Oct 15, 2005

Refleksi di Akhir Kenabian Rasulullah SAW


Assalaamualaikum wr wb,

Iftar bersama IMAS 15 Oktober 2005

Lokasi: 419 Canberra Rd #14-399

Agenda

(1) Tilawah Quran dan Terjemahan

(2) Perkenalan (Ta'aruf) dari 24 IMAS wan yang hadir

(3) Nasehat (Tausiyah)
Topik: Refleksi dari sirah hari-hari terakhir Rasulullah SAW (diambil dari buku ...)

Ada beberapa peristiwa penting yang dicatat pada hari-hari terakhir tsb.

(3.1) Sakitnya putra terakhir Rasulullah SAW
- Dalam sirah ini dikenal tiga putra Rasul yaitu Qosim dan Abdullah (dari Khadijah r.a) dan terakhir Ibrahim (dari Maria Qibtiyah r.a, seorang mantan budak yang dimerdekakan Rasul). Sementara dari keempat putrinya (semuanya dari Khadijah ra - Zainab, Ruqayyah, Ummu Khulsum, Fatimah), hanya Fatimah yang tetap tinggal di dekat Rasul sementara yang lain telah wafat .
- Ibrahim bin Muhammad tinggal di desa bersama ibu susuannya Umm Saif di saat Rasul pergi perang Tabuk. Sakit Ibrahim yang masih menyusu ini terjadi beberapa bulan setelah Rasul pulang dari Tabuk. Sakit parah ini tidak lama dan berakhir dengan kematian.
- Tak kuasa Rasul menahan sedih dan hampir rubuh apabila tidak dibimbing Abdurrahman bin Auf ra. Kesedihan Rasul menunjukkan sisi kemanusiaan yang tak dapat hilang meski beliau seorang Rasul. Ketika air mata beliau mengalir Abdurrahman bin ‘Auf bertanya: “Apakah Anda menangis wahai Rasulullah sementara engkau melarang kami untuk menangisi orang mati ?” Rasul menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak
mengucapkan kecuali yang diridhai Allah SWT. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.”
(HR. Al-Bukhari). Jadi yang dilarang Rasul adalah menangis dengan jeritan/lolongan yang tidak terkontrol.
- Rasul pula melanjutkan:"Aku tidak melarang orang berduka cita, tapi yang kularang menangis dengan suara keras. Apa yang kamu lihat padaku sekarang ialah pengaruh cinta dan kasih di dalam hati. Orang yang tiada menunjukkan kasih sayangnya, orang lain pun tiada akan menunjukkan kasih sayang kepadanya."

(3.2) Pemakaman Ibrahim
- Ibrahim dimakamkan di Baqi'. Selesai pemakaman, Rasul memercikkan air di atas kubur tsb dan berkata: "Sebenarnya ini tidak membawa kerugian, juga tidak mendatangkan keberuntungan. Tetapi hanya akan menyenangkan hati orang yang masih hidup. Apabila orang mengerjakan sesuatu, Tuhan lebih suka bila dikerjakan secara sempurna."
- Pada hari yang sama kebetulan terjadi pula Gerhana Matahari. Sebagaimana umat-umat beragama terdahulu (baca: Islam dan Peradaban oleh Nurcholis Madjid) beberapa kaum muslimin mencoba mengaitkan kejadian ini dengan mukjizat. Rasul tidak terhibur dengan kata-kata mereka dan tidak tinggal diam dengan orang-orang yang mengatakan bahwa matahari telah jadi gerhana karena kematian Ibrahim. Rasul bersabda "Matahari dan Bulan adalah tanda kebesaran Tuhan, yang tidak akan jadi gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Bila kalian nampak peristiwa tsb. berlindunglah dengan zikir kepada Allah dengan shalat dan doa."
- Di sini jelas bahwa Muhammad SAW adalah seorang jujur dan tak pernah berdusta sekalipun dalam kondisi yang sangat sedih dan genting.

(3.3) Rasul menyelesaikan tugas-tugasnya
- Ditandai dengan telah bersatunya jazirah Arab ke dalam Islam.
Prosesnya ada yang singkat seperti kisah Khalid bin Walid yang diutus ke Najran, ada yang panjang dengan perjanjian-perjanjian, ataupun yang memerlukan pertikaian dahulu.

(3.4) Pelaksanaan haji Wada
- Ada riwayat menyatakan Rasul pernah berhaji dua kali sebelumnya. Namun haji Wada ini adalah paling istimewa karena diikuti oleh rombongan yang amat besar (kurang lebih 120 ribu orang) dari berbagai kabilah dan sudah mengikuti aturan baku yang kita kenal sebagai manasik haji sampai hari ini.
- Berkumpulnya beragam penduduk ini menunjukkan bahwa Islam telah dapat menyatukan berbagai suku bangsa saat itu. Satu tahun sebelum haji Wada (9H), rombongan haji di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib ra telah merintis aturan baku tsb (misalnya orang kafir tidak boleh lagi pergi naik haji pada tahun-tahun selanjutnya, melarang orang-orang yang thawaf
bertelanjang).
- Rasul menunaikan thawaf, sai, dan selanjutnya melepas ihram. Rasul menyuruh bagi siapa saja yang tiada membawa hewan untuk disembelih untuk membuka ihramnya dan menghalalkan apa saja yang haram selama ihram. Beberapa sahabat ragu-ragu melepas ihramnya dan ini membuat Rasul gusar. Setelah mengetahui hal tsb ribuan kaum muslimin, termasuk istri-istri Rasul dan Fatimah ra juga melepaskan pakaian ihramnya. Yang masih mengenakan pakaian ihram hanya mereka yang membawa ternak kurban.

(3.5) Khutbah haji Wada di Namira (Arafah)

- Khutbah yang amat terkenal (9 Zulhijjah 10H).


- Sementara Rasul berkhutbah, seorang relayer bernama Rabi'a bin Umayya mengulanginya kalimat demi kalimat, agar para hadirin benar-benar mengerti dan mengingat apa yang disampaikan Rasul.
- Setelah pada sampai pada akhir khutbah, Rasul menutupnya dengan berkata "Ya Allah ! Sudahkah kusampaikan ?!" Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab: "Ya!". Lalu kata Rasul: "Ya Allah, saksikanlah ini!".
- Khutbah ini mejadi hadits yang mutawatir karena begitu banyaknya perawi yang meriwayatkan.
- Kemudian Rasul wukuf dan di malam hari turunlah QS 5.3 (Hari inilah Kusempurnakan Agamamu).

(4) Kesimpulan
- Rasulullah memiliki sisi kemanusiaan yang amat dalam.
- Mitologi atau mengaitkan mitos-mitos dengan peristiwa kehidupan adalah amat dibenci oleh Islam.
- Rasulullah SAW tetap mempertahankan hak dan kejujurannya yang sungguh-sungguh meskipun dalam keadaan
kesedihan dan keharuan yang amat dalam.
- Haji Wada merangkum kegiatan manasik haji yang benar dan wajib diikuti sampai kini.
- Hayati isi khutbah Rasulullah SAW pada haji Wada karena isinya yang begitu penting.

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete