Sep 29, 2009

Menyampaikan dengan Bahasa Yang Dimengerti

SETIAP menjelang Lebaran, kita selalu disibukkan oleh penentuan kapan tanggal 1 Syawal jatuh. Karena penanggalan Islam memakai sistem lunar, tanggal baru dihitung setiap terlihat munculnya bulan baru yang berbentuk sabit dan hanya muncul beberapa detik di atas cakrawala. Sederhana, tapi karena terdapat banyak pendapat tentang bagaimana menentukan bulan itu terlihat atau tidak, masalah jadi pelik.

Ada yang cukup dengan menghitungnya di atas kertas dengan bantuan ilmu falak (astronomi), ada yang mewajibkan melihat dengan mata telanjang. Sebagian menganggap seluruh bumi Lebaran jatuh pada hari yang sama, yang lain mengatakan pasti terjadi dua hari, karena menurut ilmu astronomi, perbedaan letak geografis menentukan terlihat atau tidaknya bulan sabit di cakrawala.

Biasanya, perdebatan ini diakhiri (meski belum tentu disepakati) dengan pengumuman dari Badan Hisab Rukyat Departemen Agama. ”Berdasarkan hisab dan rukyat yang kami lakukan, hilal telah tampak sekian derajat di atas ufuk, maka 1 Syawal jatuh pada esok hari,” demikian pengumuman itu.

Bagi kebanyakan orang, kalimat itu tampak rumit, agak susah dimengerti. Kalimat singkat itu penuh dengan jargon yang diserap dari bahasa Arab: hisab, rukyat, hilal, ufuk. Padahal kata-kata itu bisa diterjemahkan menjadi kalimat yang sederhana dan gampang dimengerti: ”Berdasarkan perhitungan dan penglihatan yang kami lakukan, bulan sabit telah tampak sekian derajat di atas cakrawala, maka 1 Syawal jatuh pada esok hari.”



Entah mengapa para ulama dan pemuka agama Islam mempertahankan kata-kata bahasa Arab yang tidak akrab bagi masyarakat itu dan mengapa mereka tidak menggunakan bahasa Indonesia yang lebih dimengerti. Jika memang tujuan pengumuman itu untuk mengumumkan sesuatu yang penting bagi umat, sistem komunikasi tentu bisa disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana agar bisa dipahami.

-- ini sebagian dari isi artikel dalam kolom Bahasa! ( Tempo edisi cetak 27/09/2009) oleh Qaris Tajudin di link ini

Budaya Memberi Tips

Tulisan ini pernah saya tampilkan di dua milis sekitar setahun yang lalu. Pada intinya apakah konsumen itu ikhlas memberikan tips karena rasa puas atau hanya karena terpaksa oleh keadaan. Teringat untuk menampilkan tulisan ini di blog setelah satu tahun berjalan.

Pulang lebaran kemarin ada beberapa kali saya memakai taksi untuk beberapa keperluan. Pertama kali saat tiba di Jakarta hari H-4, langsung kami menuju agen jasa Laks Transport di terminal 2-D bandara Sukarno-Hatta. Sejauh ini layanan taksi ini paling dapat diandalkan, harga ekonomis all-in dan pelayanan petugas di kaunter baik. Mereka klaim tarifnya paling murah dibandingkan jasa taksi serupa di bandara (seperti silver bird, golden bird, dll). Untuk wilayah rumah ortu kami di Cipinang masih masuk ring-1-Jakarta, jadi tarifnya Rp. 130 ribu bila memakai Avanza, 150 dengan Nissan Livina, atau 175 dengan Toyota Altis. Armada mobilnya baru dan bersih dengan supir yang taat peraturan dan ramah ! Tak perlu repot siapkan uang tol atau uang kecil karena sudah termasuk dalam tarif dan pembayaran langsung dilakukan di kaunter bandara, dapat memakai uang tunai/kartu debit/kartu kredit. Begitu mudah dan ekonomis.
Memberi tips bagi supir saat tiba di tujuan sudah lumrah karena puas dan diiringi ucapan terima kasih.

Pada kesempatan berikutnya kami panggil taksi (biasanya Bluebird group yang terkenal masih pakai tarif atas meski harga bbm sudah turun he..he..). Kadang pesan lewat telpon atau stop di jalan. Pelayanannya baik, supirnya hafal jalan, dan mobilnya terawat, ... namun ada satu cacat yang mungkin tidak dilakukan oleh tiap supirnya. Hal tersebut adalah "kepolosan" pak supir mengatakan "... maaf tak ada uang kembaliannya neeh". Lha setahu saya ini kan trik supir-supir taksi nakal dari armada taksi yang warna-warni itu ! Mengapa pihak pengelola taksi tidak mewajibkan supir2 tsb membawa pecahan Rp. 1000 dan Rp. 5000 (mungkin juga sekarang dengan Rp. 2000) setiap kali mereka memulai perjalanan (rit) ?. Selama ini kami masih dapat menerima jika uang kembalian masih dibawah Rp. 4999. Supir yang "baik" masih mau memberikan Rp. 2000 untuk kembalian yang seharusnya Rp. 3500 (sejauh ini belum pernah bertemu supir yang bela-belain cari kembalian pecahan Rp. 500). Tapi ada juga supir Bluebird yang bandel yang memaksa kita menerima uang kembali apa adanya, padahal kita sudah cari pecahan uang kecil agar bulat uang kembaliannya, misalnya ongkos Rp. 87000, kami bayar Rp 107000 agar uang kembalinya Rp. 20000. Pak supir ngotot mengembalikan Rp. 10000 dan mengambil selembar merah 100 ribu (artinya ia dapat ekstra Rp 3000).

Memang contoh di atas belum serusak kasus penumpang yang seharusnya membayar Rp 23 ribu tapi "terpaksa" bayar Rp. 40 ribu karena pak supir mengaku baru dapat satu penumpang dan ia hanya membawa uang Rp. 10 ribu untuk uang kembalian (sang penumpang menyerahkan selembar biru 50 ribu). Atau contoh lain dimana si penumpang merelakan uang ekstra yang berlipat-lipat ongkos taksinya karena pada saat itu ia hanya punya selembar seratus ribu :-( Apess... dan penumpang memang harus siap dengan uang pas !

Perlu diingat dengan menerapkan tarif atas, harga jasa taksi di Jakarta tidak lebih murah dibandingkan di Singapura dengan kualitas kenyamanan yang lebih baik ... dan uang kembali yang pas :-) Apa banyak penumpang merasa uang kembali di bawah Rp. 5000 itu layak diabaikan dan membuang-buang waktu menunggu pak supir mencarinya. Lha ini preseden buruk untuk membuat supir taksi memakai trik-trik yang sama di masa depan.

Ok, intinya saya masih bingung dengan "memberikan tips". Apa ini baik utk dibudayakan, berpahala karena termasuk sedekah, atau justru mengajarkan budaya mark-up service (uang pelicin) secara tak langsung utk sebuah jasa yang semestinya dilakukan.

Contoh-contoh lain:
(2) Biaya kurir/tukang pos/antar tiket
- Sudah tugas tukang pos untuk mengantar paket ke rumah, tapi si penerima memberi tips sbg uang lelah.
- Sudah ditulis dalam TOC bahwa servis kurir itu door-to-door tapi diberi tips kepada petugasnya.
- Sudah dijelaskan bahwa agen tiket menyediakan pengantaran tiket ke rumah gratis, tapi diberi uang rokok juga.

(3) Uang jasa
- Sudah jelas tidak ada biaya utk pengurusan bebas fiskal di bandara. Namun karena urusan kita terasa lancar dan mudah, tanpa banyak tanya ini itu (malah terkesan membantu), di akhir berita acara petugas pajak tsb kita beri tips.

(4) Pak ogah
- Perlu tidaknya pak ogah di persimpangan atau putaran arah ? Karena terbiasa, yah beri juga deh cepek.

(5) Parkir modern
- Meski sudah jelas bayar parkir secara elektronik di pintu keluar tapi tetap memberi Rp. 1000 untuk pak satpam yang sudah membantu kita masuk/keluar lajur parkir di dalam gedung. Padahal pak satpam nya tak minta lhoo ..

(6) Jalan rusak, sumbangan sukarela
- Ini tidak jelas dan atas inisiatif siapa ? Koq pengendara mobil dimintai bayaran untuk menikmati jalanan rusak. Biaya perbaikan jalan tentunya diperoleh dari pemerintah setempat dong :-)

Jika dicermati kasus demi kasus memang uang tips itu seringkali wajar apalagi jika diiringi keikhlasan maka insya Allah bernilai sedekah. Ada tips karena kita puas, karena pelayanannya ramah, karena kita merasa terbantu dan "sang penolong" tak berharap apa-apa, ada juga yang sudah otomatis tergerak untuk berbagi rezeki mengingat tarif jasa di negeri kita untuk para pekerja kerah biru ini masih amat rendah.

Bagi saya, tips diberikan tidak dengan terpaksa dan perlu diiringi lisan bahwa saya puas atau senang dengan jasa yang telah berikan (baik kepada supir, asisten parkir, petugas bebas fiskal, kurir dll). Intinya si pemberi jasa juga perlu tahu atas dasar apa ia menerima tips. Tentunya kita berharap si pemberi jasa akan dapat tetap melayani dengan baik di masa-masa datang dan bukannya hanya saat diberi tips saja.

Tindakan memberi tips yang tidak diiringi kesadaran si penerima dapat berakibat buruk yaitu terjadinya pemerasan secara halus atau turunnya kualitas pelayanan jika tidak ada uang tambahan. Lebih buruk lagi tindakan memberi tips yang "sengaja" dilakukan cukong atau preman yang ingin usaha/bisnisnya lancar. Tidak heran kalau kita masih melihat oknum/cukong yang mendapat "perlakuan istimewa" saat di bandara, kantor polisi, imigrasi, dan kantor2 pelayanan pemerintah lainnya. Cukong ini sudah menanamkan ranjau (kasarnya: menyuap para petugas) sehingga mereka terlena dan tidak tahu bahaya laten dari hal tsb. Koruptor dapat kabur dari penjara atau lolos ke luar negeri kan semua berawal dari "uang tips" yang berlebihan yang terkenal dengan nama sogok.

Contoh memberi tips terpaksa lain adalah pungli. Baik dilakukan oknum petugas ataupun yang dilakukan preman kampung atau terminal yang minta uang keamanan dari tiap supir mikrolet yang lewat di kampungnya atau supir bajaj/taksi yang mangkal di dekat supermarket yang ramai. Uang keamanan ini juga biasa dibayar pedagang kaki lima liar ataupun pengusaha resto/dugem resmi agar usaha mereka tidak diganggu. Besarnya tips tentu bervariasi tergantung kelas okunum/premannya. Sudah tak terkira banyaknya anak istri yang terpaksa nrimo dihidupi dengan rezeki yang tak berkah ini.

Nah dari contoh2 di lapangan tadi apakah wajar budaya memberi tips dilestarikan di negeri kita ? Amat disayangkan pada saat penerima jasa memberi tips ia tidak menegaskan alasan mengapa tips tsb diberikan dengan alasan/dampak yang sudah dikemukan di atas. Ini sama sekali tak ada niat utk pelit ya... Bedakan suap dengan tips dan tidak memberi tips dengan pelit :-)

Saya lihat di beberapa negara maju (terkecuali AS yang membiarkan budaya tips) tidak ada pelayan atau pemberi jasa yg menanti tips tadi. By default, mereka laksanakan tugas, kita tanda tangan (confirmed, approved sesuai berita acara, faktur) dan mereka segera pergi. Rasanya mereka ingin segera menyelesaikan pekerjaan berikutnya daripada membuang waktu beramah tamah dengan Anda apalagi menunggu tips. Jangan memulai memberikan tips di Jepang karena kita akan dianggap menghina si pemberi jasa.

Mungkin ini sebabnya POS Indonesia dan sejarah kurir semacam Titipan Kilat yang sudah berpuluh tahun usianya tertinggal jauh dari saudara2 mudanya di luar negeri spt Fedex, UPS, dll. Ini juga sebabnya mengapa penyedia jasa kendaraan umum mengeluh penerimaan mereka tergerus pungli setiap hari. Dan ini pula sebabnya para penanam modal asing merasa enggan masuk negeri ini jika mereka tidak mendapat kepastian hukum berusaha dan perlindungan keamanan dari pemerintah setempat. Kalau memang pengelola usaha merasa tarif jasa terlalu kecil maka naikkanlah biaya tsb dan lebihkan pendapatan untuk pekerja-pekerjanya. Jangan sampai si pelaksana (kurir, tukang cuci mobil, supir dll) membedakan pelayanan yang sudah disepakati harganya dari awal.

Sep 28, 2009

Kantuk dan Serak

Ada target mengkhatam al Quran di bulan Ramadhan, sekurangnya sekali khatam. Bagi saya mengaji di bulan Ramadhan atau bulan lain sama saja, ya kecepatannya ya iramanya, mencoba untuk tertib tajwid sebagaimana yang telah dipelajari. Hanya saja volume suara yang berangsur menurun di kala mengaji selepas tengah hari menuju maghrib seiring berkurangnya kadar air di dalam tubuh :-) Ramadhan kemarin cukup menantang karena di penghujung bulan (sekitar H-3) masih ada sisa 9 juz lagi sementara badan kurang fit.

Dua faktor fisik yang menantang dalam mengkhatam al Quran di bulan Ramadhan adalah mata yang mengantuk dan suara serak karena tenggorokan kering. Siang hari dihabiskan di tempat kerja, mengaji hanya dapat dikerjakan sesudah Subuh atau saat menunggu Zuhur di mesjid. Di malam hari mengaji seusai Isya atau mengiringi tahajjud (bila masih ada waktu sebelum sahur). Siang hari tantangannya dua yaitu mengantuk dan kering, sementara di malam hari tantangannya mengantuk dan waktu yang sempit (salah sendiri juga mengapa terlampau banyak makan dan bangun malam terlampau mepet dengan sahur ... satu jam sebelum imsak). Paling enak memang akhir pekan Sabtu Minggu untuk kejar setoran, meski harus pandai mengatur waktu antara beberapa undangan pengajian/bukber atau menemani istri jjs :-) Alhamdulillaah jika tubuh sehat sebulan penuh. Bila flu/batuk menyerang wah akan makin susah mengejar target tadi. Bayangkan dengan kaum muslimah yang perlu menyiapkan sajian ifthar/sahur sementara bagi yang punya siklus bulanan tentunya hari2 beribadahnya lebih singkat lagi dibandingkan saya :-)


Karena sudah mengenal kedua tantangan tadi saya membiasakan diri dengan mengawali membaca al Quran dengan berdoa dalam hati agar Allah menjauhkan kantuk dari mata dan mencukupkan kesegaran di kerongkongan ini. Mata yang mengantuk akan mengacaukan bacaan dan tubuh pun tak berdaya untuk tetap tegak. Tenggorokan kering akan menyetop saya meneruskan bacaan karena makhraj huruf menjadi sukar dilafazkan dengan baik.

Di lain waktu untuk menyiasati rasa kantuk adalah dengan berhenti membaca setiap 5 atau 10 halaman (1/2 juz), lalu istirahat sejenak dengan memandang kehijauan atau kolam ikan (pengalaman kemarin pulang ke rumah ortu sambil menikmati semilir angin dan gemercik air). Namun untuk mengusir kerongkongan kering memang belum bertemu caranya selain menunggu waktu shalat fardhu berikutnya (berwudhu lagi maksudnya ...). Kadang kala kemewahan waktu luang atau tempat yang pas (macam di mesjid yang tidak panas atau rumah yang nyaman dengan taman) tidak juga membantu bila flu, hidung meler atau batuk kering menyerang. Untuk kondisi ini saya lebih memilih untuk tidur atau mengerjakan shalat sunnah sambil berdoa agar Allah memudahkan saya memenuhi target khatam al Quran di bulan yang mulia tsb.

Namun terpenting dari segala hal di atas adalah niat membaca al Quran yang ditujukan dalam mencari ridha Allah semata diiringi usaha yang sungguh untuk menggapainya. Ketahuilah kita membaca ayat-ayat Nya, Dia lah yang memberi kemudahan dan kesanggupan bagi sesiapa yang dikehendaki Nya.

p.s Foto dari koleksi temen (dks photography)


Sandal Jepit Putus

Cerita sendal jepit hilang atau tertukar di mesjid sudah biasa. Kejadian ini sudah semakin jarang terjadi terutama di mesjid/mushalla lingkungan kantor atau perumahan. Nah mudik lebaran kemarin ada kejadian yang menurut saya luar biasa, skenario nya jelas sudah ditulis Allah SWT bahwa transaksi amal tsb pasti berlaku, tak meleset sedetik ataupun selangkah pun.

Pagi itu kami baru pulang shalat Subuh berjamaah di mushalla depan rumah. Tak lebih dari 10 meter dari pagar rumah ke pagar mushalla. Seperti biasa ada beberapa jamaah yang baru pulang menunggu doa terakhir dari sang Imam shalat Subuh, berjalan santai beriringan sambil ngobrol ringan. Kalau tak salah ada lima orang termasuk Papa dan saya. Eh tiba-tiba salah seorang Bapak terhenti dan membungkuk melepas sandal jepitnya yang ternyata putus sebelah. Saat itu Papa menoleh ke kanan dan ikut berhenti.

Refleks ... Papa melepas sepasang sandal jepitnya di jalan dan langsung menawarkan kepada si Bapak yang sudah bertelanjang kaki menjinjing sandal jepit kiri putusnya dengan tangan.

Sandal jepit empuk biru yang dipakai Papa pun segera berpindah tangan. Sang Bapak tersenyum senang dan berterima kasih, sambil menanyakan "Pak, ini buat saya ?" dan Papa pun mengangguk .. "bawa saja". Subhanallaah, Superb ! Saat itu saya yang berjalan lebih dulu sudah hampir tiba di pintu pagar rumah dan hanya terkesima melihat kejadian yang amat cepat tsb. Tanpa basa-basi dan begitu ringkas prosesnya. Saya yakin benar proses kilat tsb tak akan dapat berlaku tanpa diiringi hati yang ikhlas dan tangan yang sudah terbiasa bersedekah.

Memang nilai nominal sendal jepit itu tak seberapa mungkin kurang dari 10 ribu rupiah saja, namun gerakan hati itulah yang menjadi pelajaran berharga pagi itu. Empati dan ikhlas memberi tanpa pamrih karena kejadian yang begitu nyata di depan mata.

Ingatan saya melayang pada saat kami berdesak-desakan pulang shalat berjamaah fardhu dari Masjidil Haram dua tahun yang lalu (1427H). Jamaah keluar mesjid membanjiri jalan2 depan mesjid di antara hotel-hotel dan kedai-kedai yang menjual berbagai kelontong dengan hingar bingar alunan qasidah, murattal, dan shalawat nya. Saya yang berjalan bersama Papa tak dapat berjalan secepat jamaah2 lain, harus berhati2 memilih celah yang tidak ramai dan dijejali orang2 yang mau mampir di kedai2 tsb. Belum lagi ada kaki lima yang menggelar dagangan seenaknya di pinggir jalan atau pengemis2 kecil profesional yang duduk berjejer di tengah jalan tanpa takut terinjak orang ramai.

Nah pada masa-masa itu mata yang awas, kekuatan kaki, dan kesabaran jelas modal utama menapaki 1.5 km menuju hotel Yamamah tempat kami menginap di Misfalah. Badan yang terdorong-dorong, terkena sikut-sikut kecil dari kiri kanan, atau berhenti mendadak karena ada rombongan lain dari arah berlawanan adalah kejadian biasa setiap pulang shalat fardhu. Memang kalau mau menunggu bisa pulang lebih telat lagi agar jalanan lebih sepi tapi kadang ada hal2 alami yang tak bisa menunggu terutama perut yang minta diisi atau tubuh letih yang perlu beristirahat karena sudah jalan ke mesjid satu dua jam sebelum Subuh untuk berqiyamul lail. Papa tak bisa menunggu lama karena perlu beristirahat dan menjaga kestabilan gula dalam darahnya. Bila dibiarkan terlalu rendah akan membuat keletihan yang luar biasa.

Di saat-saat genting menuju hotel itu sendal jepit putus (atau hampir putus) karena terinjak rombongan lain dari belakang adalah hal biasa. Tak terhitung berapa kali sendal kami terinjak, alhamdulillah tak semuanya berakibat putus. Namun herannya, sungguh heran, koq para calon haji atau hajjah ini begitu rendah rasa empati mereka. Ada yang hanya melongo saja menyadari ia menginjak sendal kami, atau meminta maaf ringan saja sambil berlalu cepat, atau ada yang sama sekali tak peduli dan bermimik marah mungkin karena dianggapnya kami menghalangi laju perjalanannya. Sendal putus artinya siap meneruskan perjalanan menuju hotel tanpa alas kaki (jangan coba2 di waktu zuhur/ashr ... melepuh boo) atau kalau beruntung dapat segera menemukan penjual sendal di dekat sana :-)

Nah dari dua contoh di atas saya belajar:

  • Kadang kesempatan beramal itu amat sempit waktu dan tempatnya, tidak dapat diduga bila Allah memberi kesempatan tsb di depan mata kita. Maukah dan mampukah kita merebutnya ? Jangan anggap enteng, ini perlu latihan sehingga menjadi terbiasa !
  • Tingkatkan rasa empati: senang melihat orang lain senang dan susah melihat orang lain susah.
  • Ingatlah ada orang lain di sekitar kita, jangan menzhalimi mereka baik tak sengaja apalagi sengaja.
Hmm ... memang kita umat Islam masih perlu belajar untuk berempati dan merebut peluang amal ini dimana saja. Hanya Allah yang dapat membalas amal-amal baik yang dilakukan. Amalan sendal jepit yang tak seberapa nilainya itu insya Allah dapat melindungi kaki-kaki kita dari panasnya hari perhitungan kelak di padang mahsyar dan membebaskan kita dari dasar neraka.

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani saghira. Amiin...

Sep 15, 2009

Sekelumit tentang I'tikaf

I'tikaf, secara bahasa, berarti tinggal di suatu tempat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jadi, i'tikaf adalah tinggal atau menetap di dalam masjid dengan niat beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Beri'tikaf bisa dilakukan kapan saja. Namun, Rasulullah saw. sangat menganjurkan di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Inilah waktu yang baik bagi kita untuk bermuhasabah dan taqarub secara penuh kepada Allah swt. guna mengingat kembali tujuan diciptakannya kita sebagai manusia. "Sesungguhnya tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu," begitu firman Allah di QS. Az-Zariyat (51): 56.


Para ulama sepakat bahwa i'tikaf, khususnya 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, adalah ibadah yang disunnahkan oleh Rasulullah saw. Beliau sendiri melakukanya 10 hari penuh di bulan Ramadhan. Aisyah, Umar bin Khattab, dan Anas bin Malik menegaskan hal itu, "Adalah Rasulullah saw. beri'tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan." (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan pada tahun wafatnya, Rasulullah saw. beri'tikaf selama 20 hari. Para sahabat, bahkan istri-istri Rasulullah saw., selalu melaksanakan ibadah ini. Sehingga Imam Ahmad berkata, "Sepengetahuan saya tak seorang ulama pun mengatakan i'tikaf bukan sunnah."


"I'tikaf disyariatkan dengan tujuan agar hati beri'tikaf dan bersimpuh di hadapan Allah, berkhalwat dengan Nya, serta memutuskan hubungan sementara dengan sesama makhluk dan berkonsentrasi sepenuhnya kepada Allah," begitu kata Ibnu Qayyim. Itulah urgensi i'tikaf. Ruh kita memerlukan waktu berhenti sejenak untuk
disucikan. Hati kita butuh waktu khusus untuk bisa berkonsentrasi secara penuh beribadah dan bertaqarub kepada Allah saw. Kita perlu menjauh dari rutinitas kehidupan dunia untuk mendekatkan diri seutuhnya
kepada Allah saw., bermunajat dalam doa dan istighfar serta membulatkan iltizam dengan syariat sehingga ketika kembali beraktivitas sehari-hari kita menjadi manusia baru yang lebih bernilai.

I'tikaf yang disyariatkan ada dua macam
  1. I'tikaf sunnah, yaitu i'tikaf yang dilakukan secara sukarela semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Alah. Contohnya i'tikaf 10 hari di akhir bulan Ramadhan.
  2. I'tikaf wajib, yaitu i'tikaf yang didahului oleh nadzar. Seseorang yang berjanji, "Jika Allah swt. menakdirkan saya mendapat proyek itu, saya akan i'tikaf di masjid 3 hari," maka i'tikaf-nya menjadi wajib.
Karena itu, berapa lama waktu beri'tikaf, ya tergantung macam i'tikafnya. Jika i'tikaf wajib, ya sebanyak waktu yang diperjanjikan. Sedangkan untuk i'tikaf sunnah, tidak ada batas waktu tertentu. Kapan saja. Bisa malam, bisa siang. Bisa lama, bisa sebentar. Seminimal-minimalnya adalah sekejab. Menurut mazhab Hanafi,
sekejab tanpa batas waktu tertentu, sekedar berdiam diri dengan niat. Menurut mazhab Syafi'i, sesaat, sejenak berdiam diri. Dan menurut mazhab Hambali, satu jam saja. Tetapi i'tikaf di bulan Ramadhan yang dicontohkan Rasulullah saw. adalah selama 10 hari penuh di 10 hari terakhir.


Syarat dan Rukun I'tikaf

Ada tiga syarat orang yang beri'tikaf, yaitu muslim, berakal, dan suci dari janabah, haid dan nifas.
Artinya, i'tikaf tidak sah jika dilakukan oleh orang kafir, anak yang belum bisa membedakan (mumayiz), orang yang junub, wanita haid dan nifas.


Sedangkan rukunya ada dua, yaitu, pertama, niat yang ikhlas.
Sebab, semua amal sangat tergantung pada niatnya. Kedua, berdiam di masjid. Dalilnya QS. Al-Baqarah (2): 187, "Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri'tikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada manusia supaya mereka bertakwa."

Masjid yang mana ?
Imam Malik membolehkan i'tikaf di setiap masjid. Sedangkan Imam Hanbali membatasi hanya di masjid yang dipakai untuk shalat berjama'ah atau shalat jum'at. Alasannya, ini agar orang yang beri'tikaf bisa selalu shalat berjama'ah dan tidak perlu meninggalkan tempat i'tikaf menuju ke masjid lain
untuk shalat berjama'ah atau shalat jum'at. Pendapat ini diperkuat oleh ulama dari kalangan Syafi'i. Alasannya, Rasulullah saw. beri'tikaf di masjid jami'. Bahkan kalau kita punya rezeki, lebih utama kita melakukannya di Masjid Haram, Masjid Nabawi, atau di Masjid Aqsha.

Rasulullah memulai i'tikaf dengan masuk ke masjid sebelum matahari terbenam memasuki malam ke-21. Ini sesuai dengan sabdanya, "Barangsiapa yang ingin i'tikaf denganku, hendaklah ia i'tikaf pada 10 hari terakhir."
I'tikaf selesai setelah matahari terbenam di hari terakhir bulan Ramadhan. Tetapi, beberapa kalangan ulama lebih menyukai menunggu hingga dilaksanakannya shalat Ied.


Ketika Anda i'tikaf, ada hal-hal sunnah yang bisa Anda laksanakan. Perbanyaklah ibadah dan taqarub kepada Allah. Misalnya, shalat sunnah, tilawah, bertasbih, tahmid, dan tahlil. Beristighfar yang banyak, bershalawat kepada Rasulullah saw., dan berdoa. Sampai-sampai Imam Malik meninggalkan aktivitas ilmiahnya. Beliau memprioritaskan menunaikan ibadah mahdhah dalam i'tikafnya.

Meski begitu, orang yang beri'tikaf bukan berarti tidak boleh melakukan aktivitas keduniaan. Rasulullah saw. pernah keluar dari tempat i'tikaf karena mengantar istrinya, Shafiyah, ke suatu tempat. Orang yang beri'tikaf juga boleh keluar masjid untuk keperluan yang diperlukan seperti buang hajat, makan, minum, dan semua kegiatan yang tidak mungkin dilakukan di dalam masjid. Tapi setelah selesai urutan itu, segera kembali ke masjid. Orang yang beri'tikaf juga boleh menyisir, bercukur, memotong kuku, membersihkan diri dari kotoran dan bau. Bahkan, membersihkan masjid. Masjid harus dijaga kebersihan dan kesuciannya ketika orang-orang yang beri'tikaf makan, minum, dan tidur di masjid.

I'tikaf dikatakan batal jika orang yang beri'tikaf meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar. Sebab, ia telah mengabaikan satu rukun, yaitu berdiam di masjid. Atau, orang yang beri'tikaf murtad, hilang akal karena gila atau mabuk. I'tikaf juga batal jika wanita yang beri'tikaf haid atau nifas. I'tikaf juga batal kalau yang melakukannya berjima' dengan istrinya. Begitu juga kalau ia pergi shalat Jum'at ke masjid lain karena tempatnya beri'tikaf tidak dipakai untuk melaksanakan shalat jum'at.

I'tikaf bagi muslimah

I'tikaf disunnahkan bagi pria, begitu juga wanita. Tapi, bagi wanita ada syarat tambahan selain syarat-syarat secara umum di atas, yaitu, pertama, harus mendapat izin suami atau orang tua.


Kedua, tempat dan pelaksanaan i'tikaf wanita sesuai dengan tujuan syariah. Para ulama berbeda pendapat tentang masjid untuk i'tikaf kaum wanita. Tapi, sebagian menganggap afdhal jika wanita beri'tikaf di masjid tempat shalat di rumahnya. Tapi, jika ia akan mendapat manfaat yang banyak dengan i'tikaf di masjid, ya tidak masalah.


Terakhir, agar i'tikaf kita berhasil memperkokoh keislaman dan ketakwaan kita, tidak ada salahnya jika dalam beri'tikaf kita dibimbing oleh orang-orang yang ahli dan mampu mengarahkan kita dalam membersihkan diri dari dosa dan cela.

Contoh Agenda I'tikaf

Magrib: ifthar dan shalat magrib
Isya: Shalat Isya dan tarawih berjamaah, ceramah tarawih, tadarus Al-Qur'an, dan kajian akhlak.

Tidur hingga jam 02.00.
Qiyamullail, muhasabah, dzikir, dan doa.
Sahur.
Subuh: shalat Subuh, dzikir dengan bacaan-bacaan yang ma'tsur (al-ma'tsurat), tadarus Al-Qur'an.

Pagi: istirahat, mandi, cuci, dan melaksanakan hajat yang lain.
Dhuha: shalat Dhuha, tadzkiyatun nafs, dan kuliah dhuha.
Zhuhur: shalat Zhuhur, kuliah zhuhur, dan tahsin tilawah.
Ashar: shalat Ashar dan kuliah ashar, dzikir dengan bacaan-bacaa yang ma'tsur (al-ma'tsurat).

[copy paste dari milis, semoga bermanfaat]
p.s Foto dari koleksi Ruly