Aug 24, 2008

Negeri Para Pelari Tulen

Citius, Altius, Fortius (tercepat, tertinggi, terkuat) adalah semboyan olimpiade yang diperkenalkan pertama kali tahun 1924 pada olimpiade ke VIII di Paris. Saat ini di olimpiade 2008 Beijing telah tercatat 204 negara peserta yang tetap memegang impian yang sama dengan semangat 84 tahun lalu itu.

Ethiopia, Jamaica, dan Kenya selalu berhasil menyodok supremasi Amerika Serikat dalam dalam lomba lari. Sementara Cina yang mendulang 100 medali hanya mampu meraih satu perunggu dari maraton wanita. Lomba lari memang tidak mengenal peringkat GDP, siapa saja dari negara manapun pasti mampu bersaing di cabang olahraga yang hampir zero-investment (tiada modal lain kecuali semangat dan latihan 3x) ini. Memang AS sebagai pemilik GDP nomor 1 hingga hari ini dapat menyediakan fasilitas, pelatih, gizi dan jenis sepatu lari yang jauh lebih baik dibandingkan ketiga negara lainnya yang masih tertatih-tatih di luar peringkat 70 besar GDP dunia. Coba perhatikan fakta-fakta ini:
  • Usain Bolt, si kejutan kilat (Thunder Bolt) dari Jamaica, menjadi atlit atletik pertama di dunia yang meraih tiga medali emas dan memecahkan tiga rekor dunia dalam satu kancah olimpiade (2008).
  • Dari total 11 medali yang diperoleh Jamaica (6-3-2, peringkat 13), 10 medali oleh Kenya (5-5-4, peringkat 15), dan 7 medali oleh Ethiopia (4-1-2, peringkat 18), kesemuanya adalah dari cabang lari (2008).
  • Jamaica adalah pendulang medali di ranah lari sejak keikutsertaannya 60 tahun lalu. Hanya satu medali dari total 55 medali yang diraihnya selama itu berasal dari cabang lain yaitu sepeda di tahun 1980.
  • Ethiopia membuntuti dengan prestasi yang sama, total 38 medali berasal dari cabang lari sejak 1960.
  • Kenya berprestasi dengan 64 medali dari lari dan 10 medali lainnya disumbangkan dari keahlian lain yaitu tinju sejak negara ini berpartisipasi pertama kali tahun 1964.
Nah bagaimana dengan Indonesia ? Kalau diperhatikan iklim di Jamaica mirip dengan iklim negeri kita. Orang-orang Afrika pemenang lomba lari inipun tidak memiliki tubuh besar seperti atlit lari african-negro dari AS. Jadi tidak ada alasan mengapa pelari-pelari kita tidak mampu bersaing untuk sekurangnya sepuluh besar dunia, hanya dengan dua modal utama citius dan fortius sahaja.

Tulisan ini dibuat saat penyerahan medali olimpiade 2008 terakhir, pingat emas untuk pelari Kenya dalam lomba maraton pria, 24 Augustus 2008.

Aug 23, 2008

Are You A Number Cruncher ?

Apa Anda peminat angka, hobi mengutak-atik bilangan, mengingat definisi pi sampai digit ke 17, mengingat nomor telepon rekan2 dengan trik yang fantastis, membaca pola khas dari deretan angka, meramal sesuatu dengan statistika, mengagumi tabel/grafik/diagram bak sebuah karya novel fiksi ternama, atau mengamati di dunia ini hanya ada 10 tipe manusia antara yang fasih biner dan buta biner ? Nah ... jika ada beberapa hal di atas yang menjadi hobi atau talenta yang kuat, maka Anda cocok untuk rajin membaca surat2 kabar di Singapura, untuk mengasah dan menghidupkan keistimewaan itu tiap hari. Tak perlu surat kabar bisnis atau serius yang biasanya mahal, baca saja yang gratis diberikan tiap pagi hari.

Ini contohnya, dalam satu harian gratis Today yang beredar awal minggu ini, sekurangnya ada 5 fakta berhubungan dengan angka (statistika) di negeri ini.
  1. 1.1 juta pekerja pria di negeri ini membentuk 57% dari total angkatan kerja, sisanya 819000 adalah pekerja wanita. Rata-rata pendapatan kaum pria adalah $4335 dan kaum wanita $3148 per bulan menurut data tahun 2007. Dari total angkatan kerja tsb 10% nya adalah pekerja muslim.
  2. Popularitas handphone yang dijual di pulau ini ditempati Nokia di posisi pertama dengan 47% jumlah pemakai, diikuti Sony Ericsson di posisi kedua dengan 27%, dan Samsung di posisi ketiga dengan 17%.
  3. Tercatat 511000 pelanggan TV kabel Starhub dan 45000 pelanggan on-demand channel dari penyedia jasa internet Singtel-Mio. Mereka bersaing menyediakan paket harga dan jenis siaran yang menarik untuk mendominasi pangsa hiburan lewat TV di Singapura.
  4. Kebakaran yang disebabkan kelalaian membuang puntung rokok atau lidi kemenyan yang masih menyala menyumbang 1625 kasus kebakaran (meningkat 24%). Jumlah total kebakaran di semester pertama tahun ini adalah 2545 kasus, artinya meningkat 12% dari tahun sebelumnya, namun masih lebih kecil dibandingkan rata-rata selama 10 tahun.
  5. Dalam semester pertama tahun ini ada 2048 panggilan bohong (false alarm) terhadap layanan mobil ambulan darurat (34% peningkatan). Total panggilan kecemasan (emergency) di semester pertama tahun ini tercatat 55744 kali, sebuah peningkatan signifikan 12% dibandingkan tahun lalu. Dari total panggilan tsb: 70% kasus berhubungan dengan sakit dada/jantung (umumnya diderita manula), 19% kasus kecelakaan di tempat kerja, dan sisanya adalah kecelakaan di jalan raya.
Sekarang tergantung apa dan siapa pembaca angka-angka ini: Apa ia seorang pelayan masyarakat, agen tenaga kerja, anggota parlemen, kepala unit gawat darurat rumah sakit, menteri kesehatan, polisi, penjual polis asuransi, marketing alarm kebakaran, dll ... tentunya akan memberikan interpretasi yang berbeda-beda. Nah si mr. number cruncher akan mengolah data-data ini untuk selanjutnya disajikan dalam sebuah executive summary untuk boss nya atau dirinya sendiri yang merangkap sebagai pengambil keputusan.

Aug 22, 2008

Hantu Lapar ... Beri Hamba Makan

Boleh saja hantu lapar, pasti banyak yang bersedia memberi makan dan sesembahan lain. Tapi coba kurangi polusi dan bantulah bumi agar lebih sejuk di tiap pertengahan tahun. Cerita hantu lapar amat mudah ditemukan di Google dengan kata kunci "Hungry Ghost Month", contohnya ini.

Bulan 7 dan 8 kalender Cina (Tao dan Budhis) adalah bulan paling seru menurut pengalaman saya hidup di sini. Bakar-bakaran, meja sesembahan, dan lelang malam hari barang2 sesajen yang dijual dengan harga gila-gilaan atas nama memberi makan hantu agar si pembeli selamat, "membayar hantu" atas segala keberuntungan yang diperoleh selama setahun, memohon pada hantu agar dapat lotere (toto/4D), dll. Dapat dibayangkan bila aktivitas ini akan membuat malam hari lebih hidup dan siang hari lebih panas dan sesak.

Malam hari lebih hidup karena munculnya panggung2 dadakan yang akan melelang barang2 kepercayaan tadi (suasana hingar bingar oleh suara MC yang melakukan auction dengan ampli dan speaker dolby stereo) dan sering juga disertai penampilan glamour nan seronok dari penari2 getai yang dipercayai untuk menghibur arwah orang yang telah mati (ghost). Siang hari menjadi sesak nafas karena asap tebal dan bau-bauan yang ditimbulkan lilin2 merah gede, kemenyan yang dibakar, atau yang lebih heboh berupa uang kertas, rumah2an, mobil2an, dan berbagai atribut lain dari karton yang dibakar di alam terbuka. Padahal di Cina sendiri (baca: RRC) kepercayaan ini sudah dilarang pemerintah komunis sejak 1966-1976. Namun di luar RRC ritual ini terus dilestarikan, termasuk di pulau-pulau kecil di Kepulauan Riau dan toapekong (kuil2 Tao) di pulau Jawa masih melakukannya.

Salut dengan kebijakan dewan kelestarian alam pemerintah Taiwan yang memulai kampanye membatasi aksi bakar-bakaran ini. Baca beritanya dari AFP dan juga dimuat di harian Today 22 Agustus berikut. Dampak dari kegiatan yang mencapai puncaknya pada tanggal 15 bulan hantu lapar ini dipastikan akan meningkatkan pemanasan global karena 1 ton CO2 akan dihasilkan untuk tiap 1 ton kertas yang dibakar, penyebaran gas2 karsinogenik bagi tubuh (metilbenzen, etilbenzen, dan derivat2 lainnya yang berbahaya), dan yang pasti gundulnya hutan. Sudah menjadi kebiasaan bahwa ritual ini tidak hanya dilakukan perorangan atau keluarga, namun juga diikuti perusahaan2 yang masih kuat memegang tradisi ini turun temurun. Intinya agar dalam menjalani bulan hantu ini mereka diberi keselamatan dan diberikan keuntungan di bulan2 lain.



Quotes:

"It is difficult to stop an age-old custom but gradually our followers are accepting the change and use less paper money" he said. AFP

"In the past, we burned several truckloads of paper money brought by our followers in Ghost Month. The stoves cracked after burning nonstop and the smoke was terrible" said Chang Chun-hung...

"Burning paper money not only pollutes the air and affects peoples health, but causes so many trees to be cut down" said Mr. Hui-chuan...

Aug 19, 2008

15 hari sebelum HUTRI ke 57 (3. Andenken)

Guten morgen Muenchen

Pagi hari pun tiba, jam tangan sudah disesuaikan dengan waktu setempat. Berdasar info yang sempat saya baca dari internet saat ini sudah Subuh. Mata masih berat dan antara sadar dan tidak bahwa arah kiblat di Eropa Barat itu ke tenggara :-) Bermanfaat sekali bawa kompas, namun seingat saya kami tertidur pagi itu karena waktu Subuh di musim panas berakhir lebih awal lagi (di musim panas matahari cepat terbit dan lambat terbenam artinya waktu siang lebih panjang). Buru-buru shalat deh karena di luar hari hampir terang. Setelah mandi dan sarapan seadanya kami bersiap untuk menjajal hari Senin pertama kali di kota Muenchen ini. Di luar apartemen udara tak dingin meski sukar juga dibilang hangat pada jam 10 pagi itu. Sebelum menutup pintu keluar pastikan dulu anak kuncinya sudah dibawa, hal ini mengingat pintu2 apartemen umumnya tidak memiliki lobang kunci di sisi luarnya. Agen kami Andreas mengingatkan agar berhati-hati jangan sampai kunci tertinggal di dalam apartemen, karena sekali kita berada di luar dan pintu tertutup … tamatlah riwayat. Pintu sama sekali tak dapat dibuka lagi dari luar karena ia otomatis tertutup meskipun bukan pada posisi terkunci. Pada sisi luar, gagang pintu hanyalah gagang statis dan pintu hanya dapat dibuka dengan menggunakan anak kunci tsb. Kalau masalah ini terjadi terpaksa panggil Hausmeister atau Landlord yang memiliki kunci cadangan. Kalau harus panggil tukang kunci (locksmith) … wah bisa kena EUR50.

Menuruni anak tangga lalu sebelum pintu gerbang utama kami bertemu dengan Hr. Hafner, sang Hausmeister. Sudah tua dan lamban rupanya, ia selalu ditemani anjing setianya. Postur anjing ini cukup besar dan seperti biasa it likes to sniff the strangers … sok akrab. Padahal saat itu kami sedang menuruni koridor tangga yang sempit. Dengan sedikit senyum dan kewaspadaan kami sapa bapak itu dan ia cukup mengerti dengan kegelisahan di raut muka kami sehingga harus menarik jauh-jauh anjingnya :-) Selamat deh … kini kita sudah bebas di luar blok apartemen tersebut. Mungkin ada 12 unit apartemen di dalamnya dan semuanya memilik alamat yang sama Wotanstrasse 23. Oleh karenanya tiap unit apartemen memiliki kotak pos tersendiri dengan nama pemiliknya dan tiap unit apartemen memiliki bel di gerbang utama (di sebelah bel rumah diletakkan nama) untuk memanggil pemilik yang dituju. Pemilik apartemen yang bersangkutan dapat bertanya kepada tamu yang datang via interkom di dekat bel tersebut dan ia dapat menekan tombol pembuka gerbang tsb dari apartemennya bila tamu itu memang diundang. Di luar tampak gerobak-gerobak sampah besi yang cukup besar terbuat dari baja menunggu untuk dikosongkan, maklumlah di akhir pekan tentu tidak ada truk pengangkut sampah. Posko taksi di luar pun sudah buka menunggu panggilan.

Sesuai petunjuk kami langsung berjalan mengikuti jalan raya ke arah kanan menuju terowongan Laim. Kendaraan berjalan dengan arah berlawanan karena mobil-mobil di sini memakai kemudi di kiri. Halte bus pun terletak di kanan jalan dan penumpang menaiki bus dari sebelah kanan bus. Tidak terlampau jauh, kurang dari 10 menit kami telah tiba di mulut terowongan besar dan panjang ini. Ada dua mulutnya, satu untuk kendaraan dua arah dan satu lagi untuk pejalan kaki dan sepeda. Melewati lorong jembatan yang lembab dan tak berbau segar ini perlu waktu 3 menitan, di dalamnya cukup ramai orang berjalan, ada parkir sepeda yang berjejer rapi dan ada seorang pengamen musik yang serius di tempatnya tanpa peduli berapa uang yang dilemparkan pejalan kaki ke dalam tasnya. Dengan memperhatikan orang-orang turun naik di sebuah tangga, tahulah kami bahwa itu adalah akses menuju stasiun Laim, dan ini dipertegas dengan simbol huruf S besar berlatar hijau. O… itu lambang S-Bahn, kereta listrik cepat (schnellbahn).

Tampak dua kotak telepon umum (Deutsche Telekom dengan lambang T warna pink nya), kami masuk ke salahsatunya dan mencoba "kesaktian" kartu telepon Singtel ICC yang katanya dapat dipakai menelepon antar negara. Alhamdulillaah benar saja kami dapat terhubung ke Jakarta dan Padang meskipun tarifnya mahal SGD 1.33/menit (ini darurat bung !). Dibanding MRT di Singapura, sistem keretanya ruwet dan minim informasi dalam bahasa Inggris, awalnya membuat bingung. Maklum saja kota ini memiliki banyak jalur kereta baik di atas atau bawah tanah, tentu saja banyak persimpangan dan zone harganya. Jenis tiket keretanya beragam mengikuti keperluan: ada tiket harian, mingguan, bulanan, akhir pekan, sendirian, partner untuk 2-5 orang, tiket strip yang dapat dipakai berulang-ulang. Tarif dalam kota umumnya dibatasi per ring (per zone), sebagai contoh tiket bahn dari rumah ke kantor melewati berapa ring maka tiket itu akan berlaku utk ke setiap stasiun yang terletak di dalam kedua ring tsb baik dengan menaiki bus/U-bahn/S-bahn (U:unter atau kereta bawah tanah). Memang murah dirasakan bila kita beli yang bulanan dan mencakup beberapa ring sekaligus.

Modal utama di Jerman ini memang KEJUJURAN. Untuk masuk ke platform tunggu kereta sama sekali tidak ada pintu (pembatas) masuk ke sana, tidak ada pengawas yang memeriksa karcis masuk atau keluar. Berbeda dengan di JP/SG/ID. Penumpang perlu memiliki karcis yang benar untuk rute perjalanannya saat itu. Ada juga tipe karcis yang harus di ”jegreg” dulu (diberi stemple atau cap sesuai tanggal, jam, dan kode stasiun tempat ia naik saat itu) pada mesin stempel (entwertungsstempler) yang berdiri kaku di beberapa tempat di stasiun. Ini umumnya adalah tipe-tipe karcis untuk sekali pakai seperti tiket satu arah sekali jalan (einzelfahrkarte), tiket strip untuk beberapa kali jalan (streifenkarte), tiket harian (tageskarte), dan tiket akhir pekan (schoenes wochenende karte). Membosankan bentuknya karena hanya kotak biru besi yang menggantung di atas tonggak besi 120 cm. Namun kalau kedapatan kita curang atau tidak beli karcis saat inspeksi mendadak di kereta, masalah besar deh, kena denda (max. 30 euro waktu itu) dan kalau sampai 3 kali berbuat salah akan menghambat izin tinggal kita di sini. Utk kereta2 ke luar kota/jarak jauh baru ada kondektur pemeriksa karcis dan untuk kereta dalam kota maka pemeriksaan akan dilakukan secara acak oleh petugas berpakaian seragam atau preman.

Sesuai petunjuk dalam booklet kantor dan peta perkeretaan Munich maka untuk menuju kantor kami perlu membeli karcis kereta untuk sekali jalan dalam dua ring (Laim ---> Karl-Preiss Platz). Setelah itu tiket perlu distempel di dalam mesin pen jegreg (sukses setelah diajari penumpang lain). Mengikuti petunjuk, kami naik S-bahn menuju stasiun utama Muenchen (Hauptbahnhoff/Hbf). Tak lama kemudian S-bahn tiba di Hbf yang hanya berada tiga stasiun dari Laim. Disebabkan perut masih lapar kami muter-muter di dalam Hbf dan beruntung ada kedai Burger King di lantai duanya. Ya sudah, kita isi perut dulu makan burger dan minum susu coklat panas disana seharga EUR 6.50. Kesan kami pertama pada penduduk lokal adalah mereka ramah asal saja kita menyapa mereka pertama kali. Hitung-hitung praktek langsung kosa2 kata pertama di alam nyata ... Guten Morgen, Gruß Gott, Vielen Danke, Bitte, Entschuldigen Sie ...

Dari S-bahn kami perlu tukar dengan U-bahn. Di sini muncul masalah baru karena tidak ada petunjuk bagaimana cara menuju perhentian U-bahn nomor 2 (U2). Kami perhatikan memang ada stiker persegi empat di dinding dengan huruf U putih berlatar biru tua, we guess it stands for U-bahn. Kami ikuti saja huruf-huruf U itu hingga akhirnya tiba di platform bawah tanah. Ternyata di sini berkumpul beberapa jalur U-bahn, di antaranya U1/U2/U4/U5. Khusus U2 petunjuknya berlatar merah dengan tujuan akhir tiap arahnya dituliskan di sebelah kanan huruf U2 tadi. Misalnya untuk ke arah kantor, saya perlu menuju platform U2 dengan tujuan Messestadt Ost dan untuk pulang nanti menaiki U2-Feldmoching. O..begitu rupanya, ini juga baru mengerti setelah membandingkan peta U-bahn dengan "kenyataan di lapangan". Ada kejadian yang menegangkan karena ramainya penumpang U2 pagi itu ditambah lagi kami tidak mengerti instruksi masinis yang mengatakan akan menutup pintu (dalam bahasa Jerman pastinya), kami terpisah, Elwis masih di platform sementara saya sudah naik. Ya, terpaksa ditunggu U2 yang membawa saya kembali ke Hbf, menunggu 5 menit lamanya untuk U2 berikutnya. Setelah itu perlu diingat bahwa instruksi masinis bahwa pintu bahn akan menutup adalah zurückbleiben (diam di tempat).

Perjalanan U2 (Hauptbahnhof-Karl-Preiss-Platz) ini makan waktu 10 menit ditambah dengan berjalan kaki dari sana ke kantor 5 menit. Sesampai di kantor para manajer rupanya belum dapat ditemui mungkin masih cuti atau dinas luar kota, maklum saja Agustus adalah musim panas. Syukurlah ada teman sekantor yg bisa dihubungi yaitu Nano, yang sebelumnya pernah dikenalkan kawan via milis. Beliau dulu di TF-ITB, melanjutkan S2 di Karlsruhe, dan bekerja di Infineon Munich ini sudah sekitar 1 tahun. Hari itu kami diajak makan siang ke rumahnya, senang deh ketemu wajah Indonesia juga di sini. Istrinya Nuri pun mengajak kami ke kedai Turki dekat rumah mereka untuk membeli beras basmati dan minyak goreng. Rupanya di lantai 4 toko ini ada masjid yg sering dikunjungi karyawan muslim Infineon untuk shalat Jumat, karena memang hanya dua stasiun U-bahn (U2) dari kantor, tepatnya Silberhornstrasse.

Di hari Selasa pun saya tidak ke kantor karena memang manager akan masuk kantor kembali hari Rabu. Kami memanfaatkan hari itu untuk berjalan-jalan mengenal lingkungan sekitar apartemen dan ke bandar kota Muenchen, mencari toko halal (Turki) di dekat Hbf. karena menurut informasi mayoritas toko Turki ada di sana, melihat objek wisata tengah kota antik Marienplatz yg terkenal, dan cuci mata saja di hari mendung dan gerimis itu. Tak lupa beli kartu prabayar Vodafone GSM untuk dipasang di HP (harganya EUR 40 untuk pendaftaran dan pemakaian 15 menit). Menerima panggilan free, namun untuk membuat panggilan lokal bisa kena 39 sen per menit. Itulah mahalnya prepaid, namun mulai hari ketiga di Jerman ini kami sudah dapat dihubungi :-) Perut pun kenyang karena sudah dapat menanak beras (secara manual) dan menggoreng. Hari terus merambat maju, tercatat Nano, Nuri, Silvi, Saad, dan Dwi adalah beberapa nama awal yang menjadi perintis silaturahmi kami selanjutnya.













(1) U2 di Muenchen Hbf, koleksi http://flickr.com/photos/neudinho37/
(2) Luar Hbf
(3) Dalam Hbf untuk kereta antar kota/negara

Aug 18, 2008

15 hari sebelum HUTRI ke 57 (2. Andenken)

Tiba di apartemen di jalan Wotanstraße 23 (Laim) jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, hari sudah berangsur gelap (maklum ini akhir musim panas sehingga siang masih lebih panjang). Jalan-jalan di sekitar apartemen sepi dan tak nampak siapa-siapa. Kami baru sadar nanti bahwa di provinsi Bavaria atau Bayer ini (Munich adalah ibukotanya) toko-toko tutup sepenuh hari tiap hari Minggu. Di lantai dasar apartemen ternyata posko taksi dan di seberang jalan tampak sebuah supermarket. Selanjutnya kami menaiki tangga ke lantai tiga dan disambut pemilik rumah (landlord), bernama Hr. Mauritz, seorang supir taksi. Ada tiga apartemen lain di lantai 3 tsb. Hr. Mauritz tak dapat bercakap dalam bahasa Inggris, sehingga ia menerangkan seluk beluk apartemen full-furnished (möblierte Wohnung) ini kepada Andreas dan selanjutnya ia terjemahkan. Apartemen mini 65 m2, tipikal bagi 1-2 orang penghuni di kota Munich. Dinding dan langit-langit bercat putih susu, satu hall merangkap ruang makan yang tak terlampau luas (Wohnzimmer), satu kamar tidur (Schlafzimmer) dengan lemari dan satu french-size bed, satu shower bath tub (+toilet / Badezimmer), dapur (Küche), dan gudang kecil berisi perkakas (Lager). Karpet melekat erat di lantai dan pemanas gas tersedia di tiap ruangan. Perabotan lengkap baik di ruang tamu, kamar tidur, dan dapur. Andreas menekankan bahwa kami menerima apartemen ini dalam kondisi bersih dan semuanya berfungsi baik.

Selanjutnya ia membawa kami keluar apatemen dan turun ke ruangan bawah tanah yang dingin dan kurang menyenangkan … itulah ruang unik persembunyian bawah tanah [bukan ding] yang namanya Keller. Dalam bahasa Indonesia ini adalah gudang bawah tanah, tempat menyimpan benda-benda tak terpakai. Tampak jeruji-jeruji kayu (yang melindungi barang2 di dalamnya) dan lampu bohlam kecil tergantung di atas. Ruang ini lembab dan terkesan angker di senja gerimis itu. Di sebelah Keller terdapat ruang mesin cuci dan pengering berkoin yang dapat dipakai setiap penghuni apartemen dengan mengisi buku daftar pemakai terlebih dahulu (ingat mesin cuci dilarang dipakai di hari Minggu). Alhamdulillaah di apartemen kami sudah ada mesin cuci, jadi ini tak terlalu masalah. Masuk gudang bawah tanah perlu kunci, masuk ke ruang cuci umum butuh kunci lain, dan untuk membuka tempat sampah (yang terbuat dari baja abu-abu besar) pun ada kuncinya … jadi dapat dibayangkan gerombolan kunci itu lumayan berat (together with main gate key, mailbox key, and our apartment key). Masing-masing kunci terbuat dari baja tahan karat.

O..ya Andreas juga memperkenalkan kami pada manajer apartemen (Hausmeister) di lantai dasar yang bertanggungjawab akan operasional di apartemen tsb (listrik, air, pemanas, sampah, dll), namanya tuan Hafner. Sebenarnya istri saja yang bekerja, ditemani dua anak remajanya, dan seekor anjing besar tua dan seeekor kucing gemuk.

Kembali ke dalam apartemen, hari mulai merayap menuju jam 9 malam. Penat
kembali terasa , apalagi hari dingin di luar dan perut belum diisi apa-apa sejak turun pesawat. Selanjutnya urusan serah terima akan segera dibereskan, Andreas menyodorkan segepok dokumen perjanjian sewa yang harus kami tanda tangan. Hampir seluruhnya dalam bahasa Jerman dan ia pelan-pelan menjelaskan maksud tiap klausul perjanjian. Banyak halamannya dan bertele-tele, yang saya ingat hanyalah kalau ada ketidakpuasan dari pemilik, dia berhak menuntut ganti rugi (alias deposit kita diambil). Oven rusak, mesin cuci mogok, langit-langit berlumut (Pilz), jendela pecah, atau dinding kumal akan ada resikonya. Cape deh … saya sudah tak berminat membaca lagi, dan kami tanda tangan saja surat-surat perjanjian tsb. Kami berdoa moga-moga tak ada kerusakan yang membuat ratusan atau ribuan Euro melayang :-( Andreas mengajarkan juga cara mengoperasikan pemanas (Heizung) dan cara membuka pintu/kaca jendela yang unik (sebenarnya ini standar di sana).

Setelah semua beres, kami berjabatan tangan, ia dan pemilik rumah pun pergi. Andreas menginformasikan bahwa rekannya akan menghubungi lagi untuk urusan pendaftaran penduduk, mengganti visa kami dengan visa yang lebih lama, membuka rekening bank, dll. Pyuuh lega, setelah dua kali bolak balik memindahkan koper dari mobil ke apartemen (naik tangga lagi tiga lantai, tak ada lif). Angin berhembus sepoi-sepoi dari balkon, sayup-sayup satu dua mobil melintas di jalan bawah (lumayan besar, ada empat jalur mobil) dan di kejauhan nampak kereta listrik mondar mandir di atas terowongan. Andreas mengatakan kalau kami keluar apartemen dan berjalan lurus menuju terowongan tersebut akan ditemui stasiun kereta Laim (Laim Bf). Malam itu rasanya macam mimpi, hanya kepada Allah kami berserah diri dan bersyukur, atas rahmat dan karunia Nya sampai juga kami ke negeri asal Siemens ini.

Persoalan baru muncul, untuk makan kami tak punya beras. Rice cooker pun ditinggal. Lupa juga
bagaimana dapat survive malam itu untuk makan malam. Kalau tak lupa Elwis membawa beberapa potong ayam goreng dan ada juga indomie. Beberapa potong roti yang kami bawa dan juga hasil bungkusan di pesawat masih ada. Nah tinggal masak air untuk buat kopi/teh manis. But ... olala ... air nya memang jernih, tapi begitu dimasak muncul deh terapung-apung partikel-partikel macam kapur. Tak percaya dengan air yang butek ini, masak air yang baru eh begitu juga. Hmm menyerah, dan air panas itu didiamkan saja sehingga serbuk kapurnya turun. Air di Munich yang bersumber dari Alpen ternyata mengandung kadar kapur (CaCO3) yang tinggi.

Malam itu kami benar-benar terisolasi dari dunia luar. Tak ada alat komunikasi yang dapat digunakan karena belum ada kartu SIM GSM, tak ada sambungan telepon rumah, apalagi internet dan TV hanya menerima lima atau enam saluran yang seluruhnya berbahasa Jerman. Hawa dingin mulai terasa sehingga jendela dan pintu perlu ditutup sementara kami pelan-pelan membongkar isi koper. Mandi air hangat dan menunaikan shalat Maghrib-Isya di jama'. Jet lag dan tempat tinggal yang baru membuat mata sukar tertutup, karena jam-jam segini di Asia Tenggara sudah sekitar 3 pagi. Namun akhirnya bisa juga tertidur dan sekali-kali terjaga karena belum terbiasa. Agustus adalah masa-masa akhir musim panas, sering hujan, meski suhu di luar belum terlalu dingin.
























(Foto1) Tengelmann supermarkt di seberang jalan yang tutup di hari Minggu
(Foto2) Arah jalan menuju terowongan Laim Bf
(Foto-3-4-5) KM/WC, koridor, kamar tidur

[bersambung]