Jun 4, 2008

Sinema Putri (Princess Theatre Bedok)

Tickets are much cheaper, more freedom for foods and drinks (no compulsory coke or popcorns), no cozy sofa but it is okay, no long queues hence cinema is usually empty (another freedom of coz), and you own the cinema since the viewers usually are neighborhood's guys and gals on the block :-) And another stunning fact is there always McDonald restaurant below for refreshment after the movie.

Hari genee di Singapura, masih ada juga bioskop dengan tarif murah dan info waktu tayang yang menggelikan. Hanya ditempel pakai potongan kertas putih dengan hari dan jam tayang yang ditulis spidol ... tentunya ini bisa diubah seenaknya dan tak bisa dipesan online di internet. Belum lagi info Chinese Subtitles dan Malay Subtils nya :-) Mengatur jam main nya pun mudah karena hanya ada 3 layar di sana. Seringnya bioskop ini sepi, sehingga penonton dimanjakan dengan kebijakan free seat dan tak perlu antri lama. Kualitas suara dan gambar cukup saja lah dan jangan protes kalau tiba2 AC mati atau ada yang buat keributan secara sengaja atau tidak he..he...

Tapi yang jelas, bisa nonton sambil mengenyangkan perut dengan menu yang disukai ... nasi lemak, epok-epok, burger ramly, fries sambil ditemani kopi-o, teh tarik, bandung atau ice kachang tanpa harus kembung makan popcorn dan air hitam coke. Karena harga tiketnya murah, bioskop ini bagus untuk dipakai menonton film-film yang tak jelas rating nya ... maksudnya tak menyesal gitu sudah antri panjang dan bayar mahal tapi film nya ancur !

Dulu, di Bedok ini ada kawan2nya, salahsatunya bioskop Changi. Bioskop ini fokus dengan film India, entah Hindi atau Tamil. Targetnya jelas yaitu pekerja kontrak dari Asia Selatan dan sebagian kecil penduduk Singapura dari ras Tamil atau Melayu yang tergila-gila dengan layar lebar Bollywood. Memang sih tak nyaman katanya nonton film di sini: gaduh, temaram, pengap, dan jadi sarang preman... . Alasan sampingan tentu saja karena kurang gengsi ! Akhirnya Changi direlakan untuk tutup tahun 1999.

Bioskop2 tua di Singapura seperti di Clementi, AMK, Marine Parade, Tampines pun bernasib sama, sudah berubah wajah menjadi tempat makan atau hiburan lain. Satu yang masih bertahan ada di lokasi Golden Mile Complex, tempat tamasya warga Thai, Vietnam, atau Myanmar. Kesimpulannya di tahun 2008 ini hanya Princess dan Golden yang masih bertahan diterjang demam sineplex semacam GV, Shaw, Cathay. Susah memang untuk bernostalgia di kota metropolis ini.

Herannya Ayat Ayat Cinta tak diputar di Putri, padahal Bedok pun populer bagi warga Melayu tempatan :-)

Jun 1, 2008

Masjid Al Ansar Singapore


Inaugurated on 11th Syaban 1401H or 14th June 1981 by Ahmad Mattar (Minister-in-charge of Muslim Affairs). The mosque was completed after 4 years of development.

Located at junction between three streets:
  • Bedok North Street 1
  • Bedok North Avebue 1
  • Chai Chee Street
According to qiblalocator, its location is recorded at 1.3269 (latitude) and 103.9265 (longitude), hence the Ka'bah is at direction 293.02N and 7290 km away.

This mosque is famous for Malay community living on the east of Singapore, especially those stay around Bedok North, Bedok South, and Chai Chee. The mosque committee conducts religious classes, kindergarten, and other interesting activities for young and adult muslim.

There are 4 storeys where the main prayer hall is on 3rd level. Women normally prays at 4th level. The main prayer hall capacity is about 600+ prayers (jamaah). In total, this mosque can host around 2500 jamaah at peak time especially Friday prayer or Iedul Fitr prayer.

On the main prayer hall's right front wall there is a big frame displaying al-Quranic verses from An Nur 20-27 while on the left front wall displaying Al Hasyr 18-24. At the center front, one gold-colored caligraphy painted on top of imam's place that is Al Hajj 77:

"O you who believe, bow down and prostrate yourselves. Worship your Lord and do good, in order that you prosper"

This mosque spend $900-1000 on water and $3500 - 4500 electricity bills monthly and get weekly income from Friday prayers infak about $3000 - 4500. More information can be read from here.

May 30, 2008

DRAM makers still going south in Q1 2008

Global semiconductor market revenue grew 3.3% in 2007, iSuppli says, lower than the firm's 4.1% estimate in November. For the quarter, semi revenues fell 0.5%, but were up 2.4% excluding memory.

Worldwide DRAM revenue fell 19.1% sequentially in the fourth quarter, below the November estimate of a 4.7% drop. NAND flash revenue declined 3.9%. Overall, memory chip revenue fell 11% sequentially. Many of the major DRAM and flash suppliers such as Qimonda, Elpida, Spansion, Powerchip and Nanya are no longer part of IC Insights' top 20 semiconductor ranking. DRAM-supplier Qimonda, whose nightmare continued in Q1 as the company dropped 10 positions from 19th overall in 2007 to 29th in Q1 based on a 52% sales decline year-over-year. Memory suppliers Hynix (9th place) and Micron (15th place) each fell two spots in the ranking although Micron reported a 2% increase in year-over-year sales while Hynix dropped 35%.

Sources:
Poor Memory Hampers 2007 Growth
iSuppli Corp, March 2008
Many major memory suppliers out of top 20 semi supplier ranking

May 25, 2008

Jadi Polisi Indonesia ... Cape Deh !

Lambang POLRI bernama Rastra Sewakottama yang berarti polisi adalah abdi utama rakyat. Visi mereka adalah menjadi pelindung, pengayom, pelayan masyarakat dan penegak hukum yang profesional dan proposional dalam menjunjung tinggi supermasi hukum dan hak azasi manusia. Tugas di atas mewujudkan elemen dasar yang amat dibutuhkan masyarakat yaitu keamanan.

Aman kapan dan dimanapun baik saat berkendaraan, berusaha, meninggalkan keluarga di rumah, berjalan di malam hari, beristirahat di taman, atau bersuara lantang sekalipun tanpa mengganggu orang lain. Bila ini terwujud maka ongkos hidup di Indonesia menjadi lebih "murah", tanpa harus bayar centeng (pengawal pribadi), satpam, hansip, satpol PP, alarm, gembok segede gaban di tiap pintu, dan pagar tajam yang tinggi. Karyawan dapat memakai kendaraan umum tanpa perlu naik taksi di malam hari atau naik KRL tanpa harus takut kecopetan. Pemilik warung dan kedai dapat buka toko atau kios hingga malam hari sehingga pemasukan bertambah dan karyawan yang pulang kemalaman pun masih dapat mengisi perutnya. Sarana umum seperti pot bunga, halte bus, pagar pembatas jalan, telepon umum, TV di kantor-kantor pemerintah, alat pemadam kebakaran, mesin ATM dll tidak perlu sering diganti/diperbaiki karena rusak atau perlu "dikurung" dalam kerangkeng tebal (trellis). Keran air, waschtafel, cermin toilet dapat dibiarkan tanpa takut dibongkar orang jahat. Anak-anak orang kaya dapat pergi sekolah tanpa perlu diantar naik mobil dengan sopir. Pokoknya, murah dan ekonomis baik dari anggaran belanja negara, anggaran pribadi, hemat BBM, dan tidak macet. Everybody is happy !

Namun kondisi di republik sekarang masih jauh dari harapan. Aura kebebasan yang kebablasan, ketidakpedulian, dan kerakusan orang-orang besar yang tak punya nurani di negeri ini telah membuat masyarakat membayar mahal untuk sebuah kata aman. Terlepas dari citra buruk yang telah melekat pada polisi yang disebabkan oleh ulah oknum atau kumpulan oknum, kita perlu merasa kasihan mengamati kondisi polisi Indonesia hari ini. Tentu yang paling menderita adalah mereka yang berpangkat rendah dan tentu saja berpendapatan paling kecil.

Ditambah lagi ketimpangan rasio jumlah polisi di Indonesia dengan jumlah penduduk total yaitu 1:1500 atau lebih kecil lagi. Artinya satu polisi mengawasi 1500 orang di negeri ini, padahal standar PBB menyebutkan standar ideal itu adalah 1:400 atau 1:300. Bener-bener cape deh ! Saya menonton lima gambar nuansa pagi RCTI Minggu pagi ini dan kesemua pilihan gambarnya memperlihatkan polisi yang berjibaku menghadang prengunjuk rasa karena kenaikan BBM 23 Mei 2008 kemarin.

Berikut adalah daftar kerjaan polisi yang benar-benar membuat letih di negeri ini:
  • Mengamankan demo mahasiswa (beserta oknumnya) atau LSM: kenaikan BBM, Pilkada, penggusuran tanah warga, dll.
  • Meredam kerusuhan akibat alasan sepele seperti kekalahan tim sepakbola, antar supir angkot yang tak kompak mogok, dll.
  • Melerai tawuran antar pelajar, mahasiswa, kampung, pendukung cagub/cabup/calur dll.
  • Memberantas pengikut aliran sesat, agama baru, dll.
  • Membubarkan aksi mogok buruh, supir angkot, dll.
  • Mengejar pelaku narkoba, sindikat uang palsu, obat palsu, pembajak DVD, dll.
  • Meringkus preman, pelaku perampokan, penculikan, pembunuhan, kekerasan dalam rumah tangga, dll.
  • Meringkus penimbun minyak tanah, sembako, dll.
  • Bersama satpol PP menggusur pedagang kaki lima yang tak punya izin, pemilik gubuk-gubuk liar, warung remang-remang, dll.
Memang dari poin-poin di atas sebagian besar adalah kewajiban polisi sesuai misinya, namun banyak hal di atas sebenarnya tak perlu terjadi kalau saja tokoh-tokoh negara kita dapat lebih arif, tidak ada koruptor yang membuat miskin negeri ini, sistem hukum yang adil dan tegak sesuai fungsinya, tidak ada LSM yang disponsori pihak asing untuk mengacaukan suasana, dan masyarakat yang peduli dan dapat berfikir dewasa. Bila hal-hal di atas tidak dapat dikendalikan dengan baik maka keamanan tetap merupakan barang mahal di negeri ini. Anggaran dan biaya lagi (dari uang kita yang ditarik lewat pajak) untuk korps polisi demi tujuan pembelian pentungan, gas pemedih mata, perisai/tameng, dana taktis untuk meredam kerusuhan, uang rokok/kopi, biaya pengusutan perkara, biaya sidang, biaya memperbesar penjara dll akan makin membengkak dari tahun ke tahun :-(

Ayat Ayat Cinta di Singapura


18 days review

Ayat Ayat Cinta (AAC = Love verses) yang diadaptasi dari novel laris karya Habiburrahman El Shirazy adalah film fenomenal anak bangsa pada seratus tahun kebangkitan nasional ini. Tayangan 126 menit yang mampu menyedot tiga juta penonton sinepleks-21 Indonesia dalam kurun waktu satu bulan saja. Belum lagi bagi yang memaksakan diri menikmatinya lewat DVD bajakan atau situs YouTube ... dan rela berulang kali meneteskan air mata menontonnya lagi dan lagi :-)

Melihat kesuksesan di Batam (terbukti beratus warga yang bermukim di Singapura antri tiket di sana, bahkan sampai rela menginap di hotel karena tak kebagian tiket hari itu), importir film Cathay dan Shaw Singapura pun tak mau ketinggalan untuk menayangkannya mulai 8 Mei lalu. Pokoknya rumah produksi MD Entertainment dan kang Abik (HES) panen untung dari hak siar dan hak cipta deh !

Don't judge the book by its movie

Satu minggu sebelum film naik tayang, pihak sponsor mengajak tiga pemeran utama AAC ke Singapura, mereka adalah Fedi Nuril, Rianti Cartwright, dan Clarissa Putri. Nah bagaimana pendapat mereka yang telah menonton film ini ?

Di lelaman Yahoo!Singapore Movies mayoritas beropini:
  • Yang paling disukai dari film ini: lokasi pengambilan gambar di Mesir, kisah mengharukan saat Aisha mengizinkan Fahri menikahi Maria, dan jalur cerita keseluruhan.
  • Yang paling dibenci: tokoh antagonis Noura, potret negatif tentang wanita yang mau diduakan.
Selama dua minggu lebih di Singapura, overall film ini dapat tiga bintang !

Kalau saya sendiri berpendapat, sebaiknya ulasan penonton ini dibagi empat kategori:
  1. Penonton yang sudah pernah baca novelnya
  2. Penonton yang belum pernah baca novelnya
  3. Penonton yang setelah menonton, ingin baca novelnya
  4. Penonton yang setelah menonton, tak merasa perlu baca novelnya lagi, entah biasa-biasa saja atau kecewa.
Penilaian yang lebih objektif sepertinya akan datang dari penonton kategori 2 dan 3. Penonton kategori 1 akan cenderung subjektif dan menyesal mengapa versi film jauh dari harapan atau imajinasinya saat membaca novel tsb :-) Singgah ke situs Asma Nadia yang cukup komplet mengapresiasi secara seimbang hasil karya Hanung B ini, tentunya dari penonton di tanah air. Asma menulis bahwa HES berhasil membuktikan bahwa novel Islam bisa sangat komersil.

Dengan persentase warga Melayu yang hanya 13.6% dari total penduduk di Singapura menurut statistik Juni 2007 maka sudah pasti penonton AAC di rantau ini tak bakal melampaui level psikologis satu juta penonton. Dengan asumsi mayoritas penonton terdiri dari:
  • orang Melayu (mulai bocah lima tahun sampai warga emas^ 80 tahunan) sekitar 400 ribuan
  • orang bukan Melayu namun serumpun semacam orang Indonesia dan Malaysia yang mukim di Singapura (mengerti bahasa Indonesia/Melayu): dengan asumsi optimis 80 ribu profesional dan keluarganya (SPR atau EP/DP), 75 ribu PLRT, 10 ribu pelaut, dan 10 ribu pelajar). Lihat demografi di akhir tulisan ini.
maka baru diperoleh sekitar 600 ribuan calon penonton. Angka ini tetap lebih rendah dibandingkan tujuh ratus ribu penonton di tanah air yang telah sukses kebagian tiket dalam empat hari penayangan AAC di bioskop.

Ah mana tahu warga dari ras non-Melayu pun sebenarnya ingin atau suka menonton film ini karena ada terjemahan bahasa Inggris (subtitle), jadi angka sejutaan mungkin dapat terlampaui, katakan kalau film tadi tetap ditayangkan selama 3 bulan ke depan. Sudah beberapa pihak penerbit dari negara asing yang membeli hak cipta novelnya sehingga angka 400 ribu eksemplar penjualan novel ini akan terus bertambah dan tentu saja pemutaran film nya juga. Semoga !

Sekilas demografi Singapura
Sebagai informasi jumlah penduduk Singapura (resident) terdiri dari warganegara (citizen) ditambah penduduk tetap (singapore permanent resident /SPR), total sekitar 3.68 juta jiwa. SPR menyumbang sekitar 9% dari jumlah tadi dan tiga perempatnya berasal Cina. Penduduk dikelompokkan dalam empat ras utama (Cina, Melayu, India, dan Lain-lain). Sementara jumlah non-penduduk ada sekitar 1 juta jiwa baik mereka yang masih berstatus orang asing (foreigner) maupun status lain seperti pemegang kartu kerja (employment pass /EP, working permit) atau kartu pelajar (student pass) plus istri dan anak kalau ada (dependent pass/DP). Dari 670 ribu pekerja non-penduduk di tahun 2006: 90 ribu pekerja dari mereka adalah profesional, 160 ribu PLRT (dari Filipina, Indonesia, Srilanka), dan sisanya adalah low-skilled workers dalam usaha konstruksi, buruh di kapal, buruh kilang dan jasa. Selain itu di tahun 2005 tercatat 66 ribu pelajar asing yang belajar di Singapura. Menurut Dubes Wardana, PLRT (domestic maid) dari Indonesia di Singapura yang tercatat bekerja di KBRI ada sekitar 75 ribu orang dan ada 10 ribu pelaut Indonesia yang biasa mampir sebentar di pulau ini saat bongkar muat atau tukar kapal. Tak tahu juga apakah jumlah PLRT dan pelaut itu sering diperbarui mengingat mungkin saja sudah ada yang pulang, ganti nama, atau ganti paspor baru :-)

Referensi:
^: warga emas = manula = senior citizen.
Data demografi diambil dari Statistic Singapore dan Migration Policy Institute
Jumlah PLRT dan pelaut dicatat dari tulisan Sabam Siagian di Straits Times (April 2007)
Ada 32785 WNI yang menetap di Singapura (SPR atau EP/DP) menurut sensus tahun 2000.