OK itu cerita di mesin kiri, tak banyak ulah, as simple as that, its magic will swallow your money and turn it into one new line printed in your bank book. The bank owns the real money now and you bring home the same dull bank book.
Nah di gambar kanan, ada mesin yang dibuat lebih pintar. Namanya coin deposit machine, tidak setiap bank punya ini. Setahu saya hanya bank lokal terbesar yang memiliki mesin jenis ini. Namun ia tak mau melumat apa adanya, harus setuju dulu dengan imbalannya. Benar, tiap koin yang dimasukkan, dikenakan “biaya admin” $0.0075. Jadi jangan iseng mendepositkan sebuah koin $0.01 (alias 1 sen) karena biayanya adalah 75% dari nilai nominal ! Dan karena ada pembulatan ke satuan sen terdekat berarti biaya 0.75 sen digenapkan menjadi 1 sen, alias tabungan kita tak akan bertambah :-) Untuk koin 5 sen berarti 15% hangus untuk biaya admin.
Pemakai boleh memilih, mau meneruskan transaksi (menyimpan koin-koin tadi di account tabungan nya) atau membatalkan. Sekali ia menekan tombol setuju dan menumpahkan koin-koin simpanannya di slot penyimpan (hopper tray)… That’s It … tidak ada istilah kembali karena slot penyimpan tadi sudah menelan bulat-bulat logam-logam bundar tadi.
Kami pernah menyetor $10.05 ke dalam mesin ini dan akhirnya harus puas dengan $9.36 saja dikarenakan biaya siluman tadi. Seperti disengaja, peringatan yang ditujukan untuk pemakaian mesin yang benar (spt tidak memasukkan koin asing, koin yang kotor/basah, dll) dibuat besar dan jelas, sementara peringatan akan adanya biaya admin ini dibuat kecil menyempil :-(
Difikir-fikir kerja mesin penampung koin ini ribawi karena terjadi tukar menukar benda yang bernilai sama namun ditransaksikan dengan harga berbeda. Perhatikan hadist Rasulullah SAW:
Hadits di atas berlaku bagi penukaran benda sejenis: emas dengan emas, perak dengan perak, korma dengan korma, garam dengan garam, tepung dengan tepung. Syarat sahnya adalah harus sama nilai dan takarannya, dan kontan. Bila salah satu berlebih, atau salah satu ditunda penyerahannya, muncullah unsur riba. Pada yang pertama riba karena unsur tambahan disebut riba al fadl. Pada yang kedua riba karena unsur penundaan disebut riba an nasi'ah.Transaksi pertukaran emas dengan emas harus sama takaran dan timbangannya, dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; perak dengan perak harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; tepung dengan tepung harus sama takarannya dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; korma dengan korma harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba; garam dengan garam harus sama takaran dan timbangannya, dan dari tangan ke tangan (kontan), kelebihannya adalah riba. (HR Muslim)
Jadi daripada merugi menukarkan koin logam ini di bank, lebih baik koin nya dipakai saja. Supermarket atau toko kelontong masih mau menerima koin 5 sen, meskipun mereka tak rela menerima koin 1 sen :-)
Hadits dikutip dari lelaman wakala nusantara
No comments:
Post a Comment