Mar 21, 2014

Allahumma shayyiban naafi'an

Ya Allah jadikan hujan yang turun ini membawa manfaat.

Ini doa yang biasa diucapkan pertama kali saat hujan mengguyur tempat kita. Selanjutnya diiringi dengan doa-doa lain yg diperlukan.

14 Maret lalu MUIS menganjurkan shalat istisqa di keseluruh masjidnya usai shalat Jumat. Tepat seminggu lalu saya ikut shalat istisqa pertama kali dalam hidup saya. Masih dalam ingatan pulang Jumatan minggu lalu itu luar biasa panas teriknya. Berjalan dari mesjid ke halte bus sekitar 10 menitan, meleleh dan bau asap pembakaran hutan (haze) sangat terasa. Memang sudah dua bulan tak turun hujan dan penduduk di seberang pulau pun masih membakar hutan sawit secara ilegal.


Mengusahakan Pulang Awal

Tiga hari yang lalu poster ini saya baca di status FB kawan, hmm memang benar :-)


***

Namun realisasinya tak mudah. Saat memiliki anak-anak yg sedang aktif dan lucu seperti saat ini, saya tak dapat mencapai kantor di pagi hari sebelum jam 10. Jam resmi kantor adalah 9 hingga 5:30 sore dan alhamdulillah departemen saya menerapkan waktu fleksibel. Fleksibel dalam arti waktu kerja per hari adalah delapan setengah jam dan rentang waktu antara jam 10 hingga 4 sore adalah waktu penting dimana seorang pegawai perlu ada di kantor. Di luar itu bebas mengatur nya, antara rapat, komitmen pekerjaan, dan kecukupan waktu per minggu.

Mar 8, 2014

Kala Uang Kurang Berarti

Awal September saya pulang kampuang untuk waktu yang teramat singkat, kurang dari tiga hari. Tiba Sabtu siang jam 3 dan sudah harus berangkat kembali Senin pagi jam 8. Hanya untuk menjemput Elwis dan DuoS kembali ke Singapura. Tak banyak waktu kosong, apalagi sudah beberapa minggu tak kumpul dengan keluarga, pastinya ingin melepas rasa rindu di rumah sj :-) Sampai Sabtu sore itupun, DuoS masih agak bingung bertemu saya. Shalih agak berani mesti senyum nya masih ditahan dan harus dipeluk agar mau duduk di pangkuan. Sementara uni Shalihah, masih khawatir bahkan untuk bertatap wajah dan membalas senyuman. ...

Memang ini bahaya long distance relationship (LDR) dengan bayi kurang dua tahun ... bisa cepat lupa mereka he ...he..

*****

Minggu pagi saya bilang ke Elwis akan pergi bercukur rambut. Langganan biasa di Pasar Ateh Bukittinggi. Namun siang itu langit mendung dan saya agak malas ke sana karena agak jauh. Sejam dua jam bakal habis. Bimbang antara pergi ke tempat biasa di Pasar Ateh atau cukup pangkas di pasar Padang Luar yang lebih dekat dari rumah. Saya belum pernah bercukur sebelumnya di Padang Luar ini. Berbekal hanya "kata orang ada kedai cukur di sana" dan pernah sekilas melihat kedai-kedai kecil tsb dari atas kendaraan, akhirnya saya putuskan ke Padang Luar.

Ada tiga kedai di sana dengan lokasi yang berpencaran, mulailah saya survei satu persatu. Karena itu hari Minggu, antrian panjang di dua kedai pertama, mungkin ada empat hingga lima orang yang menanti giliran. Mulai hati bergetar, " ... coba saja tadi ke Pasar Ateh, servisnya sudah saya kenal, antrinya pendek karena tukang pangkas lebih banyak. Tanpa mau menuruti kegalauan hati, saya tempuh kedai terakhir yaitu kedai ketiga yang lebih dekat ke tepi jalan raya Padang-Bukittinggi yang ramai kendaraan itu. Ternyata hanya ada tiga orang di sana: tukang pangkas, seorang yang sedang dilayani, dan seorang kakek yg sedang duduk di kursi panjang. Belakangan saya tahu rupanya kakek tsb hanya menumpang duduk di sana. Kesimpulannya, hanya perlu menanti satu pelanggan saja :-)

Yes, dalam hati, tak pakai lama nih.

Saya duduk di kursi papan panjang lain berhampiran dengan kursi sang kakek. Tersenyum dan menyapa secukupnya. Saya periksa saku celana dan kemeja, waduh HP tak terbawa. Hmmm ... surat kabar pun tak ada di dalam kedai sempit beratap triplek rendah berukuran 2x4 meter itu. Langit mendung kini sudah menitiskan titik-titik air di luar. Mobil, motor, bus, dan truk berat bergantian lewat menggetarkan kedai berdinding papan yang saya baru sadar hanya beralaskan semen dan ditutup terpal plastik tipis seadanya itu.

Hanya ada dua kursi bercukur dengan kualitas apa adanya di sana sementara tukang cukurnya hanya seorang. Ia terlihat mahir bekerja. Cermin kaca lebar ada di depan dan ada juga di atas dinding belakang (tipikal kedai cukur). Sound system (cd/vcd) dengan pengeras suara besar hitam tampak di samping meja cukur. Atap kedai dari seng dan tripleks yang di beberapa tempat banyak bolong dan tampak sudah sering terkena rembesan bocor. Bocor juga merembes ke dinding kedai yg terbuat dari papan sehingga sisa-sisa air menghitamkan pojok-pojok yang dilalui ulah kebocoran itu. Di lantai berserakan rambut-rambut sisa potong pelanggan dan ada satu papan nama "kuno" yang sudah tak terpakai tergeletak di pojokan dekat pintu masuk.

Alat-alat yg dipakai sederhana khas kedai cukur pinggir jalan. Entah mengapa tiba-tiba saya merasa geli untuk meneruskan bercukur disana dengan alasan alat-alat yang dipakai kurang higienis (jangan bilang untuk standar Singapura yah he...he..). Sensor cela ...

Haha... rezeki tukang cukur yg memang harus saya antar siang itu. Can not be missed ! Uang mungkin ada berlebih di dompet dan sanggup membayar layanan di tempat yg jauh lebih baik. Namun uang banyak itu tak berarti. Di luar hujan, hari sudah siang, dan saya tak mau kehilangan banyak waktu. Padang Luar - Bukittinggi di hari Minggu terkenal akan macet dan taksi adalah barang langka di sini. Pasrah ... berdoa untuk dapat hasil cukur terbaik. Alhamdulillah selesai juga dengan kualitas yg baik dan selembar sepuluh ribuan lusuh berpindah tangan. Urusan bersih-bersih dapat dilanjutkan di rumah nanti dengan mandi :-)

*****

Itulah yg terbaik bagi saya saat itu. Tak perlu komplen, mission accomplished alias tugas selesai. Itulah rezeki yg kadang lupa saya syukuri. Mungkin saya punya ekspektasi terlalu tinggi karena faktor umur, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, keuangan dll ... namun manusia hanya berencana, berikhtiar, dan Allah Swt yg mencampur semua parameter tadi menjadi sebuah hasil yg harus saya terima pada detik itu dan tempat tersebut.

Masih untung masih ada tukang cukur. Seandainya ada berlembar seratus ribuan di dompet pun tak kan berguna jika saya tak bertemu kedai cukur yang dapat melayani saya saat itu juga dan bukan satu atau dua jam kemudian. Kebutuhan saya terpenuhi. Tak heran di kala barang langka, orang-orang rela membayar berkali lipat harga sebuah barang untuk mendapatkannya. Berapapun dibayar asalkan barang itu ia dapat.

Bersyukurlah jika tak harus bertemu kondisi itu terlampau sering :-) Musim kemarau panjang sehingga sukar diperoleh sayur-sayuran dan buah-buahan. Musim hujan dan badai sehingga nelayan enggan ke laut sehingga harga seafood meroket bahkan tak ada stok. Hari raya China membuat udang dan daun bawang menghilang di pasar. Hujan tak turun berbulan-bulan sehingga bekalan air terpaksa dikurangi atau penyalaan listrik bergilir yg disebabkan level air di PLTA merosot di musim kering.



Mar 7, 2014

Mensyukuri yang Pas

Ada keinginan, ada barang, pas ada uang
Saya setuju banget dan tentu banyak orang pun setuju. Berapa kali pernah kami alami, di saat ada kebutuhan seperti saat kelaparan di suatu tempat atau kesulitan alat transport: uang ada, namun tak ada penjual makanan atau sama sekali tak ada kendaraan umum yg lewat (dan penderitaan bertambah lengkap karena batere handphone lemah dan tak bertemu telepon di sekitar untuk memanggil taksi). Situasi dapat dibuat lebih runyam dengan malam gelap dengan guyuran hujan lebat :-(

Dengan bertambahnya usia saya dapat menambahkan satu komponen lagi pada pernyataan di atas khususnya dalam mencari barang.
Ada keinginan, ada barang, pas ada uang, dan tak pakai lama
Tak pakai lama ini sebuah gabungan maksud. Barang yang diperlukan itu mudah dicari, sesuai ukuran/warna/spesifikasi ..., sesuai anggaran (budget untuk kualitas yang diinginkan), dan memang tak perlu waktu banyak untuk deal (baca: mendapatkannya). Komponen waktu ini kritikal menurut saya karena tanpa disadari tenaga dan waktu sering terkuras untuk menemukan barang yg pas tsb. Hitung macet jalan menuju ke mall tsb, pegal berjalan mencari toko di dalam mall, ongkos kendaraan, waktu luang terkuras, dll, sementara barang belum di dapat.

Mengapa kejadian de-ja-vu ini berulang kali terjadi ?

  • Ekspektasi yg tak jelas karena belum tahu keinginan vs kebutuhan.
  • Kurang riset mengenai objek yang dicari.
  • Fokus terpecah kepada beberapa alternatif yg belum tentu lebih baik atau penawaran diskon dari merek/model lain. Apalagi jika SPG/penjaga toko punya motivasi lain untuk menawarkan alternatif tsb.
  • Tak pandai mengatur (adjust) ekspektasi jika ternyata objek yg dicari tak ada stok, ternyata harganya sudah naik, warna yg dicari tak ada, ada cacat minor yg baru diketahui dll.
  • Tiba-tiba muncul prioritas atau pertimbangan teknis lain sehingga negosiasi perlu dilakukan. Jika sudah menyadari hal ini sejak awal , kita tak perlu terburu-buru memutuskan untuk mencari hari itu juga.

Pengalaman di lapangan membuktikan kadang kita perlu mengeluarkan tenaga/uang sedikit lebih agar mendapat kepuasan yg lebih optimal, datang tepat waktu, atau barang yg lebih baik spesifikasi atau mutunya. Tak jarang jika kebutuhannya tak mendesak, kita dapat menunggu pada waktu yg agak lama misalnya satu bulan, satu kuartal, atau bahkan satu tahun.


Bagi kaum pria, untuk mencari barang-barang yg sudah umum seperti baju, celana, sepatu dll tentukan budget di awal, baru berburu. Sangat mudah untuk bertahan dengan prinsip ini. Tuju tempat yg sudah biasa dan temukan di sana. Hargapun tak jauh berbeda atau biasanya malah sama saja jika yang dicari memang barang standar dan bukan stok lama. 

Apa gunanya ada diskon lebih jika ternyata ukuran sepatu tak sesuai kaki Anda, ada diskon besar namun tetap di luar anggaran yg dibuat, tergiur fitur-fitur wah yg tak diperlukan atau akan jarang dipakai, minat membeli krn promosi, hadiah dll.






Feb 25, 2014

How to Get a Job at Google

LAST June, in an interview with Adam Bryant of The Times, Laszlo Bock, the senior vice president of people operations for Google — i.e., the guy in charge of hiring for one of the world’s most successful companies — noted that Google had determined that “G.P.A.’s are worthless as a criteria for hiring, and test scores are worthless. ... We found that they don’t predict anything.” He also noted that the “proportion of people without any college education at Google has increased over time” — now as high as 14 percent on some teams. At a time when many people are asking, “How’s my kid gonna get a job?” I thought it would be useful to visit Google and hear how Bock would answer.

Don’t get him wrong, Bock begins, “Good grades certainly don’t hurt.” Many jobs at Google require math, computing and coding skills, so if your good grades truly reflect skills in those areas that you can apply, it would be an advantage. But Google has its eyes on much more.

“There are five hiring attributes we have across the company,” explained Bock. “If it’s a technical role, we assess your coding ability, and half the roles in the company are technical roles. For every job, though, the No. 1 thing we look for is general cognitive ability, and it’s not I.Q. It’s learning ability. It’s the ability to process on the fly. It’s the ability to pull together disparate bits of information. We assess that using structured behavioral interviews that we validate to make sure they’re predictive.”

The second, he added, “is leadership — in particular emergent leadership as opposed to traditional leadership. Traditional leadership is, were you president of the chess club? Were you vice president of sales? How quickly did you get there? We don’t care. What we care about is, when faced with a problem and you’re a member of a team, do you, at the appropriate time, step in and lead. And just as critically, do you step back and stop leading, do you let someone else? Because what’s critical to be an effective leader in this environment is you have to be willing to relinquish power.”

What else? Humility and ownership. “It’s feeling the sense of responsibility, the sense of ownership, to step in,” he said, to try to solve any problem — and the humility to step back and embrace the better ideas of others. “Your end goal,” explained Bock, “is what can we do together to problem-solve. I’ve contributed my piece, and then I step back.”

And it is not just humility in creating space for others to contribute, says Bock, it’s “intellectual humility. Without humility, you are unable to learn.” It is why research shows that many graduates from hotshot business schools plateau. “Successful bright people rarely experience failure, and so they don’t learn how to learn from that failure,” said Bock.

“They, instead, commit the fundamental attribution error, which is if something good happens, it’s because I’m a genius. If something bad happens, it’s because someone’s an idiot or I didn’t get the resources or the market moved. ... What we’ve seen is that the people who are the most successful here, who we want to hire, will have a fierce position. They’ll argue like hell. They’ll be zealots about their point of view. But then you say, ‘here’s a new fact,’ and they’ll go, ‘Oh, well, that changes things; you’re right.’ ” You need a big ego and small ego in the same person at the same time.

The least important attribute they look for is “expertise.” Said Bock: “If you take somebody who has high cognitive ability, is innately curious, willing to learn and has emergent leadership skills, and you hire them as an H.R. person or finance person, and they have no content knowledge, and you compare them with someone who’s been doing just one thing and is a world expert, the expert will go: ‘I’ve seen this 100 times before; here’s what you do.’ ” Most of the time the non expert will come up with the same answer, added Bock, “because most of the time it’s not that hard.” Sure, once in a while they will mess it up, he said, but once in a while they’ll also come up with an answer that is totally new. And there is huge value in that.

To sum up Bock’s approach to hiring: Talent can come in so many different forms and be built in so many nontraditional ways today, hiring officers have to be alive to every one — besides brand-name colleges. Because “when you look at people who don’t go to school and make their way in the world, those are exceptional human beings. And we should do everything we can to find those people.” Too many colleges, he added, “don’t deliver on what they promise. You generate a ton of debt, you don’t learn the most useful things for your life. It’s [just] an extended adolescence.”

Google attracts so much talent it can afford to look beyond traditional metrics, like G.P.A. For most young people, though, going to college and doing well is still the best way to master the tools needed for many careers. But Bock is saying something important to them, too: Beware. Your degree is not a proxy for your ability to do any job. The world only cares about — and pays off on — what you can do with what you know (and it doesn’t care how you learned it). And in an age when innovation is increasingly a group endeavor, it also cares about a lot of soft skills — leadership, humility, collaboration, adaptability and loving to learn and re-learn. This will be true no matter where you go to work.

MF