Aug 9, 2011

Doktrin Kebangsaan

Hari ini tepat 46 tahun usia kota ini. Nanti malam seperti biasa bakal ada puncak keriuhan di tengah kota dgn lagu, baris berbaris, pertunjukan pesawat tempur, dan ditutup dgn pagelaran kembang api yg dihadiri pembesar negeri, siswa sekolah SD, dan rakyat yg beruntung dpt undangan nobar (nonton bareng) National Day sekitar pukul 5 sore hingga 8 malam.

Berbeda dengan hari kemerdekaan 17 Agustus di tanah air dimana penduduk akan menyorakkan “Merdeka” sebagai ungkapan Selamat Hari Kemerdekaan, di sini 9 Agustus adalah Hari Kebangsaan dan masyarakat akan menyambut dgn ucapan Happy Birthday pada negerinya.

Awal bulan Agustus selalu ramai di dekat rumah kami. Sebabnya, lokasi rumah berdekatan dgn karang taruna atau pusat komunitas (CC/community center) yg selalu menjadi sentra kegiatan di daerah ini. Pasti ada satu hari makam malam warga bersama wakil parlemen, semacam syukuran tujuh belasan di RT/RW kita (sayangnya ini nggak gratis he..he..) dan ada satu hari dimana wakil anak2 TK/SD/SMP dan guru nya berkumpul utk merayakan hari kebangsaan versi mini ... berbaris di lapangan, mendengar pidato singkat, pertunjukan lagu/tari yg dipandu MC, dll. Biasanya peserta sudah tinggal datang saja krn seluruh persiapan sudah diadakan EO nya.

Nah kalau sudah tiba harinya, pengeras suara akan bergema mengantarkan lagu dan musik yg pasti familiar: dimulai dari Majulah Singapura dan lagu-lagu tema hari kebangsaan versi bahasa Inggris (yg selalu berbeda dari tahun ke tahun dan saya akui sulit diikuti orang dewasa apalagi anak-anak seusia TK/SD). Acara selanjutnya adalah lagu/tari baik dgn suara LIVE ataupun rekaman yg mengiringi anak2 TK/SD tadi beraksi.
Dress code nya merah atas, putih bawah, sambil membawa bendera. Acara hari kebangsaan dibuat menjadi acara wajib yg menarik. Dukungan dana yg kuat dari sekolah sehingga tak ada yg kelaparan atau letih krn wajib hadir di NDP, dan uniknya lagi ada libur tambahan utk anak-anak sekolah (setengah hari di hari H-1 dan libur penuh di H+1).

Spirit kebangsaan adalah
serious business di sini. Anak-anak sekolah dasar hingga menengah berkumpul tiap pagi di aula sekolah selama setengah jam atau lebih. Mendengarkan beberapa pengumuman dan yg terpenting selalu dilakukan adalah berjamaah menyanyikan Majulah Singapura dan mengucapkan sumpah warga negara. Tiap pagi, tiap hari sekolah, dimulai dari usia sangat muda alias golden age. Bayangkan, pastilah kedua pernik kebangsaan tadi (lagu dan sumpah) akan melekat kuat di ingatan mereka. Ini belum lagi dengan kewajiban anak sekolah untuk hadir di perayaan hari kebangsaan dan wajib militer 2 tahun bagi anak pria.

Mgkn para siswa itu tidak hafal per-se tiap kata,
mungkin 50% dari mereka akan tetap tak ingat liriknya hingga kapanpun,
mungkin 50% dari mereka setelah dewasa frustasi dengan kebijakan negeri, gagal mengejar cita, dan tidak menikmati kemajuan negeri ini,
namun modal dasar sudah ditanamkan sejak dini.

Memang tidak mudah menciptakan rasa bangga dan cinta tanah air hanya dengan olah suara monoton tiap pagi. Namun pendiri negeri ini telah berusaha dan doktrinasi tetap akan dilakukan. Saya tetap yakin salah satu pilar pertahanan keamanan semesta adalah melalui kebijakan yg tepat di sektor pendidikan. Bagaimana dengan negeri tertjintah ? Apa yg dilakukan pemimpin bangsa ku untuk mengenalkan rasa cinta tanah air sejak dini selain dgn wajib hafal Pancasila, hadir upacara senin pagi atau 17 Agustusan ? Hmm at least personil Cokelat pernah mencoba :-)




Tulisan terkait di sini.

Aug 8, 2011

Sisi Positif Sekolah Mahal


Tulisan ini berasal dari diskusi di milis Smandel90.  Sebuah thread terpanjang yg pernah kami diskusikan. Diawali posting mengenai peringkat SMU8 dalam UN 2010 dan 2011 diantara SMU  negeri dan swasta di Jakarta, lalu melebar ke isu SANGAT mahalnya Smandel kini.

Setelah tiga tulisan di awal tentang concern saya "Mengapa Smandel Harus Mahal", kini mari kita lihat keuntungan bersekolah di institusi yg punya sumber dana bueeesssaar:

Fasilitas !
  1. Lab nya (IPA, bahasa) bagus. Mau eksperimen sendiri silakan krn tiap siswa tak perlu menunggu giliran lama untuk mencoba instrumen ukur (krn alatnya lebih banyak). Perpustakaan lengkap (mungkin 24jam dapat diakses krn ada fasilitas online). Internet/wifi gratis, TV kabel utk menyimak berita-berita internasional, langganan koran/majalah teranyar semacam National Geographics, Science, Nature dll yg susah-susah gitu. Punya tanah sekolah yg luas, mgkn cukup utk 4 lap basket, 1 lap bola, 2 kolam renang ukuran 50x25m², gym dll.
  2. Guru lulusan S1/S2 yg dedicated, bahasa Inggrisnya lancar, caring, aktif membantu siswa utk sukses di kelas, dan last but not least kerjanya tak merangkap di tempat lain.
  3. Satu kelas diisi 20-30 siswa, disediakan asisten guru utk tutorial di luar jam sekolah.
  4. Info yg selalu up-to-date, misal beasiswa DN/LN, student exchange, homestay program dll.
  5. Akses ke berbagai lomba ilmiah, olahraga, seni di DN/LN dan sekolah dpt membiayai pengiriman siswanya ke event-event bergengsi tersebut jika terpilih sbg peserta/pemenang.
  6. Kerjasama dgn institusi penelitian, pendidikan di tempat2 lain terbuka mulus.

Ho..ho... macam sekolahannya harry potter saja  :-) Artinya sekolah 3 tahun di smp atau smu benar-benar  dimanfaatkan utk jadi peneliti, engineer, dokter, pengacara tingkat dunia, calon penerima nobel lauriate  masa depan ... BUKAN hanya utk sekedar lulus UN masuk sekolah/ptn impian.

Para siswa dari sekolah visioner ini lulus smu, hanya perlu waktu 3 tahun lulus cum-laude dari S1 dan tambahan 3 tahun lagi utk namatin S3 (except for medical/law schools ya). Terbayang kan anak kita lulus SD umur 12, lulus SMP umur 14, SMU 16y, S1 19y, S3 22y (program akselerasi dua tiga kali). Nikah dahh dengan mas kawin gelar doktor :-)

Siapapun akan setuju sekolah elit begini bayarannya PERLU mahal, guru-guru hebat, dan berasrama. Mengapa ortu atau anak mau masuk sekolah macam begini ? Jelas sj visi sekolah ini luar biasa. Kalau hanya ingin menghasilkan beberapa anak sejenius Arai, Lintang, dan Ikal tentulah tipikal sd/smp/sma di P.Belitong sudah cukup :-)


Dengan makin kuatnya permodalan sebuah sekolah (cash rich), ortu yg siap dan mau membiayai kegiatan-kegiatan anaknya (ekskul, overseas trip dll), dan jaringan alumni yg solid membantu almamaternya maka pamor sekolah itu akan terangkat. Hal ini juga terjadi pada institusi spt ITB, dimana saat ini mahasiswanya semakin sering terekspose sebagai peserta/pemenang dlm lomba-lomba ide/kreativitas di luar negeri. Kalau hanya mengandalkan SPP spt zaman kita dahoeloe, jiaah mana ada kesempatan studi banding ke luar negeri he..he.. Sebenarnya sekolah2 kristen di jakarta sudah terkenal dgn kualitas nya, saat ini pun  membuka kelas-kelas mahal. (bpk penabur, kanisius, sanur ... ) Namun kelas reguler nya tetap ada dan katanya tetap terjangkau. Hal yg sama juga dilakukan oleh sekolah2 terintegrasi (Islam Terpadu) dengan biaya sekolah yang alamak mahalnya krn memang semua nya diserahkan pada sekolah dan ortu siswa.

*****

Mnrt pendapat saya, pendekatan pemerintah era ORBA (masa kita 20 tahun dulu) sudah benar ada sekolah negeri dan swasta. Kita tak dapat juga mengadopsi sistem sekolah semacam di eropa barat, skandinavia, negeri komunis, negeri petrodolar di MEA dimana sekolah totally gratis atau bayar murah sekali. Pemerintah nya full funding krn jml penduduk yg sedikit, sumber penerimaan negara yg besar krn sumber alam atau penghasilan pajak dll. Singapura, Msia, Hkg, Taiwan masih memakai sekolah pemerintah dan sekolah swasta. Sekolah pemerintah biayanya terjangkau banget oleh 95% penduduknya, andai tak terbayar yah digratisin. NAMUN perlu diingat,kualitas pendidikan di sekolah pemerintah itu tak pernah abal-abal ! Lulus SD, Hasil O/A level siswa-siswi mereka juga bersaing dengan Top-10 sekolah swasta meski dari sisi rata-rata nilai jelas sekolah pemerintah belum dapat bersaing :-)


Sekolah2 swasta baru premium bayarnya, kualitas jelas ok, masuknya amat kompetitif (just top 5%, cream of the cream yg bisa masuk), guru-guru di sana ekstra keras bekerja nya utk maintain/increase the school performance, dll. Mengapa ortu mau kirim anak ke sekolah swasta ? Jelas krn mereka ingin SOMETHING EXTRA, mau training kepemimpinan, ingin anaknya ikut ekskul berkelas, mau punya sertifikat kelulusan yg diakui di LN (spt Cambridge O/A level, IB, dll) dan lomba seni/olahraga/iptek antar bangsa di luar negeri, orasi sekelas toast master, jebol kampus-kampus IVY league di US/UK/EU, dll. Jadi bukan krn HANYA belajar sesuai kurikulum sj yg membuat sekolah itu mahal. Belajar sesuai kurikulum, lulus, dan lanjut sampai Uni terbaik, sudah dapat dihasilkan oleh tiap sekolah seharusnya !

Tulisan ini saya buat sebagai kritik karena saya cinta almamater. Saya ingin agar lebih banyak calon siswa dari keluarga, kawan-kawan alumni, dan ortu yg cinta prestasi sejati utk dapat merasakan kebaikan dari sekolah-sekolah unggulan tanpa harus bingung biayanya.

*penulis adalah alumni_1990_dan_meneruskan_ke_itb

Mengapa Smandel Harus Mahal (3)


Tulisan ini berasal dari diskusi di milis Smandel90.  Sebuah thread terpanjang yg pernah kami diskusikan. Diawali posting mengenai peringkat SMU8 dalam UN 2010 dan 2011 diantara SMU  negeri dan swasta di Jakarta, lalu melebar ke isu SANGAT mahalnya Smandel kini.

Mungkin pendapat saya 88% salah.
Mungkin dgn INFLASI NILAI saat ini (bayangkan untuk masuk smandel saja perlu nilai UN rata-rata 9 koma sekian, saya dulu punya NEM delapan lebih setengah saja sudah mantap insya Allah masuk delapan),  calon siswa, ortu, dan guru harus berfikir keras bagaimana caranya agar kertas ujian si anak bisa ndapetin nilai minimal 9.5 per bidang studi. Mau cara jujur, bocoran kunci, atau contek massal, saya tak mau komentar. Tujuannya satu, menara gading sekolah favorit !

Akibatnya nilai tak murni lagi. Sehingga harus ada tes masuk khusus lagi,  potensi akademik lah namanya, tes bahasa inggris, dll.

Utk menikmati sekolah favorit calon siswa tidak hanya perlu pintar, namun beruang. Membayar mahal uang AC, uang perpus, uang lab, uang jalan-jalan atau pertukaran pelajar ke luar negeri dll. It doesn't make sense at all !  Anggaplah suhu rata-rata Jakarta sekarang naik 5 derajat celcius dibanding saya sekolah dulu ... Yah tinggal pasang ceiling fan 5 buah lagi di kelas he..he.. bukan beli AC yg mahal rekening listriknya itu.

But anyway ....
Ini salahsatu email fakta dari kawan di milis kami:

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

tahun ini anak saya yg pertama diterima di salah satu sman rsbi.. yg ini saya blm bisa komen krn belum ada pertemuan ortu-guru-komite sekolah utk mbahas segala sesuatunya termasuk uang pangkal, namun dlm wawancara ortu seblm anak saya sah diterima di sma ini, dibicarakan bahwa uang pangkal sekitar 12,5 juta rupiah (pasti bukan smandel dunk ya krn keknya taripnya jauh di bawah smandel, hehe).. harapannya siy masih bisa nego.. :D, SPP 350 ribu/ bulan, biaya utk buku sekitar Rp 700 ribu - 1 juta, kondisi fisik perpus bagus, kelas ber AC, ada program pertukaran pelajar ke luar negri dgn ongkos sendiri (Singapur kabarnya sdh tdk menerima program pertukaran pelajar ini lagi) & kalo keadaan sekolah sehari2 kata anak saya siy biasa aja, ga kepake juga istilah 'internasional'nya (baca: pengantar bahasa inggrisnya dlm penyampaian materi pelajaran).. ada bagus juga siy, anak saya pan gak jago bhs inggrisnya, ntar malah ga ngerti pelajarannya, hehehe

tahun ini pula anak ke dua saya diterima di salah satu SMPN SSN (full gratis),kecuali.. (mohon baca kisah selanjutnya ya..)

di sini anak saya masuk kelas bilingual (ada 2 kelas bilingual, 1 kelas max 24 orang) yg sebelumnya ada tes nya terlebih dahulu.. btw setelah masa MOS berakhir, selain kelas bili seluruh siswa di tes TPA lagi (kalau saya sih membacanya bahwa hal ini adlh sebagai bentuk ke-"tidak percayaan" pihak sekolah thd hasil UN.. UN bocor massal itu sudah rahasia umum ya.. harap maklum & sabar buat ortu yg anak2nya lolos UN dgn hasil belajar keras & jujur)

Kelas Bili ini ga gratis & dari hasil rembugan ortu dgn ortu pengurus kls bili (angkatan kakak kelas), disepakati bhw uang pangkal Rp 3 juta utk 3 tahun yg digunakan utk membeli AC, meja kursi kls bili/rsbi standar pemerintah, membayar honor guru native, merenov ruang kelas, karyawisata dll. SPP Rp 300 ribu/ bulan utk pengeluaran rutin seperti honor para guru ygmengajar di kls bili, biaya pemakaian listrik, pendalaman materi, dll


<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<


Sepertinya saya akan dianggap orang aneh ...
Dianggap melawan arus ...
Loe jual, gw beli ...
Ortu punya dana. Ortu siswa smandel sekarang amat mungkin alumni smandel 25+ tahun yg lalu, dan kini sudah sukses :-)
Kenyataannya di Jakarta (dan kota-kota besar di negara maju) memang begitu :-)
Bahkan di Amerika pun muncul "kesadaran" akan mahalnya pendidikan ini yg disebut education scam atau college conspiracy. Sebuah pengalaman sistem pendidikan di US yang membuat seorang calon siswa begitu mudah mendapatkan pinjaman uang dari bank utk sekolah yg kemudian ia harus bayar lewat cicilan setelah bekerja (plus bunga tentunya) selama bertahun-tahun.

Mau daftar ke mana lagi ?

Ke Bandung, masuk SMA3 Jalan Belitung juga udah 20 jeti, ke Taruna Nusantara di Magelang perlu 30 jeti (dan pisah sama ortu lagi) he..he..
Anak-anak yg awalnya hanya perlu bayar 2 jeti uang pangkal utk masuk ITB, sekarang harus bayar 20 jeti.
Padahal anak-anak nya yach "dia-dia" juga, sudah memang bibit unggul, mau bayar 2 jeti, 20 jeti, atau 200 jeti, tetap bakal masuk ITB !

Saya tak setuju bahwa calon siswa dan ortunya harus *tahu diri* dalam mencari sekolah. Lho  di sini masalahnya adalah jumlah sekolah *biasa* yang sudah berkurang krn beberapa diantaranya naik status. Mirip ceritanya dengan bus-bus reguler di Jakarta yg makin langka krn "saudaranya" diupgrade menjadi patas atau patas-AC agar operator bus dapat revenue lebih besar dgn memasang AC. Padahal tak semua penumpang perlu AC. Yg mereka perlukan ada transport yg memadai. Yg harus dilakukan pemerintah adalah membangun SMP/SMU baru di wilayah tsb.

Saya pun tak mendukung teori bahwa pendidikan harus mahal krn kehidupan kita sekarang lebih mahal. Berapa uang yg Anda belanjakan utk status hidup seperti handphone, kredit mobil, rokok, nonton, travel, dll, mengapa keluar uang utk pendidikan pelit amat ... itu kata mereka. Kenaikannya tak seimbang dan memang tak perlu dibuat melangit (baca hitung-hitungan di bagian pertama blog ini).  Menurut saya adalah hak tiap warga negara untuk mendapat pendidikan dengan harga wajar, termasuk hak dari siswa keluarga mampu/kaya. Anggaran pendidikan dalam APBN yaitu 20%, asal tidak bocor, jumlahnya lumayan utk mensubsidi pendidikan dasar dan menengah.



(mau kembali ke bagian :2:)

Mengapa Smandel Harus Mahal (2)


Tulisan ini berasal dari diskusi di milis Smandel90.  Sebuah thread terpanjang yg pernah kami diskusikan. Diawali posting mengenai peringkat SMU8 dalam UN 2010 dan 2011 diantara SMU  negeri dan swasta di Jakarta, lalu melebar ke isu SANGAT mahalnya Smandel kini.

Sedikit latar belakang ...
Menurut SNP (standar nasional pendidikan) yg diatur dalam PP 19/2005 pasal 11 dan 16, pendidikan menengah SMP/SMU negeri memilik beberapa wajah diantaranya RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional), SBI (Sekolah Bertaraf Internasional), SSN (Sekolah Standar Nasional), dan SP (Sekolah Potensial). Lalu ada dua tipe sekolah yg tidak merupakan tanggung jawab pemerintah spt sekolah franchisee asing dan sekolah asing (internasional) dimana lulusannya dapat mengantongi ijazah yg diakui di luar negeri spt Cambridge, Internasional Baccalaureate (IB). Empat jenis sekolah pemerintah memiliki hak pendanaan dari APBD/APBN, dan khusus RSBI/SBI berhak juga memungut iuran dari siswa krn statusnya tsb. Sekolah asing jelas MUAAHHAAL, krn mereka harus berdikari tanpa subsidi, sehingga tahu diri saja utk mengukur kedalaman dompet sebelum mendaftar :-)

Prakteknya
Biaya masuk sekolah pemerintah koq ikutan mahal, naik tiap tahun dgn alasan klasik inflasi atau subsidi direduksi, terutama bagi SSN/RSBI. RSBI/SSN beda dengan SP krn beberapa mata pelajaran yg dibawakan secara bilingual (bili). Ini artinya guru2 harus mampu berbahasa asing dan buku2 pelajarannya pun beda dalam mata pelajaran tsb. Entah dalam prakteknya bili itu benar dijalankan atau dinegosiasikan antara guru/murid mana yg lebih mudah. Tokh lembar ujian akhir, UN dan SNMPTN, tetap berbahasa ibu. Status tertinggi (SBI) sukar digapai  krn harus memiliki diantaranya jumlah minimum guru yg bergelar S2/S3, lab/perpus lengkap, memenuhi sertifikasi tertentu, aktif ikut kompetisi/lomba dalam/luar negeri, dan lulusan yg punya rata-rata UN SMU wah 8.0.
Mengapa siswa harus membayar mahal di sekolah PEMERINTAH yang bagus ?
Bukankah pada awalnya sekolah-sekolah tsb berstatus sama, sekolah dibangun dengan memperkirakan kebutuhan suatu wilayah dengan potensi jumlah siswa di sana. Peningkatan kualitas pengajar, manajemen,  dan fasilitas sekolah jelas akan membuat biaya operasional menjulang. Bilamana ada peningkatan ke status khusus bagi dua tiga sekolah (baca: harga premium) maka pemerintah wajib membangun dua tiga sekolah status potensial/standar (SP) untuk menampung mereka yang biasa-biasa saja di wilayah tsb. (Sounds very difficult, doesn't it).  Hari ini sekolah mandiri turut mencari biaya sendiri dan menjustifikasi anggaran tsb kepada komite sekolah dan orang tua siswa baru, dengan alasan krn sekolah memiliki fasilitas lab modern, perpus lengkap, internet, kelas ber-AC, ada program pertukaran pelajar ke LN, dll. Namun apakah setiap siswa memerlukan hal-hal ekstra tsb? Di kepala mayoritas siswa mereka hanya ingin: lulus SMP masuk SMU dan lulus SMU masuk PTN dengan nilai baik dan biaya terjangkau. Titik.

Dibandingkan masa saya dahoeloe

USD hari ini 5x lipat lebih mahal dibandingkan zaman saya masih sekolah di SMA palem tujuh setengah (ini sudah saya mark up he..he.). Berarti uang sekolah idealnya hanyalah Rp. 50rb per bulan, uang masuk Rp. 500,000 sekali (spp kami dulu Rp. 5000, pomg Rp. 5000 dan uang masuk lupa mgkn tak lebih dari lima puluh ribu). Buku, seragam, beli sendiri tan tak ada uang-uang lain. Anggaplah utk merasakan fasilitas canggih yg ada saat ini (dan tak ada masa saya dahoeloe) perlu markup 3x nya, berarti uang sekolah *hanya* Rp 150 rb per bulan (all-inclusive). Tapi sekarang, berapa SPP anak Smandel ? Di bagian pertama tulisan saya, bertemu angka SPP 700 rb rupiah sebulan, dengan asumsi gaji guru/pegawai di sekolah tsb ditanggung semuanya oleh siswa.

Ebtanas (UN) dan ujian masuk PTN itu dari dulu soalnya begitu-begitu saja. Nggak tambah susah !
Mengapa siswa sekarang harus belajar ekstra keras dari guru-guru bertaraf S2/S3 utk jebol PTN saja ? Guru-guru kami lulusan D3 Uni atau IKIP saja dulu, input bagus, outputnya bagus.

Mau ndapetin beasiswa dalam atau luar negeri jalurnya masih itu-itu saja.
Seleksi administratif, tes tulis, wawancara ...

Mau ndapetin TOEFL/IELTS tinggi, silakan ikut kursus di luar sekolah.
Saya yakin tak ada ortu atau siswa yg pede, hanya dengan ikut belajar bahasa Inggris di sekolah ssn/rsbi/sbi/ yg sudah bili itu, YAKIN bahwa toefl anaknya tembus 600. Pasti tuh anak masih disuruh lagi kursus di luar. Saya yakin bisnis bimbel-bimbel yg muaaahhhalll  itu, PASTI isinya siswa-siswi dari sekolah unggulan yang mahal ini juga.

Mengapa ??? Jelas, krn ortu punya uang dan ortu tak mau setengah-setengah ...
MALU kan sudah sekolah di SMU unggulan, masa' ITB/UI aja kagak jebol !
Akhirnya siswa dipaksa ikut masuk Bta/Ssc/Primagama dll.
Belum lagi ada ortu yg paranoid, nggak pede dengan kemampuan sang anak yg sudah diasih-asah-asuh di sekolah top plus les dgn guru plus bimbel mendorong anaknya masuk PTN lewat jalur mandiri yg sumbangan sukarela nya kelas pertamax-plus mahalnya. Masuk ITB jalur "rakyat jelata" saja sudah Rp. 55 jt, lha ini pakai jalur advance seat booking dgn Rp. 250 jt.
 Institusi pendidikan top jeli memanfaatkan peluang ini. Win-win menurut saya, orang kaya senang krn anaknya masuk sekolah yg diinginkan, institusi pendidikan pun dapat dana segar utk subsidi silang :-)

[bersambung ke bagian :3:]
[ingin kembali ke bagian :1:]





Mengapa Smandel Harus Mahal


Tulisan ini berasal dari diskusi di milis Smandel90.  Sebuah thread terpanjang yg pernah kami diskusikan. Diawali posting mengenai peringkat SMU8 dalam UN 2010 dan 2011 diantara SMU  negeri dan swasta di Jakarta, lalu melebar ke isu SANGAT mahalnya Smandel kini.

Sebenarnya saya pun tak paham mengapa biaya pendidikan high elementary seperti smp, smu negeri itu perlu mahal.
Apa uang praktikum nya ?
Apa biaya perpus, PLN, PAM, pemeliharaan ... ?
Apa gaji guru ?
Apakah sekolah top itu harus mahal ?
Studi kasus sebuah SMA dalam imaji:
Anggaplah gaji guru paling besar anggarannya.
Asumsi ada 10 kelas per tahun ajaran, jadi serempak ada 30 kelas running parallel.
Anggap ada 5 guru mata pelajaran per bidang studi.
Nah waktu saya SMA, ada 10 bidang studi, jadi ada 50 guru.
Misalkan ada guru-guru senior yg bekerja sebanyak 20 guru.
Pegawai tatausaha yg menjalankan administrasi 20 orang.
Officeboy, supir, satpam digenapkan 20 orang.

Sekarang hitung anggaran gaji dan pengeluaran tiap bulan spt yg disajikan tabel berikut.

Sumber Daya Manusia (SDM)
50 guru biasa @ Rp. 5jt
Rp. 250 jt
20 guru senior @ Rp. 10jt
Rp. 200 jt
Tatausaha @ Rp. 3 jt
Rp. 60 jt
Officeboy, supir, satpam
Rp. 30 jt
Sub Total SDM

Sumber Daya Sarana (SDS)
PLN
Rp. 20 jt
Air
Rp. 10 jt
Pemeliharaan
Rp. 20 jt
Biaya Ekstra
Rp. 10 jt
Sub Total SDS
Rp. 60 jt
Total SDM + SDS
Rp. 600 jt

Asumsi inflasi di kota besar adalah 12%/tahun, artinya harus sedia dana 606jt per bulan. Genepin dah dengan dana perayaan ini itu, tunjangan THR, sehingga menjadi 700jt. Sekolah menganggarkan dana operasi tujuh ratus juta rupiah sebulan ! Yang artinya sekolah sudah memiliki "tabungan" Rp. 94jt sebulan, yg di ujung tahun menjadi dana abadi setengah milyar + siap sebagai dana hari raya alias THR bagi 110 orang pengelola sekolah (asumsi gaji ke-13). Mudah-mudahan saya tak  menggembungkan dana tsb terlalu besar :-)
 

Sekarang mari hitung sumber penerimaan DARI SISWA saja.

Murid satu kelas 35 orang. Dengan adanya 30 kelas yg diajar per hari berarti total murid dipukul rata 30x35 orang. Keperluan Rp. 700jt tadi dibagi rata, sehingga didapat iuran SPP kurang dari Rp. 700 ribu per siswa. Lalu dibuatlah aturan subsidi silang agar tidak hanya orang kaya yang boleh sekolah di sini. Saya membayangkan ada siswa pintar kurang mampu yg bayar Rp. 100 ribu sebulan dan ada siswa sangat mampu yg bayar Rp. 1500 ribu sebulan. Rata-rata lainnya membayar Rp. 700 ribu.
  
Eitts tunggu dulu ... bgm dgn biaya bangunan ?

Maksudnya tuh gedung kan dibangun pakai DHUIIITTT !
Jika benar2 swasembada memang semua kudu urunan.
Katakan uang bangunan Rp. 10M, perlu dicicil 10 tahun, alias 1M per tahun.
Cicilan dibebankan ke wali murid baru, artinya 1M/(10x35) = 3jt per orang.
Katakan perlu ditambah bunga bank 12%/thn plus uang meja, uang bangku, dll ...
Persatuan Orang tua Murid dan Guru setuju angka dari langit, uang bangunan 5jt per siswa.
  
Nah di tahun ke-10 tentunya bangunan lunas (asumsi kalau sekolah negeri tanahnya gratis kan ...)
Jadi yg masuk tahun ke-11 bayar uang bangunan lebih ringan ...

Atau mau disamakan dengan tujuan subsidi silang atau penambahan ruangan kelas, lab upgrading, sport facility dll.
  
Kesimpulan:
Seorang siswa SMA hanya perlu bayar 5jt di awal + spp 700rb per bulan (selama 6 semester).
Atau agar tak memberatkan biaya bulanannya ... (utak utik sendiri lah ...), ia bayar uang awal 20jt + spp 100rb per bulan. 
Uang 20jt kalau mau dicicil selama 36 bulan jg boleh ... tapi bayar lebih dikit mak cik ...

Namun pada kenyataanya, calon siswa smandel membayar 3-4x lipat (atau lebih) untuk uang pangkal dan SPP bulanan yg mungkin hampir sama dengan prediksi di atas alias Rp 700 ribu per bulan. Smandel masih  sekolah pemerintah, dimana sebagian besar gaji/tunjangan guru berasal dari negara.
Mestinya lebih murah lageeee.... kan ?


Do I miss something here ???



[bersambung ke bagian :2:]