Dec 12, 2012

Shalih Mustaqim

Kata inyik, nenek, tante, dan oom di Jakarta, wajah si boy boy ini mirip Papa nya. Ternyata pernyataan tsb memang ada fakta nya dari arsip sejarah :-)

Doa kami semoga lebih baik ya, Amiin.

Sebenarnya banyak ekspresi yg lebih mirip namun susah ambil momen yg pas


Nur Shabira Shalihah

Ini baby girl yang suka sibuk dan aktif sendiri. Motorik yg dinamis, mimik nya beragam, dan teriakannya power. Kalau belum mengantuk tak ada capeknya, bergerak, merayap, mendaki. Ck...ck...ck yang melihat uni yg jadi capek :-)

Adik Shalih banyak belajar dari uni nya. Kasihan tadi pagi 12.12.12, saat merangkak di tikungan, kejedot sudut dinding :-( Semoga benjol nya cepat sembuh ya nak dan lebih berhati-hati dalam beraktivitas.


1-3: Apaan sih niy di balik sprei, krsek..kresek kalau uni lagi merayap
4-6 Hmm ada baby walker utk objek keingintahuan ... dekati ahh..



DIY @ Home (3): Now for DuoS

Yes, this third episode of DIY @ Home is special for me. I did it for our first twin, Shalihah and Shalih. It has been more than 8 months now since we got this IKEA baby cot. Now the twin is very active and we need some safe protection to control their roaming :-) This cot bed base can be placed at two different heights. I need to shift it down so baby can stand on it and play inside.

Morning time before 7 am, when the twin still sleep, DIY starts. Rule of thumb of DIY never lies: Precision, Determination, and of coz the Right Tools are what I need to accomplish the mission.

Let see how strong it can last. Insya Allah DuoS like it and play safe inside.





Nov 17, 2012

Haji dan Ikhlas

Hingga hari ini dan bahkan sampai hari akhir pun tetap masih ramai orang, baik muslim atau non-muslim, yang heran atau ngotot bertanya mengapa untuk ibadah haji ke tanah suci itu perlu biaya mahal. Perdebatan berlaku di ranah intelek maupun di warung tegal cum kaki lima. Mereka selalu menuding pemerintah atau pemilik bisnis (hotel, travel, jasa boga dll) di Arab Saudi yg membuat harga tsb super mahal hanya untuk kepentingan pribadi semata. Mereka heran begitu banyak orang tak mampu secara finansial yg amat ingin pergi namun tiada biaya, sementara mereka yang kaya ulang alik pergi ke sana tanpa merasa ada yang salah dgn sistem ini semua. Bagi warga yang tak percaya Tuhan atau kawan non-muslim akan berargumen mengapa untuk bertemu Tuhan begitu susah dan mahal.

Ritual haji yang sudah ada sebelum Islam dikenal 1430 lebih tahun yg lalu memang sudah menantang. Medan dan alam yg keras. Panas, berdebu, sukar air, dan perjalanan yg ditempuh berpulu hari dengan unta bagi mereka yg tinggal "di sekitar sana". Spt yg saya masih baca kisahnya dalam karya2 Prof. Hamka (alm), 100 tahun yg lalu, muslim di Asia Tenggara ini naik kapal ke sana yg memakan tempo hingga satu bulan bila lancar dan laut bersahabat. Ada yg meregang nyawa di tengah laut padahal sudah bulat tekad utk menghampiri Ka'bah atau mereka yg tak sempat kembali ke tanah air karena kapal karam di lautan sepulang haji. Jauh bedanya dari sisi waktu dengan perjalanan hari ini yg lumayan cepat "hanya" 10 jam dengan pesawat terbang.

Namun dalam pandangan saya tetap ada dua hal yg konsisten dari masa ke masa. Niat dan modal. Niat itu utama, ia lah yg mengerahkan seluruh modal utk menyukseskan ritual ini. Modal hadir dalam berbagai rupa: keuangan, kesehatan, dan waktu, dan ketiganya perlu dalam kondisi prima sebagai definisi MAMPU. Mengenai kata mampu (istata'a) ini sebagaimana yg difirmankan Allah Swt dalam Qs ali Imran (3:97) "... mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah...". Terjemahan versi Depag menambahkan bahwa mampu di sini adalah sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalananpun aman.


Haji 1428 (Nov-Des 2007)
Bagi yang mampu artinya tiada paksaan bagi yg belum atau tidak memenuhi. Tujuannya jelas adalah Baitullah bukan tempat (kota, negara) lain. Apakah hanya di Baitullah (tanah haram atau tanah suci) seorang muslim dapat bertemu atau meminta kepada Tuhan Nya atau doa hamba dikabulkan ? Tentu saja tidak. Sampai sini sudah jelas ketiga poin ini:
(1) Haji hanya bagi mereka yang mampu.
(2) Haji hanya ada di tanah haram Makkah dan Madinah.
(3) Seorang muslim dapat shalat dan berdoa di mana saja.
Dari poin (1) dan (2) di atas pentingnya KEIKHLASAN dalam berhaji. Mampu menurut saya juga termasuk kemampuan meingkhlaskan hati utk pergi ke sana, mengikhlaskan uang yg dikumpul bertahun2 utk ke sana, bahkan mengikhlaskan nyawa berpisah dgn badan apabila Allah Swt berkehendak. Ritual haji sangat jauh berbeda dengan tamasya / tur untuk bersenang-senang. Hati perlu ikhlas untuk "berbaur" dengan setiap kemungkinan situasi dan kondisi yg terjadi pada saat ritual berlangsung. Badan yg lelah, suhu panas, dan kesesakan jamaah kadang membuat hati mudah marah. Pelayanan yg tak memuaskan, jadwal yg tak terkendali, kecopetan, salah arah dll sangat mungkin dan biasa terjadi.

Jadi IKHLAS kah kita ? Sebuah perjalanan yg memakan biaya yg tak sedikit. Waktu yg harus disisihkan hingga kadang mencapai 40 hari, berpisah dgn keluarga, pekerjaan, kesempatan yg tertunda/hilang. Kesehatan ambruk selama ritual atau sepulang haji. Paket tur ini memang lebih mahal dari 40 juta rupiah. Biaya tsb belum termasuk harga keikhlasan :-) Mereka yg pernah berulang kali umrah ke tanah suci tidak akan gegabah berkata kami sudah sangat berpengalaman dengan medan/suasana di tanah suci sehingga tak perlu khawatir dgn segala tantangan / kesulitan dalam berhaji. Sangatlah berbeda antara umrah sunnah dan haji. Namun jangan khawatir, hingga hari ini saya belum pernah dengar / baca ada jamaah haji yg pulang dari sana, protes / marah / stres / gila macam caleg (yg merasa ditipu, sudah keluar modal milyaran) gagal terpilih, karena kecewa dengan pelayanan / pengalaman haji yg ia lakoni :-)

*****

Haji memang barang mahal.
Di luar angka korupsi dan keuntungan pelaksana jasa haji.

Hotelnya mark up semua, high demand limited supply (sebuah hukum ekonomi biasa). Tinggal di hotel 4 minggu lebih ... minimal hotel kelas melati dua di jakarta saja sudah 200 ribu semalam (peak season).

Pesawat bawa penumpang searah doang ... SIA (SQ) saya tahu kenakan biaya Rp. 20 jeti lebih utk pp Singapur -> Jeddah. Okelah jamaah Indonesia naik yg budget airlines ... bayar 1/2 nya alias 10 jeti.
.
Uang saku utk jamaah 1500 Riyal ... nah sudah 4 jeti (ini utuh balik ke jamaah).

Beli kambing utk bayar dam (if he/she has to) ... 2 jeti.

Transport full-AC airport <-> hotel, transit, selama ritual haji (apalagi yg perlu shuttle bus krn pondokan haji jauh dari masjid), medinah-makkah trip 700 km ... 1 jt.

Admin ... 1 jt.

Hitungan bandar di atas = 28x200r + 10j + 4j + 2j + 2j = 24 jeti ... mah lewat.

Kecuali jika pemerintah arab saudi mengizinkan jamaah sebagai backpacker tourist ... nggak pakai hotel, makan cari sendiri, luntang lantung macam bule jalan jaksa dll.

Jadi 30 jeti plus plus itu really makes economic sense for 30-40 days overseas trip tanpa kelaparan he..he.. ANDAIKATA pemerintah sudah menabung alias investasi sejak dulu beli tanah/hotel utk pemondokan di dua tempat Makkah dan Madinah, mgkn kita bisa berhemat biaya haji. Tentunya jika diizinkan si pemilik tanah/negara. Namun terbayang juga biaya utk merawat hotel-hotel besar tsb (utk kuota 200 000 jamaah) setiap tahun, meskipun ia dapat disewakan di luar bulan-bulan haji. Mengharapkan pemondokan di dekat masjid (radius hingga 2 km) tetap akan memerlukan biaya yg terus meningkat krn persaingan dari tiap penyelenggara haji yg berebut ingin di sana.

Labbaik allaahumma labbaik !

Nov 4, 2012

PertamaKali: Ke Jakarta (Ciek)


Akhirnya penantian itu berakhir. Harap-harap cemas dan gali informasi sana sini terjawab sudah. Rabu 24 Oktober 2012, diiringi rintik-rintik pagi, kami berangkat awal jam 8.30 menuju Terminal 3 Bandara Changi. DuoS sudah punya tiket bareng Papa Mama nya untuk menumpang GA827 terbang ke Jakarta jam 11:25. Alhamdulillaah pagi itu Shalihah dan Shalih sehat, sudah mandi, minum susu, dan yg terpenting ... kompak. Shalih masih leyeh-leyeh mengantuk sehingga rebahan lagi di karpet mainnya, sementara uni Shalihah sudah rapi wangi standby di dalam baby walker.


Pengalaman pertama tentunya cukup heboh bagi kami. Mulai dari mengatur isi koper, pesan taksi, dan yg tak kalah penting amunisi minum bayi dan diapers di ransel. Kalau dihitung sejak meninggalkan rumah, akan lebih dari 6 jam perjalanan ini. Paling cepat tiba di Jakarta jam 12 WIB lalu taxi ke rumah inyik. Berarti asupan minum untuk dua kali. Keluar rumah saat supir taksi sudah menelepon di area parkir bawah, diiringi tetangga kami (mak cik dan pak cik) dan kak Eva. Koper besar satu, koper kabin satu, ransel bayi satu, dan tas sandang dokumen yg berisi paspor dan tiket. Mendung terus menaungi taksi sepanjang expressway menuju bandara.

Belum ramai calon penumpang pagi itu dan kami langsung checkin awal di counter Garuda. Kedua tas dimasukkan ke bagasi dan saya pesan agar si kembar dapat deretan kursi yg memiliki bassinet. Entah apapun itu bentuk dan ukurannya, petugas checkin menjelaskan bahwa GIA yg ke Jakarta ini bertipe 737-800 yg bodi nya tidak lebar, sehingga tak ada kursi penumpang yg dilengkapi dengan bassinet. Hmm ... tidak spt penjelasan yg saya terima saat pesan tiket. Petugas hanya memberikan kursi ekonomi deret terdepan yaitu baris nomor 5 di lajur kanan (E dan F). Mengenai makanan bayi jg sudah disediakan meski kami belum tahu bakal diberi apa :-)

Usai proses checkin stroller DuoS didorong untuk menuju gerbang imigrasi. Foto bbrp petik untuk kenangan sebentar lalu menuju counter imigrasi. Di sini pun tak ramai, alhamdulillah lancar urusan.


Berhubung masih ada waktu sekitar 2 jam kami mau duduk-duduk sebentar sambil memandang pesawat-pesawat parkir.

Akhirnya kami cari tempat dgn viewing angle yg uenak dan banyak kursi kosongnya. DuoS masih leyeh-leyeh di dalam stroller yg parkir. Namun kasihan jg melihat mereka di dalam terus, mulai lah saya keluarkan gantian satu persatu :-) Foto-foto lagi, ngobrol dgn mama nya, mengawal keduanya lompat-lompat  atau tiduran di sofa. Pokoknya enjoy the moment lah. Sampai akhirnya, saya sadar sudah masuk boarding time dan jam di tivi informasi keberangkatan menunjukkan LAST CALL (45 menit lagi). Lha... cepat sekali waktu berlalu.Ternyata menuju ruang boarding sangat jauh ! ... tak diperhitungkan sebelumnya bahwa GIA ini  parkir diujung terminal 3. Mulailah kami berlari-lari kecil sambil mendorong stroller ke tujuan. Mana sempat window shopping lagi, lagipula deretan ruang boarding melulu di kiri kanan jalan, dan untuk mempercepat langkah kami harus pakai travelator. Duuh ... saat itu mana terpikir mau cari shuttle train di mana, padahal sudah disediakan.

Pyuuuh ... masih ada waktu.

Benar saja setiba di ruang boarding yg luas di pojok itu (krn ada bbrp gate digabung satu) kami adalah satu dari lima (mungkin) penumpang terakhir. Pakai periksa keamanan pula terhadap barang bawaan dan ... baby stroller. Untung saja DuoS mau diajak kompromi utk terkadang "lepas" dari pandangan kami karena stroller mereka terlalu lebar untuk masuk pintu scan :-(  Heran juga pagi itu, barisan penumpang yg masuk pesawat sudah sedikit. Sesuai ulasan saya di awal tadi, penumpang tak ramai dan mereka sudah hadir di sana sejam atau lebih sebelumnya. Jelas saja pihak maskapai mengumumkan last call :-)

Selesai imigrasi, masuk pemeriksaan boarding pass, langsung kami berjalan menuju belalai pintu  pesawat. Masih dengan nafas memburu. Alhamdulillah stroller boleh dibawa hingga pintu pesawat. Di dekat pintu sebelum masuk saya minta tolong salah seorang mbak ground staff untuk menggendong Shalih krn saya harus melipat stroller. Sekali lagi DuoS menjalaninya dengan tenang. Good boy, Good girl !

Sampai di dalam pesawat, kursi lajur 5 di sebelah kanan. Ada sedikit masalah bahwa saya dan istri harus duduk terpisah.

What is the matter !

Alasan pramugari, hanya ada tiga pipa oksigen di atas tiga kursi penumpang di deret tsb (5D/E/F), sementara kalau kami duduk di sana diperlukan lima pipa O2. Di deret 5 kanan itu sudah ada seorang penumpang kl tak salah ingat. Jadi dia akan duduk bareng istri dan Shalihah. Sementara saya harus duduk di deret 5 kiri (5C). Waduh mana enak jika begini. Untungnya saat itu banyak seat kosong di dalam. Kami negosiasi dengan pramugari dan penumpang di sebelah Elwis saat seluruh penumpang sudah masuk pesawat.  Alhamdulillah boleh pindah dan kami kini bisa duduk berempat. Saya dan istri pasang seatbelt duluan lalu baru seatbelt untuk DuoS, yg ternyata dibelitkan ke seatbelt orang tua nya.

Selesai urusan gonta ganti kursi, datang lagi satu pengumuman dari pramugari. Ternyata menara kontrol Changi belum membolehkan GA827 tinggal landas. Trafik penuh sementara dua runway sedang dalam perbaikan hari itu. Pesawat kami dipaksa menunggu 30 menit atau lebih :-( Duh tadi sudah senang bakal berangkat tepat waktu. Kami perhatikan wajah anak-anak. Mereka masih ketawa-tawa dan duduk berdiri sambil tangannya mencoba meraih apapun yg ada di dekatnya. Sempat foto bareng pramugari pula :-) Cemas, krn 30 menit bukan sebentar dan berdiam di dalam burung besi di bawah terik matahari pagi (o ..ya hujan sudah reda dan berganti terik matahari hampir tengah hari). Alhamdulillah lagi-lagi si kembar pengertian dan waktu yg dijangka 30 menit tadi ternyata lebih pendek. Mulailah terasa pesawat mundur dan membelok menuju jalur taxi. Oo, Shalih pun sudah 5 watt dan benar sj saat taxi sepuluh menitan itu ia tertidur. Uni Shalihah masih ON.

Berbekal air minum di botol kembar, kami memberi minum uni Shalihah saat pesawat benar lepas landas. Untuk Shalih, ia tetap nyaman tidur ! sehingga saya putuskan tak perlu diberi apa-apa. Memang dari apa yg saya baca, bayi itu paling bagus pada kondisi tidur saat pesawat lepas landas atau mendarat. Pendakian yg mulus, nyaman bagi siapapun. Shalihah juga santai dan akhirnya tertidur bbrp saat sebelum hidangan tiba :-)

Ada tidak enaknya duduk di deretan terdepan (berhadapan dgn dinding pembatas dgn kelas bisnis ini), tray makanan bukan dari sandaran kursi depan melainkan dari tangan kursi sebelah kiri. Harus dikeluarkan dari sana. Artinya tempat kami menjadi sempit krn posisi kami memeluk/menggendong bayi. Namun yg namanya perut lapar dan menu Garuda yg oke punya membuat seluruh halangan tadi tiada berarti. Sikat habis ... apalagi DuoS pun masih dpt tidur pulas saat Papa Mama nya mengisi bekal. Hanya uni Shalihah yang terjaga sebentar dan disuapi apple puree dalam botol kecil yg diberikan pramugari (it is what they call baby food).

Tak terasa kota Jakarta sebentar lagi terlihat. Pramugari pun sudah sigap mengemasi nampan-nampan hidangan dari penumpang. Cuaca cerah dan panas di luar. Shalihah sudah terjaga duluan dan sekarang lagi injit-injit menapak di karpet pesawat, tangan-tangan mungilnya mengacak-ngacak kantong majalah di depan. Saat pendaratan siap dimulai saya peluk lagi si uni dan berikan botol air minumnya. Kmdn roda pesawat benar-benar menapak di landasan, suara mesin meraung keras untuk menahan laju pesawat, di saat itulah Shalih ngucek-ngucek mata terbangun dari tidur satu jam nya. Assalaamu'alaikum Shalih, kita sudah mendarat di Jakarta nak ... seperti biasa dengan senyum lebar Shalih merespon salam tsb.

Saat pesawat bergerak pelan menuju tempat parkirnya tak terasa pikiran dan perasaan menerawang jauh. Mengingat masa-masa pendaratan di Jakarta selama dua belas tahun sebelum hari ini. Benar-benar beda. Sebuah pengalaman baru sangat terasa. Bila dulu, saya turun pesawat sendiri atau berdua, kini alhamdulillah tim lengkap berempat. Kl dulu ingin grasah-grusuh ingin keluar duluan dengan segala macam jinjingan dari dalam kabin, kini kalau bisa jinjingan tak ada dan perlu menggendong bayi. Turun pun sengaja ditunda sampai agak sepi dan tidak lupa menanyakan stroller DuoS di pintu keluar. Segala puji syukur ke hadirat illahi, kami mendapat rezeki dan kesempatan untuk dapat menapak di tanah air kembali membawa dua cahaya mata ini ... Saya berdoa saat itu agar Shalihah dan Shalih dapat beradaptasi dengan baik (makanan, minuman, udara, lingkungan, orang-orang baru di sekelilingnya) di Jakarta.


*********

Pengalaman tidak mengenakkan langsung menyambut saat GA827 taxi di bandara Soeta Jakarta, Elwis sudah curiga karena pesawat makin menjauhi pondok-pondok boarding room yg biasanya. Ternyata benar saja kami diturunkan di tengah-tengah landasan dan sudah tampak bus-bus berbadan lebar penjemput. Apa boleh buat, usai menuruni anak-anak tangga pesawat di siang yg cukup panas itu, saya minta baby stroller ke salah seorang petugas. Mgkn krn tidak biasa atau belum tahu prosedur pria itu mengatakan stroller diambil bersamaan dgn bagasi. Ah mana mungkin stroller itu kan ikut naik ke dalam kabin saat berangkat tadi. Untung saja staf lain lebih cekatan dan memberikan stroller yg saya minta entah darimana diambilnya :-) Ia membantu jg menaikkan stroller tadi ke bus penjemput. Saya menggendong Shalih dan Elwis bawa Shalihah. Pintu bus menutup setelah bbrp penumpang lain ikut naik juga.

Saya bersiap untuk sesuatu yg buruk di depan tapi masih ada harapan.

Biasanya usai turun bis ini kita akan masuk sebuah pintu dan lanjut naik tangga ke lantai berikutnya. Tidak ada eskalator ! Saya berharap ada petugas bandara di sana. Bus berhenti, semua penumpang akan turun, tapi tak ada seorang pun wajah petugas saya lihat di sana :-( Ooh ! Alhamdulillah, ada seorang penumpang wanita muda yg berbaik hati membawakan stroller si kembar turun bus ... dan juga ia angkat naik anak-anak tangga hingga tersedia eskalator di lantai berikutnya. Tak sempat kami berkenalan dan hanya ucapan terima kasih dan senyum yg tulus untuk mbak-mbak yang baik itu. Padahal ia pun punya barang jinjingan dan cukup terhuyung membawa stroller 12 kg an tadi.

Selepas peristiwa tadi, urusan lancar. Toilet, imigrasi, tunggu bagasi, scan tas bagasi lancar. Jam itu memang tak banyak pesawat masuk dari luar negeri. Keluar pintu kedatangan langsung saya pesan taksi LAKS untuk ke rumah ortu. Alhamdulillah kehadiran DuoS disambut inyik, nenek, dan abang Naufal. Kami putuskan utk ambil Kijang Innova saja agar muat tujuh penumpang plus bagasi.

Jalanan di tol dalam kota yg ternyata macet. Mestinya dapat ditempuh kurang dari 45 menit kini perlu 1.5 jam utk tiba di rumah. Si kembar kadang tidur, nangis, atau lompat-lompat di kursi penumpang bersama Inyik, Nenek, dan Elwis. Saya duduk di sebelah supir bersama Naufal. Akhirnya perjalanan pagi itu selesai juga, si kembar disambut tante Rina dan kakak Naira di rumah. Langsung menuju kamar utk LP (meLuruskan Pinggang) dan gonta ganti pampers plus cuci muka sama mama nya :-)




-> bersambung <-

Oct 22, 2012

Kado Bayi Sepanjang Masa

Siapa tak gembira mendapatkan kado dari sahabat/saudara. Apalagi sesuatu yg sangat diharapkan. Uppps ... "diharapkan", berarti sudah rencana dong, nanti kl dapat kado, maunya apa he..he.. Tapi jujur saja, kami pun tak tahu mau apa, maklum ini pengalaman pertama. Namun setelah bongkar beratus bungkus kado (majas hiperbolis alias lebay nih) saya bisa memilah sebenarnya ada lhoo kado yg sesuai judul tulisan ini.

However in general, ALL PRESENTS ARE WARMLY ACCEPTED

Sebelum punya anak tak pernah terpikirkan. Yang sering dikadokan orang yg saya tahu saat masih di Jakarta adalah babyset . Apalagi di masa sekarang trend nya mau praktis, cukup urunan uang, nanti diberikan langsung dalam bentuk uang atau voucher belanja kepada kawan yg baru melahirkan.


Foto2 di atas hanya sebagian saja dari kado unik yg mudah difoto semalam, diantaranya:
A=wadah bottle steamer utk mesterilkan botol di dalam microwave oven
B=bottle drying rack, pohon yg dipakai tempat meletak botol
C=nappy changing mat (perlak) dari yg mini utk ganti pampers hingga yg besar dan mahal macam buatan LG Prime atau Parklon ini.
D=kursi santai
E=vibration chair
F=baskom mandi
G=baby bather = bath infant seat
H=selimut dan bedong

Namun yg tetap populer hingga hari ini tentulah babyset alias setelan baju bayi. Tinggal dikira saja untuk bayi umur berapa (0-3, 3-6, 6-9 bulan ...). Untuk ide kado yg lain silakan cek dulu agar ada ide, contohnya di sini atau di sini ... atau ikut menyimak artikel "anjuran" FP ini:
- swinger
- bouncer
- sleeper
- feeding support pillow
- baby carrier
- high chair
- activity gym / play mat
- breast pump
- milk bottle, teether

Ortu si bayi jelas sangat terbantu krn mungkin memang belum punya apalagi seperti kami dengan pengalaman pertama ini. Mencari ke luar rumah perlu waktu dan belum tahu kemana tempat yg tepat. Padahal tenaga dan waktu perlu dioptimalkan saat itu untuk menjaga bayi dan ibunya. Memang ide bisnis produk perlengkapan bayi ini sungguh menguntungkan dan para ortu siap-siap kuras dompet :-)

Oct 21, 2012

Anything better to do in toilet ?

Pengurus masjid sudah berinisiatif profesional untuk menghindarkan hal-hal yang tak diinginkan dan mengajak pemakai toilet bersih dan hemat (air, listrik, perawatan). Kini tinggal kesadaran alias akal sehat pemakai, apakah kebiasaan di rumah atau di toilet umum lain akan terbawa juga ke sini :-(





Oct 7, 2012

PertamaKali: Membawa Stroller Naik Bus

TwinS pertama kali naik bus saat masih berumur kurang dari sebulan. Naik bus dekat saja, dua halte dari rumah untuk pergi cek kesehatan di Poliklinik Bedok. Karena masih mungil dan kurang 3 kg beratnya, mudah naik turun bus. Itupun pulangnya digendong berjalan kaki saja sekitar 15 menitan (pyuuhhh... gerah boo). Ada sekitar tiga kali kalau tak salah ingat naik bus, hingga keduanya mulai memakai stroller di usia 11 minggu.


Dengan pertambahan usia, keduanya makin berat, dan stroller pun perlu dipakai. Jadilah hari Senin 17 Juni 2012 itu pertama kali Goodbaby Twin Stroller (GTS) merah yg dipesan di Kiddy Palace Tampines dicoba untuk pertama kali. Hingga hari ini GTS sudah menemani kembar kemana-mana. Paling sering sebagai transporter dari rumah menuju taksi, di tempat tujuan, dan saat pulang dari turun taksi menuju rumah. Tak pernah lebih jauh kecuali dibawa berkeliling lingkungan flat kami di Bedok. O.. ya pernah sekali dua dibawa naik MRT :-)

Jadi mode transport yg paling sering membawa si kembar adalah taksi, bukannya Bus atau MRT. Padahal berkendara dengan bus dan MRT di waktu senggang cukup nyaman dan aman.Apalagi full-AC pula, si Shalih suka itu.

But riding bus strictly is strictly no way with open stroller
Ini seperti telah dituliskan di FAQ SBS bahwa meletakkan stroller dengan bayi di dalam nya adalah berbahaya. SBS pun membalas email saya yang menanyakan mengapa stroller tak boleh masuk dalam keadaan terbuka dengan menggunakan pintu tengah (only for exit) bus yang diperuntukkan pemakai berkursi roda tsb.:
Allow us to explain that it is for safety considerations that our Bus Captains requests our passengers to fold their prams before boarding. Furthermore, allow us to share with you that boarding at the exit doors is not encouraged as there are safety issues concerned and it is also going against the flow of alighting passengers. Moreover, the ramp is catered specifically for the needs of passengers in wheelchairs.
Hmm kalau begini kasihan mereka yg tidak memiliki teman/saudara atau asisten rumah tangga (PLRT) yg dapat menemani si ibu berpergian. Ujung-ujungnya naik taksi yang jelas tak ekonomis jika pergi sendiri. Belum lagi menunggu taksi, menggendong bayi, dan menaikturunkan stroller.

Berikut slide foto TwinS menumpang 168 dari terminal bus Woodlands. Langsung sampai halte depan rumah. Di dalam bus keduanya harus kami peluk dan GTS diparkir di area kursi roda. Sepanjang perjalanan memang kami amati bus berhenti di tiap halte, laju kencang di expressway, dan kadang2 berhenti mendadak atau menikung tajam. Hanya mendekati rumah baru TwinS baru saya letakkan di dalam stroller kembali. Itulah sebabnya stroller terbuka tak diizinkan :-)



Teringat kembali pengalaman hari Minggu 7.10 tsb, sangat tidak praktis dan beresiko menaikkan kembar ke atas bus. Ini masih untung dilakukan saat bukan jam sibuk, supir yg mau menunggu krn masih dalam terminal asal, dan stroller dapat "ditinggal" dulu di luar bus sementara saya menggendong Shalih untuk diantar kepada ibunya yg sudah duduk bareng Shalihah di dalam.


Oct 5, 2012

200 dollar itu Murah

Iseng saya berhitung dan menemukan bahwa SGD 200 (Dua ratus dollar Singapura) itu murah bagi sebagian besar orang yang tinggal di pulau Singapura ini. Murah utk rentang waktu satu bulan. Siapapun dengan amat mudah mengeluarkan uang sejumlah ini. Jadi jangan heran jika ganti smartphone terbaru tiap tahun itu biasa, tukar TV layar datar tiap tiga tahun itu bukan luar biasa, beli branded bag tiap tahun itu bukan mimpi, dan iklan kasur empuk impor yg harganya lebih dari $5000 itu tidak bikin kaget (toh ganti kasur paling tidak tiga tahun sekali)

Mengapa ?


Dengan kurang dari $1000 sudah dapat iPhone5. TV LCD layar datar 42" terbaru sudah banyak dijual dengan harga kurang $1500. Tas bernama milik sejuta umat pun sudah biasa dijual di butik kurang dari $2500. Itu semua didapat dengan menabung $200 sebulan selama setahun kan ...

Lalu mengapa $200 per bulan itu murah sehingga konsumerisme di level tsb sangat wajar ? Perhatikan bagi yg sudah tinggal di sini sejak tiga tahun terakhir atau lebih, dimana kecendrungan inflasi yg pasti naik setiap tahun dengan kecepatan minimal 4-5%. Bagi sebagian pekerja di jantung kota:
$200 itu bekal makan+minum standar siang hari selama hari kerja dalam sebulan,
$200 itu ongkos taksi pp selama lima hari kerja dalam seminggu,
$200 itu 1/4 harga sewa kamar bujangan per bulan di HDB,
$200 itu hanya cukup untuk lima kali isi bensin mobil selama sebulan,
$200 itu belanja dapur hemat sebuah keluarga dalam seminggu,
$200 itu rekening bulanan listrik/air/gas/telpon sebuah keluarga kecil,
$200 itu rekening kartu kredit tiap bulan,
$200 ...
$200 ...
$200 ...

Namun satu hal yg membuat miris. $200 per bulan itu murah utk sebuah lifestyle namun tidak untuk membina sebuah keluarga. Usia pernikahan semakin telat, semakin banyak orang hidup membujang, dan ramai pasangan suami istri yg tidak ingin punya anak, menunda punya anak, atau membatasi jumlah anak cukup seorang saja padahal dari sisi finansial mereka sangat mampu karena keduanya bekerja.

Teori saya mudah saja, selama seorang individu berpandangan bahwa pasangan hidup atau anak tsb adalah liabilitas maka kondisi di atas adalah wajar. Apa Anda rela berkorban lifestyle dalam arti merelakan lembar-lembar $200 tsb hilang padahal uang dicari utk kesenangan hidup ? (hilang baik dalam arti uang, waktu, tenaga, dll). Liabilitas lain selain repot dan "biaya pemeliharaan" adalah khawatir anak-anak yg dihasilkan menjadi anak bandel, banyak urusan, dan akhirnya tak membalas budi. Alasan terakhir ini membuat banyak orang yg hidup di negeri-negeri maju lebih menyukai memelihara pet (hewan piaraan) dibanding punya anak. Padahal warga negara di sana dijamin negara hingga akhir hayat :-(

Namun jika kita memandang azwaj+zuriat (pasangan dan keturunan) ini sebagai aset maka insya Allah tiada yg terlalu sukar utk dijalani. Aset yg membawa kita semakin dicintai Allah dan memperoleh ridha Nya. Dilapangkan jalan hidup, dimudahkan menggapai rezeki yg telah dijanjikan di dunia, dan yg terpenting beroleh surga Nya di akhirat kelak. Amiin.

Ada pendapat lain ? Atau parameter $200 itu terlalu kecil dan harus ditinggikan lagi sebenarnya.

Kesetimbangan baru :-)



Oct 4, 2012

Enam Bulan TwinS

Alhamdulillah Shalihah dan Shalih sudah berusia 6 bulan hari ini atau tepatnya hingga kemarin. Keduanya makin aktif baik secara motorik, verbal, visual, dan emosional. Berat badan susul menyusul dan saling meniru kepandaian.

Akrab dengan selimut dan bercanda sebelum tidur

Tak pernah henti berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaanmu nak. Meminta agar dua cahaya mata ini menjadi sesuai apa yang melekat pada namanya yaitu orang-orang yang shalih. Selalu tersirat tiga doa agar Allah Swt menjaga keselamatan si kembar dimanapun dan kapanpun dari:
1) Kecelakaan yg tiada kami sadari mis. jatuh, nafas tersumbat dll.
2) Salah asupan yg membawa bahaya mis. diare, keracunan dll.
3) Serangan mahluk lain yg tak dapat kami jaga mis. nyamuk, hewan berbisa, dll.

Amiin.

Berjaga-jaga dan antisipasi jelas perlu namun ada saat-saat kami lengah, tertidur atau memang sesuatu yg tak kami sadari penyebabnya. Mulai dari gaya tidur si kembar yg kadang-kadang menangkupkan selimut beludru tipisnya ke wajah mereka, sang uni Shalihah yg suka menerjang dan berguling sebelum tidur, si adik yang suka mengisap jempol, nyamuk atau serangga lain yg mengusik saat bermain / tidur tahu-tahu sudah bintik merah saja dll.

Dulu ibu jari tangan, kini jempol kaki pun jadi incaran :-(

Sep 22, 2012

Mendaftarkan Bayi sebagai PR Singapura

Alhamdulillah status turis TwinS berakhir bbrp hari yang lalu. Tepat di usia 5 bulan, status penduduk tetap si kembar disetujui. Memang repot (dan keluar ongkos) jika harus mondar-mandir ke ICA tiap bulan memperpanjang status turis :-( Jadi kini status kembar sudah sama dengan ortu nya.

Prosedur mendapatkan status Singaporean PR (SPR) bagi bayi Indonesia yang lahir di Singapura adalah sbb.:

  1. Begitu lahir, buatlah surat akte kelahiran (birth certificate)
    Hal ini dapat dilakukan di rumah sakit atau datang ke kantor ICA membawa surat pemberitahuan lahir hidup (Notification of Live Birth) yg disiapkan rumah sakit. Syarat lain berupa kartu penduduk (IC) ortu, buku nikah ortu (+ terjemahan dalam bahasa Inggris) lengkapnya dapat dibaca di form tsb, dan ongkos resmi S$18. Untuk mendaftar di rumah sakit jelas lebih senang, tak perlu repot datang ke ICA, namun ada biaya kemudahan (baca: biaya administrasi) di luar ongkos resmi. Sebagai contoh di KKH tempat TwinS dikenakan biaya administrasi S$ 40 per anak. Waktu tunggu nya sih sama saja. Jadi luangkan saja masa ke ICA (tanpa perlu membawa si bayi), modal tiket MRT S$4 pp  (maksimum) selesai urusan.
    Jangan lupa laporkan kelahiran anak dalam 14 hari sesuai aturan resminya di sini. Umumnya, hari itu juga akte kelahiran Singapura selesai dalam waktu singkat.
  2. Setelah akte jadi, selanjutnya membuat paspor RI.
    Hal pertama yg sptnya mudah tapi menantang adalah membuat pasfoto bayi. Fokus ke bagian kepala bayi, ukuran 35x45 mm, latar belakang putih, buat sebanyak 4 lembar. Untuk mendapatkannya (angle, pencahayaan, mimik wajah yg pas dari si bayi berusia kurang sebulan) ternyata tidak mudah :-( Perlu kesabaran. Telentangkan bayi di atas kain atau handuk putih di ruangan yg cukup cahaya (paling bagus ada sinar matahari pagi yg tidak silau/panas), bidik dengan kamera bbrp kali utk hasil yg pas, edit foto tadi dengan software semacam MS Paint untuk memberi latar belakang putih yg mendekati sempurna. Setelah itu bawa ke kedai cetak foto digital. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dengan ongkos $6-7 untuk empat lebar passfoto. Siap cepat ... 15 menit.
  3. Berbekal akte kelahiran (+ fotokopi) dan empat lembar foto, buatlah surat catatan lahir (SCL) di bagian Konsuler KBRI (bukan bagian paspor di lantai dasar ya ...). Bagi ortu, bawa IC (KTP Singapura), Paspor RI, dan Surat nikah. Utk semua dokumen tadi, lengkapi dengan fotokopi nya (buat minimum lima). Kemudian mengisi lembar permohonan dan data lengkap mengenai bayi+ortu serta membayar S$16 (ambil resit nya sebagai bukti pengambilan nanti). SCL ini selesai satu hari, diantar hari ini (09:00 - 12:00) selesai besok hari pada waktu yg sama. Resminya baca di sini.
  4. Setelah SCL selesai, lanjutkan dengan membuat paspor.
    Bagusnya ambil SCL di pagi hari (sebelum jam 12) agar bisa langsung membuat permohonan paspor baru di bagian pelayanan paspor. Syaratnya mirip dengan permohonan SCL, jadi bagusnya bawa saja semua dokumen di atas :-) Mengisi formulir hijau yg terkenal dgn nama PERDIM14. Pasfoto bayi baru diminta di sini. Buat permohonan pagi hari (09:00 - 12:00) dan selesai sore tiga hari kemudian (15:00 - 17:00). Biaya utk paspor standar 48 halaman adalah S$35 (ambil resit nya sebagai bukti pengambilan nanti). Resminya baca di sini.
  5. Paspor RI selesai !
    Nah selanjutnya adalah mampir (walk-in) ke ICA lagi. Pertama saat buat akte kelahiran sekarang utk melamar SPR. Kalau beruntung dan punya waktu, bisa dilakukan dalam minggu yg sama :-)
  6. Mendaftar SPR di ICA
    Langsung datang saja ( tanpa e-apoointment dulu) jika syarat2 sudah lengkap dan bayi harus dibawa. Nanti di resepsionis layanan SPR beritahukan bahwa Anda datang untuk mendaftarkan bayi yg baru lahir tsb. Anda diminta untuk mengisikan Form 4 (bisa download sendiri) bagi info bayi.
    Syarat2 nya mirip dgn orang dewasa ... paspor, akte kelahiran, pasfoto wajah 3x4 berlatar belakang putih, dokumen sponsor/ortu (asli dan fotokopi) seperti IC, paspor, income tax notice assesment, kontribusi 12-bulan CPF, surat nikah, surat sponsor dari tempat bekerja, ijazah sekolah, dll jika diperlukan. Untuk bayi jelas prioritas, waktu antri yang lebih pendek. Saat nomor antrian kita dipanggil, petugas akan memeriksa Form 4 dan seluruh dokumen yg diperlukan, umumnya hanya checklist saja krn data ortu tak banyak berubah, dan bayi kami yg lahir di Singapura ini pun baru memiliki akte kelahiran dari kantor yg sama :-) Pemeriksaan dokumen utk bayi kembar sekitar 30 menitan, lalu paspor akan ditahan sebentar utk verifikasi. Selanjutnya paspor akan dikembalikan dan akan ada satu halaman tempat cap (stempel) imigrasi yg memberikan izin tinggal bayi di Singapura selama 3 bulan. Izin ini berlaku selama bayi tidak ke luar negeri. Jika bayi dibawa keluar dan masuk lagi ke Singapura dalam waktu tunggu tsb maka izin 3-bulan tadi batal dan bayi akan memperoleh social visit pass biasa 30 hari sebagaimana turis lain yg masuk ke negeri ini.
  7. M.e.n.u.n.g.g.u
    Izin tinggal 3 bulan yang diberikan itu sebenarnya tidak lama :-) Shalihah dan Shalih dapat izin hingga 8 Agustus. Akhir Juli kami sudah lapor diri lagi ke ICA dengan membawa si kembar untuk perpanjangan izin tinggal nya tanpa ada pemberitaan tentang sukses atau tidaknya permohonan SPR mereka. Waktu itu bayar S$40/bayi. Hal yang sama di akhir Agustus, saya datang ke ICA utk perpanjangan kedua, kali ini saya tak membawa si kembar. Alhamdulillah tak perlu bayar apa-apa krn bayaran di akhir Juli lalu sudah mencakup biaya perpanjangan utk maksimum 3x asalkan bayi tak dibawa ke luar negeri. Pada saat menunggu nomor antrian pada tanggal 29 Agustus tsb saya iseng naik ke lantai 5 untuk menanyakan status permohonan SPR si kembar. Sepi sekali saat itu hanya ada seorang staf resepsionis dan 1-2 orang antri saja di depan meja resepsionis tsb.
  8. Alhamdulillah, saat saya cek, ibu resepsionis mengatakan bahwa permohonan kami sudah disetujui dua hari yg lalu, dan tinggal menunggu surat panggilan untuk datang dan melengkapi formalitas akhir. Hmm ... waktu penantian sebentar lagi berakhir :-) Benar saja, saat saya periksa kotak pos sore itu, surat kelulusan SPR si kembar memang sudah tiba.
  9. Di dalam surat resmi dari ICA tsb dijelaskan bahwa kami harus membooking hari interview (datang ke ICA) pada situs e-appointment mereka. Menyiapkan dokumen2 bayi (akte kelahiran, paspor, pasfoto terbaru / 2 bulan) dan IC orang tua. Kami pilih tanggal yg terdekat agar ini urusan cepat tuntas.
  10. Akhirnya 4 September 2012 14:20, tepat 5 bulan usia si kembar, keduanya resmi berstatus sama seperti ortunya. Tak ada yg berubah kecuali satu halaman lagi di paspor yg dicap petugas utk diberi stempel tanggal hari itu beserta nomor akte kelahiran mereka (T number). Petugas juga menyerahkan print out selembar Entry Permit dan Reentry Permit.
    SPR

    PertamaKali: Ke Hypermart


    Negeri seluas 700 km persegi dengan sekitar lima juta orang yang lalu lalang di atasnya tiap hari ini memiliki jumlah toko waralaba yang luar biasa banyak. Dibaca di internet ada 230 gerai NTUC, 60 ShopnSave, 44 ColdStorage, 30 ShengShiong, 17 Prime, 8 Giant dan mungkin puluhan retail-chain kecil lainnya. Hebatnya pasar tradisional (wet market) juga tetap dipertahankan, dipercantik, dan modern mengikuti kemajuan zaman. Perbedaan yang sangat jelas tentulah ada kesempatan menawar di pasar basah dan ketiadaan AC/penyejuk udara :-)

    Total ada lebih dari 400 mini/supermarket. Karena terhukum luas tanah dan sewa bangunan yang mahal di sini makanya supermarket yg ada di atas umumnya tidak terlampau besar dari sisi luas. Jarak antar rak barang umumnya hanya cukup untuk mendorong satu trolley (shopping cart) belanjaan (lebar 60 cm). Hanya di supermarket di tempat pemukiman yg ramai barulah agak lega dimana dua trolley pun dapat berpas-pasan seperti di NTUC / Shengsiong dekat rumah kami.

    Namun ternyata itu belum cukup lebar untuk Goodbaby, twin stroller si kembar ! Stroller merah abu-abu hitam ini punya lebar badan 82 cm, artinya ia tak dapat dibawa berpas-pasan dengan trolley belanjaan. Belum lagi ada jalur-jalur tertentu yg memang sengaja dibuat tak lebih dari lebar satu trolley misalnya di jalur antri bayaran dekat kasir. Kasihan mama si kembar karena tak dapat sendirian membawa si kembar berbelanja dan terpaksa memarkir stroller (beserta Shalihah dan Shalih) sebelum antri membayar :-(

    Satu-satunya tempat yg dapat membawa stroller adalah hypermart semacam Giant Tampines. Sayangnya lokasinya jauh dari rumah, perlu naik taksi lima belas menitan ke sana, dan ramai di akhir pekan. Minggu pagi tadi si kembar napak tilas ke sana. Kalau di akhir Maret lalu usia mereka masih minus satu (-1) minggu saat menemani mamanya berbelanja keperluan melahirkan, nah sekarang keduanya sudah hampir enam bulan dan memakai diapers ukuran M :-)

    Sayang keinginan membawa mereka mencoba naik bus tingkat 168 menuju Giant tidak kesampaian karena supir (wanita) nya tidak membolehkan strollers naik dari pintu tengah. Stroller harus dilipat dulu dan bayi digendong. Memang sih pintu tengah itu hanya diperuntukkan bagi orang berkursi roda :-)



    Berfoto habis belanja (22.09.2012)


    Kembar masih 37 minggu 2 hari

    Sep 7, 2012

    PertamaKali: Berhari Raya

    Judulnya sudah terang sekali, benar 1433 H atau tahun 2012 ini pertama kali kami berhari raya dengan si kembar. Jika di tahun-tahun yang lalu berhari raya itu dapat kami putuskan jam dan agendanya last minute, berbeda sekali dengan tahun ini.

    Dulu, catat jadwal dan tempat halal bihalal nya, langsung meluncur ke sana. Bisa-bisa 2 sampai 3 tempat sehari kami jalani. Jika ada rezeki pulang ke tanah air, sejak H-3 atau lebih awal lagi biasanya kami telah mudik. Namun kini jelas perlu perhitungan masak, mengingat ada dua pasang kaki-kaki mungil yg ingin ikut :-)
    - Apa bukan jam tidur mereka
    - Apa sudah atau baru saja minum susu
    - Apa hari panas sekali atau mendung bakal hujan
    - Bagaimana menuju ke sana
    - Persiapan yg perlu dibawa apa saja dan berapa banyak
    - ... dan tentunya stroller merah favorit mereka.

    Alhamdulillah sejak hari raya 19 Agustus kemarin, sudah lebih dari lima tempat yg kami kunjungi. Menyambung silaturahim baik yang lama ataupun yang baru. Maklumlah idul fitri tahun lalu, Elwis baru hamil 3 bulanan dan tidak pergi kemana-mana.

    Ini sebagian foto-foto kehadiran Shalihah dan Shalih di antara teman/saudara di sini. O..ya satu kebahagiaan bagi si kembar adalah bisa merasakan karpet tebal atau sofa di tempat tujuan. Mgkn enak bisa tiduran setelah pegal dan panas di dalam stroller :-)

    HBH Hari Pertama Syawal di CCK

    Berfoto bersama uni kembar mahasiswi tingkat 1 :-)

    Mampir ke rumah Nek Safni

    Open House Tante Lia di TB

    Kunjungan spesial kawan SMA/kuliah mama TwinS

    Nah yg ini dikunjungi keluarga Om Salleh dan Nek Yusneli

    Syukuran SSS di Clementi, terima kasih semua !

    Rumah kenangan @ 873 Tampines bersama Tante Elsa dan Eliana

    Terima kasih jamuan dari Om Salim dan Tante Mariana

    Oh, ikut datang ke T3, farewell om Tan dan tante Ade


    ... bersambung ...


    Jul 31, 2012

    PertamaKali: TwinS Naik MRT

    Sudah lama Mama si kembar tak naik MRT. Mgkn bbrp minggu sebelum hamil sudah terpaksa cuti MRT :-) Namun sebagaimana shaum ramadhan yg berakhir setelah 29/30 hari, puasa MRT itu pun berakhir 31 Juli lalu.

    Awalnya kami harus pergi ke kantor imigrasi (ICA) di Lavender utk memperpanjang izin tinggal masa pendek di sini (short term visit pass extension). Maklumlah SPR keduanya belum keluar dan izin tinggal hanya diberikan sampai 08.08. Repot memang, krn harus datang membawa si kembar, tak bisa online. Jadilah kami pergi jam 2 siang itu dengan taksi ke sana.

    Menunggu nomor panggilan dan waktu pengurusan perlu waktu satu jam lebih. Bayar masing-masing $40 dan hanya dapat perpanjangan satu bulan (what !). Sebelum pulang saya tanya istri, apa mau coba naik MRT. Pengalaman pertama :-) Kalau mau coba, memang ini saatnya sebelum MRT dipenuhi orang2 pulang kerja. Keluar dari gedung kelabu imigrasi tsb sudah pukul 15:15.

    Mulailah petualangan mendorong baby stroller, diawali dgn mencari lift demi lift yg khusus dibuat utk kursi roda/stroller/orang tua. Dari kawan di kantor saya ikuti sarannya, bahwa utk menemukan lokasi lift ikutilah penanda metal (tactile paving) di lantai. Penanda itu mudah dicari dan tampak jelas krn besi-besi anti karat menyembul di lantai berpola bulatan/persegi. Selain itu ada juga kemudahan berupa jalur pendakian/penurunan yg mulus tanpa tangga (ramp). Lumayan berkeringat untuk sampai ke platform naik dan last minute mendorong stroller ke dalam MRT. Alhamdulillaah: buka puasa masih empat jam lagi :-)

    Baru naik di Lavender
    15 menit kmdn di Bedok MRT
    Di dalam MRT tak terlalu ramai. Awalnya kami tak dapat kursi dan baru dua stasiun kemudian ada kursi kosong sehingga si kembar dapat parkir dengan tenang dan papa mamanya bisa duduk :-) MRT kabin terbaru ini melaju dgn santai dan 12 menit kemudian tibalah di stasiun dekat rumah. 


    Tantangan lagi, dari stasiun ke rumah mau jalan atau naik taksi ? Berhubung mau tahu berapa lama waktu (baca: sukarnya) mendorong stroller ke rumah, kami putuskan jalan. Lagipula ada yg perlu dibeli di pasar yg bakal dilewati nanti. Pyuuh ternyata jalan kaki sore terik ini perlu waktu dua kali lebih lama dibanding numpang MRT tadi :-( Namun tiap pengalaman pertama itu membawa hikmah dan kebahagiaan tersendiri. Bila selama ini kami hanya bedua melalui jalan kenangan dengan mudah dan santai, kini pasukan jadi bereempat. Perlu tenaga, kehati-hatian, namun diiringi tawa dan kepuasan karena sudah berhasil melalui rintangan. Praktisnya memang naik bus sih, tapi jelas tak mungkin pada kondisi spt sore itu.

    Insya Allah, kami dapat tetap kompak dalam mengarungi kehidupan ini dimana dan kapan saja. Ya Allah beri kami selalu taufik dan hidayah Mu.

    Ramp dan Ramping :-)

    Catatan:
    (1) Beberapa kemudahan bagi pemakai MRT (cacat penglihatan, pendengaran atau pemakai kursi roda).

    PertamaKali: Ke HBF

    Selalu ada saat yang pertama.

    Ini kali pertama membawa si kembar ke lokasi yg cukup jauh berdua saja. Kalau berkunjung urusan medis spt membawa imunisasi ke poliklinik sudah pernah dan lokasinya dekat rumah. Namun hari itu dengan niat mengantar kakak ipar yang akan merayakan Ramadhan di kampung, saya membawa si kembar sekaligus mama nya jalan-jalan :-)

    Kenyang abis minum susu
    Lokasi yang dituju jelas, insya Allah terlindung dari terik matahari dan tidak ramai. Sabtu 21 Juli 2012 sebelum jam 11 siang kami berangkat. Hari pertama Ramadhan di Singapura, bersama si kembar boyongan ke Harbor Front Ferry Terminal. Saat berangkat dari rumah memang ada tiga orang dewasa yang mengawal namun pulangnya tinggal si kembar dan ortu nya :-)

    Yang pasti agak kerepotan saat harus naik turun taksi. Mengeluarkan si kembar dari stroller dan bagaimana mengatur di dalam taksi. Pertama Shalihah naik dengan mamanya dan baby boy Shalih tunggu di stroller. Lalu Shalih masuk taksi. Stroller dilipat utk masuk bagasi dan terakhir saya yang masuk taksi dan berjuang mendekap Shalih di belakang.

    Demikian pula setelah tiba di tujuan, si kembar harus dikeluarkan satu persatu, setelah stroller dibuka dan parkir di tempat yg aman dan nyaman. Agak ribet (dan perlu tangisan) saat Shalihah yg tertidur lelap di menit2 terakhir perjalanan harus terjaga karena sudah sampai :-(

    Di depan Mothercare HBF Lantai 3
    Pengalaman berharga yg dicatat:

    • Pergi berapa lama, apa pakaian yg perlu disiapkan, berapa banyak minum nanti.
    • Berapa tas besar yg dapat masuk ke dalam bagasi taksi mengingat stroller si kembar pun cukup memakan tempat.
    • Menangani mood si kembar selama perjalanan: mobil berhenti karena lampu merah, macet, guncangan, tikungan, masuk terowongan, panas, dll memang suasana baru bagi si kembar. Terutama utk Shalih yg agak serius memperhatikan sekeliling:-)
    • Mencari tempat yg dituju dengan rute singkat. Jika tidak, anak-anak bakal pusing turun naik lift, dorong kesana kemari tanpa tujuan yg jelas
    • Lokasi utk minum susu / ganti diapers.
    Alhamdulillah akhirnya perjalanan hari itu selesai juga. Sekitar pukul 2 siang kami tiba kembali di rumah. Capek dan senang tentunya. Satu petualangan baru baik bagi si kembar dan orang tuanya telah dilalui :-)

    Jul 8, 2012

    Heaven and Earth

    Tahun ini saat pertama milad kami berdua dikelilingi zuriat TwinS. Alhamdulillaah semoga tujuan kami utk membina rumah tangga sakinah mawaddah warahmah diridhai Allah Swt dan si kembar menjadi cahaya mata yang membahagiakan keluarga, agama, dan bangsa nya.

    Shalihah dan Shalih (3 bulan 5 hari) ikut merayakan

    Krn Shalihah kembali tidur, rezeki adik Shalih nih "membayangkan"makan kue :-)

    Kado Shalihah berupa tawa terlucu  (esok harinya)
    Judul tulisan diilhami merek kue yg saya beli di Eatzi Gourmet Bedok Point sejam sebelumnya. Memang enak sih dengan resiko kebobolan dompet sekitar $26.

    Jul 4, 2012

    Kliping: Cara Memijat Bayi

    Dipindai (scan) dari booklet Pigeon: Guidebook for New Mother and Baby".

    Sangat membantu dan mudah dipraktekkan. Alhamdulillah, semenjak usia dua bulan, minimal sekali sehari seusai mandi pagi. Sebelumnya kami hanya mempraktekkan pijat I-LOVE-U, tiga gerakan melingkar searah jarum jam di atas perut bayi. Shalihah dan Shalih pun suka.


    Semoga bermanfaat.

    Jul 3, 2012

    Ulang Bulan yang Ketiga


    Alhamdulillahirabbil'alamiin.
    Semoga tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia.




    Your baby has been able to recognize you since he was just a few days old, but now he may actually be able to show it. About half of babies this age begin to exhibit an obvious recognition of their parents.

    Your baby will probably continue to smile at strangers, especially when they look him straight in the eye and coo or talk to him. But he's starting to sort out who's who in his life, and he definitely prefers you, your partner, and perhaps a few others.

    Your baby may quiet down and make eye contact with you, or he may search for you in a room and move his arms in excitement or smile when he finds you. He may even find your scent calming and comforting.


    Baca dari sini nih :-) ...

    Jun 21, 2012

    [Ringan] Parenthood

    "Recently I decided that parenthood and its distractions are no longer a good excuse for not writing creatively everyday" (Clara Chow, Mypaper, 20120618).

    Wah rasanya pas banget tuh kalimatnya terhadap kondisi penulis blog yg sedang Anda baca ini :-)

    Tapi alangkah baiknya kalau "excuse" fatherhood ini juga tidak menjadi penghalang agenda kebaikan lain, apalagi sudah mau Ramadhan lagi. Bukan karena malas tapi lebih krn disebabkan pengaturan waktu yg kurang baik dan rasa-rasa takut tak kuat untuk menjalaninya (bangun malam, shaum). Yuk, kembali istimror untuk qiyamul lail, puasa senin kamis, dan baca al-Quran setengah juz per hari nya. Minimal diniatkan, syukur bisa dikerjakan meskipun sedikit.




    Jun 5, 2012

    [Ringan] Mengapa Bus di Singapura Bagus

    Saat melintas sebuah transjakarta bbrp bulan lalu di depan kami, Papa berkata "Bus-bus buatan Korea ini sudah sering kali terbakar". Padahal baru berapa tahun, bus-bus Hyundai/Daewoo ini beroperasi di jalur busway. Itupun dapat jalur khusus, supir yg baik, dan "terhindar" dari sikut-sikutan dengan armada angkutan umum lain. Kusam, berdebu, dan kesan penyok di sana sini. Menyedihkan dibandingkan nasib rekannya seumuran bus umum di Singapura.

    Mengapa di Singapura lebih baik, ini tiga poin pengamatan saya:

    (3) Perawatan.
    (2) Penumpang yang relatif tahu aturan.
    (1) Pembelian bus/perakitan bus dengan biaya top notch !


    Kusam atau berdebu itu adalah pemandangan biasa krn tingkat polusi di Jakarta lebih tinggi. Namun efek samping dari membiarkan debu adalah memperpendek umur kendaraan selain penampilan bus yg menjadi tak cerah. Sebuah bus seharusnya memiliki jadwal perawatan harian, mingguan dan bulanan atau berdasarkan kilometer perjalanan yg tepat sesuai buku panduan. Sebuah bus tidak dapat dipaksa non-stop bertugas sepanjang hari tanpa ada pengecekan rutin dan pembersihan baik interior dan eksteriornya.

    Penumpang yg relatif tahu aturan. Di dalam bus tidak menyampah seenaknya, tidak sengaja merusak interior/perlengkapan bus, dan tidak "menghancurkan" bus. Merusak interior termasuk keisengan bodoh namun tindakan menyekat pintu bus sehingga tak dapat ditutup, membuka paksa pintu, atau menggedor-gedor bagian badan bus jelas merusak bus. Saya pernah berkendara dengan bus yg sesak penumpang, sudah dekat dengan halte pemberhentian namun memang belum kawasan menurunkan penumpang, sementara supir bus tak mau membuka pintu menunggu dua bus di depannya berlalu meninggalkan halte tsb. Tindakan tegas supir ini benar dan para penumpang tetap bersabar dengan tidak menggedor-gedor bus atau memaksa supir membuka pintu. Meski jengkel tetap ditahan dalam hati. Di saat lain para penumpang yg sudah lama antri menanti bus harapan tidak memaksakan diri mendesak masuk ke dalam sebuah bus yg sudah penuh.

    Sebagai pengamatan terakhir dengan nomor prioritas satu, saya sebut beli bus dgn harga lebih. Kalau perlu bus dilengkapi dengan semua aksesoris yg diperlukan. Ada opsi baja tahan karat untuk pegangan penumpang, pesan itu. Ada kualitas tempat duduk penumpang nomor satu pilih itu. Pilihan lantai anti-licin berglazur, pegangan tangan tiap 30 cm, cat interior terbaik, penerangan dalam bus, kapasitas kompresor pendingin yg memadai saat full-load dan berbagai onderdil/perlengkapan lain yg tak tampak oleh penumpang ... masukkan dalam rekening harga bus ! Total general semua. Jika penawaran sebuah unit bus mulai harga Rp. 1 Milyar, pesanlah yg seharga 1.2M/unit. Lengkapi semua dgn top notch aksesoris yg benar diperlukan. Tak mengapa bayar ekstra 20-30% namun puas. Jadi kenaikan harga bukan mark-up dan tidak ada unsur manipulasi utk suap para pengambil keputusan. Diharapkan dengan begini bus akan tahan lama beroperasi meskipun bus tsb hanya merek Cina yg bagi sebagian orang hanya dipandang sebelah mata :-)

    Untuk melengkapi cerita tentang bus di pulau kecil ini silakan singgah di sini. Memang bus-bus di sini secara berkala diperbaharui sekitar 7-10 tahunan namun saya masih melihat masih juga bus buatan tahun sebelum 1990 yg masih laik operasi di jalan-jalan terutama di jalur yg tidak terlalu padat penumpang. Interiornya masih baik dan AC nya teteup dingin :-)

    [Ringan] Mengapa Mobil di Singapura Bersih


    Delapan alasan yang dapat saya reka:

    (1) Udara panas dan berangin, jarang hujan, dan pagi tak berembun.
    (2) Sampah dari dalam mobil hampir tak ada yg terbuang ke jalan :-)
    (3) Banjir hampir tak ada dan genangan air saat hujan cepat surut krn drainase yg benar.
    (4) Usia mobil umumnya kurang dari 10 tahun dan pemeriksaan berkala tiap 2 tahun atau tiap tahun utk mobil di atas 10 tahun.
    (5) Uji emisi untuk memastikan filter knalpot bekerja baik.
    (6) Saat akan dijual pihak pembeli biasa meminta bukti uji kelaikan kendaraan dari STA.
    (7) Badan jalan diaspal sampai ke tepi trotoar sehingga tak ada ekspos tanah/pasir ke ban kendaraan.
    (8) Petugas pembersih jalan (sampah daun, memeriksa saluran keluar air, memotong dahan) rutin inspeksi.

    Tentu faktor2 di atas akan membuat jalanan lebih bersih dan tak ada yg menempel di badan mobil krn diterbangkan angin. Tak heran harga mobil bekas nya pun mahal :-)



    May 23, 2012

    Enam Minggu TwinS

    Shalihah dan Shalih baru melampaui usia sebagai newborn lewat 6 minggu. Alhamdulillah sehat dan beratnya ada bertambah, susul menyusul di dekat 4 kilogram. Sudah beragam tingkah polah, mimik muka, dan beribu bahasa tubuh yang membuat kami sebagai ortu tertawa, cemas, dan (nggak bohong) lelah juga.

    Menatap si kembar yg mudah memerah entah krn kegerahan atau tak sabar (marah akan menangis). Baby Shalihah yang cantik, imut, tapi suaranya ternyata besar juga: keahliannya yang paling berkesan adalah penghasil suara pompa ban sepeda dan memainkan lidah di dalam mulutnya utk berbangkis. Lalu ada baby Shalih yg bermuka lebih besar dan berbobot (mgkn unggul 2-3 ons) yg punya keahlian lain: main harmonika dengan geleng-geleng kepalanya (ini tanda tak sabar minta minum atau sesuatu ada yg mengganggu/menempel di mulutnya), gaya menyilang tangan di perut ala pak sby, gumam enggak atau enggeh, atau sekadar memanggil eeii, aayy.

    Kalau boleh mendata, apa saja yg menjadi perhatian kami hingga usia ini:
    - Matanya kuning nggak, kulit cerah
    - Sudah dijemur, apa tak kepanasan, apa sudah dibolak balik punggungnya
    - Minum dikit, banyak … 35, 60, 80, 100 mlm berapa sendok susu nya
    - Sudah minum air putih apa belum
    - Sudah dibuat sendawa ?
    - Sudah berapa kali minum susu, apa nggak terlalu dekat jaraknya
    - Sudah tak BAB brp hari, apa perlu dibantu dgn melipat kedua kaki ke perut ?
    - Masuk angin kah, apa sudah dibalur minyak telon
    - Sudah pijat I luv u atau peregangan kaki
    - Sudah dikeringkan tato vaksin BCG atau pusar nya
    - Sudah dicek upil nya, krn bikin susah nafas dan berbunyi
    - Sudah berapa lama tidur ?
    - Sudah diganti nappy ?
    - Perlu mandi atau wash lap saja
    - Sudah brp lama nangis,mengapa dibiarkan
    - Mengapa sering digendong
    - Bisa ditidurkan bersama ?
    - Berkeringat, angin fan langsung ke badan, masuk angin ?

    Shalihah dan Shalih 20 Mei 2012 (40 hari)

    Dan akhirnya 20 Mei 2012 satu hari sebelum usia kembar memasuki masa enam minggu, tiba masa prosesi  gunting rambut. Dimulai oleh inyik dengan gunting sedikit sana-sini, akhirnya dibabat pendek dengan mesin cukur listrik oleh mamaSS. Kakak Shalihah dapat giliran cukur pertama sambil tidur dan adik Shalih mengikuti selanjutnya dgn rengek kecil plus tampang mikir sambil bengongnya ... walau akhirnya ia pun terkantuk-kantuk saat Philips Shaver bergetar bolak balik di atas kepala.

    Maafkan kami sebagai ortu ya nak, bilamana ada rasa kesal, tersakiti, atau terabaikan di saat berinteraksi dengan mu.

    May 22, 2012

    Katuk, Cekuk Manis, Ma Ni Cai

    ... tambah satu lagi Sweet Leave terjemahan bebasnya. Pertama kali istri melahirkan dan memberi ASI pada si kembar kami pun tak tahu apa sebenarnya nama sayuran yg populer di konsumsi ibu hamil ini. Di daerah saya biasa dipanggil daun katuk, rupanya di sini hadir dengan berbagai nama. Mereka percaya daun ini baik dikonsumsi ibu yg sedang menyusui krn memacu produksi ASI. Di negeri ini pula kami baru tahu bahwa pepaya hijau dan jantung pisang pun dipercaya memiliki khasiat yg sama.

    Dipanggil Cekuk Manis oleh orang Melayu dan Ma Ni Cai oleh orang Cina, mgkn artinya sama saja ya. Banyak mengandung vitamin A, B, C, K, dan berbagai protein/mineral lain meskipun dicurigai jika terlalu banyak mengkonsumsi akan kena masalah paru-paru.

    Saya sudah lupa bentuk daunnya, maklum terakhir kali makan daun ini saat masih SD, sehingga tambah susah utk mencarinya krn saya menanyakan penjual sayur dengan nama katuk :-) Alhamdulillah di supermarket Sh Si dekat rumah tersedia dgn harga yg cukup aduhai, $1.5 utk 300 gram (impor dari Msia sih he..he..). Menyiapkan cukup mudah, rontokkan daun dari batangnya, cuci dan rebus bersama garam/bawang goreng utk penyedap rasa.

    p.s terima kasih kiriman daun katuk pertama dari mas Eko dan mb Irma S saat berkunjung menegok si kembar di minggu pertama nya :-)

    May 3, 2012

    Lampu 5 Watt Serasa 25 Watt

    Di dekat salahsatu pintu ruangan kantor ada toilet untuk pengguna kursi roda seperti yg pernah diceritakan di sini. Hingga hari ini toilet ini relatif bersih dan ramai pengunjung setianya. Sayang, sudah beberapa hari sejak minggu lalu lampu di dalam toilet ini bertukar gaya menjadi lampu disko jika dinyalakan ... kedap kedip. Pertama kali saya sadar hari Jumat siang, krn terburu-buru utk pergi ke luar, saya diamkan saja. Pasrah gelap-gelapan, remang macam disko saat BAK, mata pun perlu dipejamkan agar tak sakit mengikuti irama kedap-kedip nya yg cepat dan menyilaukan :-(

    Akhir pekan pun lewat, masuk hari Senin, Selasa hari buruh libur lagi. Rabu masuk kantor ternyata kondisi tak membaik. Padahal apa susahnya melaporkan kejadian ini. Saya melihat petugas kebersihan toilet (janitor) tiap tiga jam mendatangi toilet ini namun sptnya ia pun tak melapor. Ia tentu berpikir lampu toilet rusak itu bukan
    bagian checklist pekerjaannya. Sementara pemakai lain pastinya "kapok" bertandang ke sana krn lampu rusak tsb. Hmm ... entah apa istilahnya, bystander effect, biarkan orang lain yg melapor, EGP ... Sementara bagi saya itu toilet favorit krn bisa bersuci dan berwudhu dengan lebih nyaman di dalam. Bukan mau riya, akhirnya saya inisiatif menelepon 3998 bagian facility (maintenance gedung). Saya coba ingat ini mgkn kejadian yg kedua setelah sebelumnya ada kejadian sama tanpa ada yg melapor jg. Padahal betapa mudahnya menelepon, telp gratis ada di dekat toilet, nomornya pun dipajang di tiap pintu masuk kantor !

    Kalau tak salah saya melapor usai shalat Zuhur. Saat ingin wudhu utk shalat Ashr ternyata lampu sudah diganti alhamdulillah. Cepat kan ! Ini Singapura dan kantor sudah bayar mahal kepada pengelola gedung. Nomor telepon bagian fasilitas ditempel dimana-mana bukan tanpa makna :-)

    ********



    Indonesia dan China
    Masih soal lampu. Di malam hari kadang-kadang kami pakai lampu kecil di kala tidur. Entah sudah berapa lama umur bola lampu yg terpasang di sana. Cukup terang dan tak silau di malam hari, kalau tak salah hanya lima watt daya nya. Dua hari yang lalu bola lampu tsb putus dan baru sempat tadi pagi mencari gantinya. Cari punya cari tidak bertemu bolam lima watt tsb. Yang ada bolam hemat energi lima watt atau bolam biasa dgn daya minimum 25 watt. Wah boros sekali dan bakalan panas kamar tidur kalau harus menyalakan bolam 25 watt.

    Apa mau coba teknologi hemat energi, diklaim hingga 80% hemat krn dengan memakai daya lima watt menghasilkan cahaya terang setara bolam 25 watt. Benar-benar 80% penghematan seperti tertulis di bungkusnya. Hebatnya lagi bolam ini punya umur 6000 jam (asumsi saya ini nonstop) yang setara dengan 3 tahun tulis di bungkusnya (3 x 365 x 5.4 jam) alias pemakaian 5-6 jam sehari. Hmm pilih mana ya ? Dari sisi harga bolam biasa (MADE IN INDONESIA) ini hanya 90 sen harganya dan bolam hemat energi (MADE IN CHINA) adalah $6 alias lebih dari enam kali lipatnya. Sebenarnya kami tak perlu 25 watt, tapi inilah ukuran paling kecil yg dijual di sana he..he.. Mau tunggu toko-toko kelontong di luar belum buka jam 8 pagi begini. Seingat saya bolam biasa 5 watt juga harganya sekitar satu dollar (ah sami mawon).

    Akhirnya saya putuskan beli bolam hemat energi. Terangnya sih tak seberapa, maklumlah ini memakai teknologi neon jg. Namun "katanya" lebih tahan lama dan lebih hemat utk terang yg sama (mis. 25 watt). Sambil membandingkan keduanya saya teringat mengapa bolam hemat energi tidak dibuat di Indonesia juga ? Apa kita hanya jadi tempat membuat barang murah ?

    Apr 25, 2012

    Perlukah Terima Kasih

    Blog ini pernah memuat tulisan tentang Mahalnya Salam dan Sapa beberapa waktu yg lalu. Nah sekarang saya mau menulis tentang hal yg mudah ditemui di dalam kehidupan bermasyarakat yaitu berterima kasih.

    Terima kasih umumnya wujud sebagai sebuah sikap/rasa/etika ketika seseorang mendapatkan bantuan/kemudahan. Usaha apa yang Anda perlukan untuk berterima kasih. Berapa banyak energi yang perlu dikeluarkan untuk itu ? Wujud berterima kasih dapat berupa ucapan terima kasih, senyuman, kerlingan mata, atau bahasa tubuh (gesture) unik yg paling mudah dilakukan. Terkesan amat mudah terutama bagi sebagian orang meskipun terkadang ada situasi kondisi alami yg membuatnya sulit berekspresi. Saking biasanya ia berterima kasih maka ia pun akan berterima kasih kepada Sang Pemberi Kemudahan (Allah Swt) yg ia pun belum pernah berjumpa dengan Nya, mahluk hidup tak berakal (misal panen yg berhasil, kepada sang kucing yg berhasil menangkap tikus pengorek dapur, seorang tuna netra kepada anjing penuntun dll) dan bahkan benda mati sekalipun (mobil yang bertahun-tahun menemaninya menjadi agen rumah, pulpen yg berjasa di saat ujian, laptop yg tak rewel saat presentasi, dll).

    Namun bagi sebagian yg lain berbuat demikian itu sangat susah. Perlu usaha besar ! Saya mengamati ada beberapa penyebab yg menghambat fitrah manusia yg pada dasarnya membutuhkan kehadiran manusia lain dalam kehidupannya (mahluk sosial) menjadi sulit menyampaikan syukran (terima kasih) ini. Dimulai dari alasan yg umum:
    (1) Tidak terbiasa sehingga refleks utk itu tiba terlambat
    (2) Belum mendapatkan yg sesuai dengan yg ia inginkan
    (3) Sudah merasa itu hak nya sehingga tak perlu berterima kasih
    (4) Ia tak merasa perlu dibantu sehingga tak merasa berhutang terima kasih.
    (5) Kecewa dengan berterima kasih krn tak dihargai

    Penyebab pertama dan mayoritas adalah TIDAK BIASA. Bukan berarti mereka tak pernah diajarkan atau tahu tentang hal ini, hanya saja tak biasa mempraktekannya. Bingung mengungkapkan dengan cara pada saat yg pas. Bahkan ada yg sampai berkeringat dingin setelah dipaksa kawan-kawannya untuk menyatakan terima kasih. Bagi anak-anak yg baru mengenal orang-orang lain sekitarnya ini adalah hal yg wajar namun bagi remaja atau orang dewasa kasihan sekali. Padahal terima kasih itu adalah sebuah siklus energi positif take-n-give yg memang harus mengalir sejatinya. Apa krn seseorang itu merasa perlu jaim (jaga image) atau gengsi untuk berterima kasih, hanya Allah Swt dan dia yg tahu. Buat saya pribadi, terima kasih itu bagai hutang yg harus segera dibayar agar hati ini terasa ringan tanpa beban. Sederhana dilakukan, berat dalam makna, semoga Allah Swt membalas tiap kebaikan yg kita terima dengan kebaikan pula.

    Penyebab kedua timbul krn adanya perbedaan harapan. Seseorang merasa tak perlu berterima kasih terhadap hal-hal yg remeh temeh. Standar orang ini tinggi. Ucapan terima kasih baru layak jika ia sudah merasa apa yg diinginkan terpuaskan. Penyakit ini paling sering melanda para majikan dengan pembantunya, boss dengan OB nya, dll. Namun jangan salah, kejadian ini juga dapat menimpa orang2 yg suka berdoa instant. Ia berdoa sekarang dan mau mendapat sesuai keinginannya saat itu juga / dalam waktu dekat. Selama keinginan belum kesampaian, lupalah ia berterima kasih.

    Bentuk ketiga yg umum ditemui adalah jika ada orang yg merasa sesuatu itu (misalnya pelayanan, honor ekstra, waktu luang dll) sudah hak nya maka ia tak akan berterima kasih. Padahal bisa saja ia mendapatkan hal-hal tsb karena ada orang lain yg “sudah berkorban” untuk memberikan kenyamanan/keuntungan tsb kepada nya. Saya menyadari fenomena ini pertama kali saat mengamati penumpang MRT/bus yg menempati reserved seat (kursi khusus yg diprioritaskan utk warga tua, bumil, kurang upaya / cacat). Jika kakek-nenek / ibu hamil / orang yg menggendong anaknya itu diberikan tempat duduk di seat yg sudah ada tanda reserved utk mereka, mereka akan tak berterima kasih, namun jika di deretan kursi lain mereka akan berterima kasih. Warga tua itu merasa kursi spesial itu memang utk mereka sehingga adalah kesalahan besar bagi orang sehat utk duduk di sana. Menurut saya, tidak ada yg salah dengan duduk di kursi khusus ini, selama tak ada yg lebih membutuhkan di dekat sana. Contoh lain seperti di supermarket, saat ada petugas/kasir yg membantu membungkuskan seluruh barang belanjaan ke dalam plastik-plastik, tukang parkir, OB di kantor yg membersihkan meja/karpet, supir taksi yg mengantar dengan selamat dll. Intinya utk apa mereka berterima kasih krn sudah menjadi hak mereka, tak perlu berterima kasih krn mereka sudah membayar layanan tsb, dll.

    Hampir mirip dengan bentuk ketiga, ada tipe orang yg tak merasa perlu dibantu, hanya orang-orang di sekitarnya saja yg tergerak utk membantu. Nah utk aksi sosial semacam ini mereka lebih sering tak berterima kasih he..he.. Saya masih kuat koq, saya tak perlu dengan kebaikan Anda koq, uang saya ada utk membayar tak perlu repot-repot, dll. O..ya anak perlu diajarkan utk hal yg satu ini. Anak merasa sudah terbiasa dibantu/mendapat kemudahan oleh orang tua/kakak/babysitter nya sehingga ia "lupa" atau tak mengerti apakah perlu berterima kasih. Memang bantuan itu wujud sayang namun sangat tepat jika anak diajarkan bahwa terhadap "servis" yg memang layak ia terima (take for granted) itu ia pun seharusnya berterima kasih. Sebagai pembiasaan dan pembelajaran.

    Nah salahsatu penyebab mengapa orang melupakan terima kasih adalah krn ia pernah kecewa sebelumnya. Ia berterima kasih namun tak mendapat respon apa-apa (bagi yg masih belajar, tentunya ingin juga mendapat respon balik semacam senyuman atau feedback spt Terima Kasih Kembali, You Are Welcome, Anytime, don't Mention It). Alih-alih balasan yg mesra, ia mendapat muka masam atau umpatan ketus yg tak pernah terpikir olehnya. Penerima bantuan justru sakit hati seperti pengemis yg menerima sedekah plus caci maki yg menghinakan atau seorang anak yg sudah berhasil naik kelas dgn bimbingan kakaknya namun ia mendapat cemoohan karena nilainya sedang-sedang saja. Nah barisan kecewa ini pelan-pelan menanam kesan tak perlu berterima kasih jika hanya menuai kekecewaan.

    Sebenarnya berterima kasih itu tak bermodalkan apa-apa kecuali kebesaran hati. Ganjarannya luas dan berlipat ganda. Tanpa menantikan iming-iming ganjaran pun sebenarnya sikap berterima kasih itu menyehatkan jiwa. Dari bbrp negeri yg sudah pernah kami singgahi, Jepun adalah negeri yg paling ramai orang mempraktekkan terima kasih. Tentu tak perlulah dibahas di sini, apa ungkapan terima kasih itu tulus atau tipu he..he.. Sedikit melenceng dari topik, di sinilah pintarnya orang-orang yg pandai memanfaatkan celah untuk tujuan kejahatan / KKN, rajin berterima kasih untuk menebar ranjau. Terima kasih mereka berisi alias tidak kosong, selalu ditempeli angka atau parsel mulai sebatang rokok hingga kunci properti. Luar biasa sanjungan ungkapan terima kasih yg berbau amis berstiker balas jasa ini. Mereka yg menerima "terima kasih" biasanya sukar mengelak untuk tak memberi bantuan di kemudian hari karena merasa berhutang budi atau haus ingin disiram "terima kasih" lagi :-(