Monday, October 05, 2009
Ada Serasa Tiada
Misalnya, siapa sih yang begitu serius mengingat dan merawat peniti miliknya, benda kecil yang bisa didapat selusin dengan harga hanya seribu rupiah? Hilang satu atau terbuang dua bagi kita tak jadi masalah. Bahkan kita pun kerap lupa menyimpannya di mana. Dia baru jadi masalah yang bikin pening kepala ketika di tengah kegiatan tiba-tiba tas sobek, sendal jebol, kancing copot atau saat jilbab sudah menempel di kepala sang peniti ini tak kunjung bisa kita temukan.
Ada serasa tiada bisa muncul karena beberapa sebab. Pertama karena sesuatu itu tidak berhubungan langsung dengan kepentingan kita lantas kita merasa tak tak perlu serius memikirkannya. Contoh saja soal Palestina. Banyak orang berdalih, buat apa mikirin Palestina nun jauh di sana, bahkan sampai berdemo segala, toh masalah dalam negeri Indonesia sudah sedemikian banyaknya ?
Mungkin kita terlupa bahwa Hadits riwayat Nukman bin Basyir ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling kasih, saling menyayang, dan saling cinta adalah seperti sebuah tubuh, jika salahsatu anggotanya merasa sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam. (Shahih Muslim)
Kedua, karena kita menganggap remeh keberadaan sesuatu itu sehingga tak sungguh-sungguh memperhatikannya. Ambillah contoh pembantu rumah tangga. Karena dia cuma pembantu rumah tangga, sering kita lupa memberinya kelayakan hidup sebagaimana manusia umumnya menginginkannya. Bukan hanya kita menganggapnya tak perlu hiburan dan liburan, bahkan seringkali ketika satu keluarga berpergian dengan kerennya sang pembantu mengiringi dengan gaya 'berani tampil beda', baju lusuh dengan padu padan seadanya. Padahal Rasulullah telah mengingatkan, Pelayan-pelayanmu adalah saudara-saudaramu. Allah menjadikan mereka bernaung di bawah kekuasaanmu. Barangsiapa saudaranya yang berada di bawah naungan kekuasaannya hendaklah mereka diberi makan serupa dengan yang dia makan dan diberi pakaian serupa dengan yang dia pakai. Janganlah membebani mereka dengan pekerjaan yang tidak dapat mereka tunaikan dan jika kamu memaksakan suatu pekerjaan hendaklah kamu ikutt membantu mereka (HR Bukhari).
Ketiga, karena merasa begitu terbiasa dengan kehadirannya sehingga abai untuk memperhatikannya. Misalnya saja terhadap anak. Ya benar, anak tanpa sadar sering dilabelkan ada serasa tiada. Kesibukan mengejar dunia, harta, jabatan, maupun ilmu pengetahuan seringkali membuat hubungan kita dengan anak menjadi hubungan minimalis yang bersifat praktis. Urusan makan, pakaian, dan sekolah mungkin saja lengkap terpenuhi, tapi senda gurau curhat keluarga dan beragam ekspresi cinta bisa jadi semakin pudar intensitasnya.
Keempat, karena kita menganggap sesuatu itu bukan tanggung jawab kita sehingga tidak menjadi urusan kita, Maka bertebaranlah di sekitar kita anak yatim yang putus sekolah karena tak ada biaya. Dan seribu janda fakir yang terengah susah saat mencari sesuap nasi. Begitu pula jutaan kaum dhuafa yang tak mampu berobat meski sakit mendera hebat.
Anak memang menjadi tanggung jawab orang tua, suami, atau walinya dan seorang rakyat adalah tanggung jawab pemerintahnya, tetapi kita sering lupa bahwa, “Semua kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang imam (amir) pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Seorang suami pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang istri pemimpin dan bertanggun jawab atas penggunaan harta suaminya. Seorang pelayan (karyawan) bertanggung jawab atas harta majikannya. Seorang anak bertanggung jawab atas penggunaan harta ayahnya (HR Bukhari dan Muslim).
Ada serasa tiada nyatanya memang ada di tengah kita. Namun semasa masih ada waktu, inilah saatnya kita memperbaiki diri. Wallahuálam. (disalin apa adanya dari tulisan sahabat: Zirlyfera Jamil, (c) UMMI 2008).
Tuesday, September 29, 2009
Menyampaikan dengan Bahasa Yang Dimengerti
SETIAP menjelang Lebaran, kita selalu disibukkan oleh penentuan kapan tanggal 1 Syawal jatuh. Karena penanggalan Islam memakai sistem lunar, tanggal baru dihitung setiap terlihat munculnya bulan baru yang berbentuk sabit dan hanya muncul beberapa detik di atas cakrawala. Sederhana, tapi karena terdapat banyak pendapat tentang bagaimana menentukan bulan itu terlihat atau tidak, masalah jadi pelik.
Ada yang cukup dengan menghitungnya di atas kertas dengan bantuan ilmu falak (astronomi), ada yang mewajibkan melihat dengan mata telanjang. Sebagian menganggap seluruh bumi Lebaran jatuh pada hari yang sama, yang lain mengatakan pasti terjadi dua hari, karena menurut ilmu astronomi, perbedaan letak geografis menentukan terlihat atau tidaknya bulan sabit di cakrawala.
Biasanya, perdebatan ini diakhiri (meski belum tentu disepakati) dengan pengumuman dari Badan Hisab Rukyat Departemen Agama. ”Berdasarkan hisab dan rukyat yang kami lakukan, hilal telah tampak sekian derajat di atas ufuk, maka 1 Syawal jatuh pada esok hari,” demikian pengumuman itu.
Bagi kebanyakan orang, kalimat itu tampak rumit, agak susah dimengerti. Kalimat singkat itu penuh dengan jargon yang diserap dari bahasa Arab: hisab, rukyat, hilal, ufuk. Padahal kata-kata itu bisa diterjemahkan menjadi kalimat yang sederhana dan gampang dimengerti: ”Berdasarkan perhitungan dan penglihatan yang kami lakukan, bulan sabit telah tampak sekian derajat di atas cakrawala, maka 1 Syawal jatuh pada esok hari.”
Entah mengapa para ulama dan pemuka agama Islam mempertahankan kata-kata bahasa Arab yang tidak akrab bagi masyarakat itu dan mengapa mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia yang lebih dimengerti. Jika memang tujuan pengumuman itu untuk mengumumkan sesuatu yang penting bagi umat, sistem komunikasi tentu bisa disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana agar bisa dipahami.
-- ini sebagian dari isi artikel dalam kolom Bahasa! ( Tempo edisi cetak 27/09/2009) oleh Qaris Tajudin di link ini
Budaya Memberi Tips
Tulisan ini pernah saya tampilkan di dua milis sekitar setahun yang lalu. Pada intinya apakah konsumen itu ikhlas memberikan tips karena rasa puas atau hanya karena terpaksa oleh keadaan. Teringat untuk menampilkan tulisan ini di blog setelah satu tahun berjalan.Pulang lebaran kemarin ada beberapa kali saya memakai taksi untuk beberapa keperluan. Pertama kali saat tiba di Jakarta hari H-4, langsung kami menuju agen jasa Laks Transport di terminal 2-D bandara Sukarno-Hatta. Sejauh ini layanan taksi ini paling dapat diandalkan, harga ekonomis all-in dan pelayanan petugas di kaunter baik. Mereka klaim tarifnya paling murah dibandingkan jasa taksi serupa di bandara (seperti silver bird, golden bird, dll). Untuk wilayah rumah ortu kami di Cipinang masih masuk ring-1-Jakarta, jadi tarifnya Rp. 130 ribu bila memakai Avanza, 150 dengan Nissan Livina, atau 175 dengan Toyota Altis. Armada mobilnya baru dan bersih dengan supir yang taat peraturan dan ramah ! Tak perlu repot siapkan uang tol atau uang kecil karena sudah termasuk dalam tarif dan pembayaran langsung dilakukan di kaunter bandara, dapat memakai uang tunai/kartu debit/kartu kredit. Begitu mudah dan ekonomis. Memberi tips bagi supir saat tiba di tujuan sudah lumrah karena puas dan diiringi ucapan terima kasih.
Pada kesempatan berikutnya kami panggil taksi (biasanya Bluebird group yang terkenal masih pakai tarif atas meski harga bbm sudah turun he..he..). Kadang pesan lewat telpon atau stop di jalan. Pelayanannya baik, supirnya hafal jalan, dan mobilnya terawat, ... namun ada satu cacat yang mungkin tidak dilakukan oleh tiap supirnya. Hal tersebut adalah "kepolosan" pak supir mengatakan "... maaf tak ada uang kembaliannya neeh". Lha setahu saya ini kan trik supir-supir taksi nakal dari armada taksi yang warna-warni itu ! Mengapa pihak pengelola taksi tidak mewajibkan supir2 tsb membawa pecahan Rp. 1000 dan Rp. 5000 (mungkin juga sekarang dengan Rp. 2000) setiap kali mereka memulai perjalanan (rit) ?. Selama ini kami masih dapat menerima jika uang kembalian masih dibawah Rp. 4999. Supir yang "baik" masih mau memberikan Rp. 2000 untuk kembalian yang seharusnya Rp. 3500 (sejauh ini belum pernah bertemu supir yang bela-belain cari kembalian pecahan Rp. 500). Tapi ada juga supir Bluebird yang bandel yang memaksa kita menerima uang kembali apa adanya, padahal kita sudah cari pecahan uang kecil agar bulat uang kembaliannya, misalnya ongkos Rp. 87000, kami bayar Rp 107000 agar uang kembalinya Rp. 20000. Pak supir ngotot mengembalikan Rp. 10000 dan mengambil selembar merah 100 ribu (artinya ia dapat ekstra Rp 3000).
Memang contoh di atas belum serusak kasus penumpang yang seharusnya membayar Rp 23 ribu tapi "terpaksa" bayar Rp. 40 ribu karena pak supir mengaku baru dapat satu penumpang dan ia hanya membawa uang Rp. 10 ribu untuk uang kembalian (sang penumpang menyerahkan selembar biru 50 ribu). Atau contoh lain dimana si penumpang merelakan uang ekstra yang berlipat-lipat ongkos taksinya karena pada saat itu ia hanya punya selembar seratus ribu :-( Apess... dan penumpang memang harus siap dengan uang pas !
Perlu diingat dengan menerapkan tarif atas, harga jasa taksi di Jakarta tidak lebih murah dibandingkan di Singapura dengan kualitas kenyamanan yang lebih baik ... dan uang kembali yang pas :-) Apa banyak penumpang merasa uang kembali di bawah Rp. 5000 itu layak diabaikan dan membuang-buang waktu menunggu pak supir mencarinya. Lha ini preseden buruk untuk membuat supir taksi memakai trik-trik yang sama di masa depan.
Ok, intinya saya masih bingung dengan "memberikan tips". Apa ini baik utk dibudayakan, berpahala karena termasuk sedekah, atau justru mengajarkan budaya mark-up service (uang pelicin) secara tak langsung utk sebuah jasa yang semestinya dilakukan.
Contoh-contoh lain:
(2) Biaya kurir/tukang pos/antar tiket
- Sudah tugas tukang pos untuk mengantar paket ke rumah, tapi si penerima memberi tips sbg uang lelah.
- Sudah ditulis dalam TOC bahwa servis kurir itu door-to-door tapi diberi tips kepada petugasnya.
- Sudah dijelaskan bahwa agen tiket menyediakan pengantaran tiket ke rumah gratis, tapi diberi uang rokok juga.
(3) Uang jasa
- Sudah jelas tidak ada biaya utk pengurusan bebas fiskal di bandara. Namun karena urusan kita terasa lancar dan mudah, tanpa banyak tanya ini itu (malah terkesan membantu), di akhir berita acara petugas pajak tsb kita beri tips.
(4) Pak ogah
- Perlu tidaknya pak ogah di persimpangan atau putaran arah ? Karena terbiasa, yah beri juga deh cepek.
(5) Parkir modern
- Meski sudah jelas bayar parkir secara elektronik di pintu keluar tapi tetap memberi Rp. 1000 untuk pak satpam yang sudah membantu kita masuk/keluar lajur parkir di dalam gedung. Padahal pak satpam nya tak minta lhoo ..
(6) Jalan rusak, sumbangan sukarela
- Ini tidak jelas dan atas inisiatif siapa ? Koq pengendara mobil dimintai bayaran untuk menikmati jalanan rusak. Biaya perbaikan jalan tentunya diperoleh dari pemerintah setempat dong :-)
Jika dicermati kasus demi kasus memang uang tips itu seringkali wajar apalagi jika diiringi keikhlasan maka insya Allah bernilai sedekah. Ada tips karena kita puas, karena pelayanannya ramah, karena kita merasa terbantu dan "sang penolong" tak berharap apa-apa, ada juga yang sudah otomatis tergerak untuk berbagi rezeki mengingat tarif jasa di negeri kita untuk para pekerja kerah biru ini masih amat rendah.
Bagi saya, tips diberikan tidak dengan terpaksa dan perlu diiringi lisan bahwa saya puas atau senang dengan jasa yang telah berikan (baik kepada supir, asisten parkir, petugas bebas fiskal, kurir dll). Intinya si pemberi jasa juga perlu tahu atas dasar apa ia menerima tips. Tentunya kita berharap si pemberi jasa akan dapat tetap melayani dengan baik di masa-masa datang dan bukannya hanya saat diberi tips saja.
Tindakan memberi tips yang tidak diiringi kesadaran si penerima dapat berakibat buruk yaitu terjadinya pemerasan secara halus atau turunnya kualitas pelayanan jika tidak ada uang tambahan. Lebih buruk lagi tindakan memberi tips yang "sengaja" dilakukan cukong atau preman yang ingin usaha/bisnisnya lancar. Tidak heran kalau kita masih melihat oknum/cukong yang mendapat "perlakuan istimewa" saat di bandara, kantor polisi, imigrasi, dan kantor2 pelayanan pemerintah lainnya. Cukong ini sudah menanamkan ranjau (kasarnya: menyuap para petugas) sehingga mereka terlena dan tidak tahu bahaya laten dari hal tsb. Koruptor dapat kabur dari penjara atau lolos ke luar negeri kan semua berawal dari "uang tips" yang berlebihan yang terkenal dengan nama sogok.
Contoh memberi tips terpaksa lain adalah pungli. Baik dilakukan oknum petugas ataupun yang dilakukan preman kampung atau terminal yang minta uang keamanan dari tiap supir mikrolet yang lewat di kampungnya atau supir bajaj/taksi yang mangkal di dekat supermarket yang ramai. Uang keamanan ini juga biasa dibayar pedagang kaki lima liar ataupun pengusaha resto/dugem resmi agar usaha mereka tidak diganggu. Besarnya tips tentu bervariasi tergantung kelas okunum/premannya. Sudah tak terkira banyaknya anak istri yang terpaksa nrimo dihidupi dengan rezeki yang tak berkah ini.
Nah dari contoh2 di lapangan tadi apakah wajar budaya memberi tips dilestarikan di negeri kita ? Amat disayangkan pada saat penerima jasa memberi tips ia tidak menegaskan alasan mengapa tips tsb diberikan dengan alasan/dampak yang sudah dikemukan di atas. Ini sama sekali tak ada niat utk pelit ya... Bedakan suap dengan tips dan tidak memberi tips dengan pelit :-)
Saya lihat di beberapa negara maju (terkecuali AS yang membiarkan budaya tips) tidak ada pelayan atau pemberi jasa yg menanti tips tadi. By default, mereka laksanakan tugas, kita tanda tangan (confirmed, approved sesuai berita acara, faktur) dan mereka segera pergi. Rasanya mereka ingin segera menyelesaikan pekerjaan berikutnya daripada membuang waktu beramah tamah dengan Anda apalagi menunggu tips. Jangan memulai memberikan tips di Jepang karena kita akan dianggap menghina si pemberi jasa.
Mungkin ini sebabnya POS Indonesia dan sejarah kurir semacam Titipan Kilat yang sudah berpuluh tahun usianya tertinggal jauh dari saudara2 mudanya di luar negeri spt Fedex, UPS, dll. Ini juga sebabnya mengapa penyedia jasa kendaraan umum mengeluh penerimaan mereka tergerus pungli setiap hari. Dan ini pula sebabnya para penanam modal asing merasa enggan masuk negeri ini jika mereka tidak mendapat kepastian hukum berusaha dan perlindungan keamanan dari pemerintah setempat. Kalau memang pengelola usaha merasa tarif jasa terlalu kecil maka naikkanlah biaya tsb dan lebihkan pendapatan untuk pekerja-pekerjanya. Jangan sampai si pelaksana (kurir, tukang cuci mobil, supir dll) membedakan pelayanan yang sudah disepakati harganya dari awal.


