Dec 13, 2018

Berdebat di era Medsos (1)

Di era ramai orang dan bots memiliki akses ke medsos, maka semakin sukar untuk berdiskusi masalah sensitif seperti SARA dengan akal sehat dan lisan (via ujung jari) santun. Apalagi ada akun asli dan ada akun fiktif, ada akun yang pakai nama samaran, atau ada akun lama yg sudah diretas (hacked). Semenjak tiga tahun belakangan ini, medsos di Indonesia, bertambah seru dengan polarisasi fans yang dapat turun naik sesuai mood, berpindah dari satu kutub ke kutub fans lain, atau agen bayaran yang bermain "dua kaki" (double agent). Pemain dua kaki ini jelas punya niat khusus untuk merusak diskusi, menggiring opini (membela siapa yang bayar) atau mengadu domba.


Buat yang berani masuk ajang debat, modal nya adalah kesabaran, akal sehat, dan jaga kesantunan. Hindari berita bohong atau palsu karena jejak digital sukar dihapus. Niatkan semata untuk menampilkan kebenaran yang kita ketahui  dan bukan untuk menyerang pribadi. Apalagi kalau kita memakai lapak FB/IG/twitter orang lain untuk berkomentar.

Saya sendiri sudah membatasi diri utk komen hanya di lapak "Friends only". Terlebih khusus jika itu debat membawa Islam dan atribut" nya. Saya akan melayani debat dengan niat awal memberitahu apa yang saya tahu tentang sebuah pernyataan / perbuatan, insyaa Allah bagi yang membaca dapat tercerahkan dan tidak muncul komen" sinting atau miring lainnya. Apalagi jika yang dikomentari adalah forward atau shared posting dari penulis FB lain yang kebetulan nongol di lapak teman, maka saya tidak akan nekad mendatangi lapak sumber asli (si pemosting). Kenal dengan orang nya pun tidak, mengapa harus menghabiskan waktu di sana. Tidak jarang, kawan tsb akan meminta saya untuk memberikan komentar di lapak aslinya. Ini artinya sang kawan tak berminat layani diskusi, yasudlah case closed :-)

Usahakan komentar to the point dan tidak menyerang individu. Karena yang ingin diluruskan adalah pemahaman yang menurut Islam salah atau tidak patut atau wajar menurut kaidah etika/moral/sosial yang berlaku di tempat. Sedapat mungkin awali komen dengan memakai subjek "Bagi kawan" muslim ... begini lho yg saya tahu." Discuss on facts. Jika ada non-muslim komen atau agen" bots/dua kaki yang tidak jelas siapa mereka, hanya memancing di air keruh, diamkan. Ngomong koq nggak pakai dalil, kumur-kumur asbun saja itu, tak perlu dilayani atau terpancing emosi.

Seperti komen terakhir saya di screenshot sebelah:
Betul bro, begitu banyak ibadah yang mewajibkan syarat berakal. Jd kl nggk berakal, ya dpt dispensasi belum wajib beribadah.

Nabi Ibrahim as yg dpt mimpi menyembelih anak,
Nabi Musa as yg disuruh menggetok lautan dgn tongkat.
dll adalah contoh" iman didahulukan sebelum akal.


Insyaa Allah niat saling menasihati untuk kebeneran ini terjaga kemurniannya: agar kawan muslim pemosting tadi tercerahkan, para komentator" muslim di sana sadar, dan tak kalah penting thread diskusi tadi berakhir secepatnya. Berakhir cepat artinya komen" sampah akan berhenti, gunjingan berakhir, dan ini menghentikan dosa berdebat yang tak perlu.



Wallaahu a'lam bisshawwab.


No comments:

Post a Comment