Aug 18, 2008

15 hari sebelum HUTRI ke 57 (2. Andenken)

Tiba di apartemen di jalan Wotanstraße 23 (Laim) jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, hari sudah berangsur gelap (maklum ini akhir musim panas sehingga siang masih lebih panjang). Jalan-jalan di sekitar apartemen sepi dan tak nampak siapa-siapa. Kami baru sadar nanti bahwa di provinsi Bavaria atau Bayer ini (Munich adalah ibukotanya) toko-toko tutup sepenuh hari tiap hari Minggu. Di lantai dasar apartemen ternyata posko taksi dan di seberang jalan tampak sebuah supermarket. Selanjutnya kami menaiki tangga ke lantai tiga dan disambut pemilik rumah (landlord), bernama Hr. Mauritz, seorang supir taksi. Ada tiga apartemen lain di lantai 3 tsb. Hr. Mauritz tak dapat bercakap dalam bahasa Inggris, sehingga ia menerangkan seluk beluk apartemen full-furnished (möblierte Wohnung) ini kepada Andreas dan selanjutnya ia terjemahkan. Apartemen mini 65 m2, tipikal bagi 1-2 orang penghuni di kota Munich. Dinding dan langit-langit bercat putih susu, satu hall merangkap ruang makan yang tak terlampau luas (Wohnzimmer), satu kamar tidur (Schlafzimmer) dengan lemari dan satu french-size bed, satu shower bath tub (+toilet / Badezimmer), dapur (Küche), dan gudang kecil berisi perkakas (Lager). Karpet melekat erat di lantai dan pemanas gas tersedia di tiap ruangan. Perabotan lengkap baik di ruang tamu, kamar tidur, dan dapur. Andreas menekankan bahwa kami menerima apartemen ini dalam kondisi bersih dan semuanya berfungsi baik.

Selanjutnya ia membawa kami keluar apatemen dan turun ke ruangan bawah tanah yang dingin dan kurang menyenangkan … itulah ruang unik persembunyian bawah tanah [bukan ding] yang namanya Keller. Dalam bahasa Indonesia ini adalah gudang bawah tanah, tempat menyimpan benda-benda tak terpakai. Tampak jeruji-jeruji kayu (yang melindungi barang2 di dalamnya) dan lampu bohlam kecil tergantung di atas. Ruang ini lembab dan terkesan angker di senja gerimis itu. Di sebelah Keller terdapat ruang mesin cuci dan pengering berkoin yang dapat dipakai setiap penghuni apartemen dengan mengisi buku daftar pemakai terlebih dahulu (ingat mesin cuci dilarang dipakai di hari Minggu). Alhamdulillaah di apartemen kami sudah ada mesin cuci, jadi ini tak terlalu masalah. Masuk gudang bawah tanah perlu kunci, masuk ke ruang cuci umum butuh kunci lain, dan untuk membuka tempat sampah (yang terbuat dari baja abu-abu besar) pun ada kuncinya … jadi dapat dibayangkan gerombolan kunci itu lumayan berat (together with main gate key, mailbox key, and our apartment key). Masing-masing kunci terbuat dari baja tahan karat.

O..ya Andreas juga memperkenalkan kami pada manajer apartemen (Hausmeister) di lantai dasar yang bertanggungjawab akan operasional di apartemen tsb (listrik, air, pemanas, sampah, dll), namanya tuan Hafner. Sebenarnya istri saja yang bekerja, ditemani dua anak remajanya, dan seekor anjing besar tua dan seeekor kucing gemuk.

Kembali ke dalam apartemen, hari mulai merayap menuju jam 9 malam. Penat
kembali terasa , apalagi hari dingin di luar dan perut belum diisi apa-apa sejak turun pesawat. Selanjutnya urusan serah terima akan segera dibereskan, Andreas menyodorkan segepok dokumen perjanjian sewa yang harus kami tanda tangan. Hampir seluruhnya dalam bahasa Jerman dan ia pelan-pelan menjelaskan maksud tiap klausul perjanjian. Banyak halamannya dan bertele-tele, yang saya ingat hanyalah kalau ada ketidakpuasan dari pemilik, dia berhak menuntut ganti rugi (alias deposit kita diambil). Oven rusak, mesin cuci mogok, langit-langit berlumut (Pilz), jendela pecah, atau dinding kumal akan ada resikonya. Cape deh … saya sudah tak berminat membaca lagi, dan kami tanda tangan saja surat-surat perjanjian tsb. Kami berdoa moga-moga tak ada kerusakan yang membuat ratusan atau ribuan Euro melayang :-( Andreas mengajarkan juga cara mengoperasikan pemanas (Heizung) dan cara membuka pintu/kaca jendela yang unik (sebenarnya ini standar di sana).

Setelah semua beres, kami berjabatan tangan, ia dan pemilik rumah pun pergi. Andreas menginformasikan bahwa rekannya akan menghubungi lagi untuk urusan pendaftaran penduduk, mengganti visa kami dengan visa yang lebih lama, membuka rekening bank, dll. Pyuuh lega, setelah dua kali bolak balik memindahkan koper dari mobil ke apartemen (naik tangga lagi tiga lantai, tak ada lif). Angin berhembus sepoi-sepoi dari balkon, sayup-sayup satu dua mobil melintas di jalan bawah (lumayan besar, ada empat jalur mobil) dan di kejauhan nampak kereta listrik mondar mandir di atas terowongan. Andreas mengatakan kalau kami keluar apartemen dan berjalan lurus menuju terowongan tersebut akan ditemui stasiun kereta Laim (Laim Bf). Malam itu rasanya macam mimpi, hanya kepada Allah kami berserah diri dan bersyukur, atas rahmat dan karunia Nya sampai juga kami ke negeri asal Siemens ini.

Persoalan baru muncul, untuk makan kami tak punya beras. Rice cooker pun ditinggal. Lupa juga
bagaimana dapat survive malam itu untuk makan malam. Kalau tak lupa Elwis membawa beberapa potong ayam goreng dan ada juga indomie. Beberapa potong roti yang kami bawa dan juga hasil bungkusan di pesawat masih ada. Nah tinggal masak air untuk buat kopi/teh manis. But ... olala ... air nya memang jernih, tapi begitu dimasak muncul deh terapung-apung partikel-partikel macam kapur. Tak percaya dengan air yang butek ini, masak air yang baru eh begitu juga. Hmm menyerah, dan air panas itu didiamkan saja sehingga serbuk kapurnya turun. Air di Munich yang bersumber dari Alpen ternyata mengandung kadar kapur (CaCO3) yang tinggi.

Malam itu kami benar-benar terisolasi dari dunia luar. Tak ada alat komunikasi yang dapat digunakan karena belum ada kartu SIM GSM, tak ada sambungan telepon rumah, apalagi internet dan TV hanya menerima lima atau enam saluran yang seluruhnya berbahasa Jerman. Hawa dingin mulai terasa sehingga jendela dan pintu perlu ditutup sementara kami pelan-pelan membongkar isi koper. Mandi air hangat dan menunaikan shalat Maghrib-Isya di jama'. Jet lag dan tempat tinggal yang baru membuat mata sukar tertutup, karena jam-jam segini di Asia Tenggara sudah sekitar 3 pagi. Namun akhirnya bisa juga tertidur dan sekali-kali terjaga karena belum terbiasa. Agustus adalah masa-masa akhir musim panas, sering hujan, meski suhu di luar belum terlalu dingin.
























(Foto1) Tengelmann supermarkt di seberang jalan yang tutup di hari Minggu
(Foto2) Arah jalan menuju terowongan Laim Bf
(Foto-3-4-5) KM/WC, koridor, kamar tidur

[bersambung]

No comments:

Post a Comment