ditanam biar jadi "barang penjaga" juga katanya.

Kalau merasa mampu tunjukkan prestasi,
Kurang mampu silakan mundur, bantu yg jadi atasan baru,
Bukan main lost-lost, politik bumi hangus.

Mudah2an semakin sedikit pejabat dukun di negeri ini.

No comments:

Post a Comment