Dec 10, 2011

Perlukah Libur Hari Jumat ?


Sudah beberapa kali ini saya ambil cuti hari Jumat. Apa enaknya libur hari Jumat yg sebenarnya hari kerja bagi yang lain ? Sebagai seorang muslim saya dapat mempersiapkan pergi shalat Jumat dengan lebih leluasa dan bisa pilih mau ke mesjid mana. Hal lainnya pusat keramaian kosong dan dapat dinikmati lebih tenang. Alhasil berarti pergi senang, pulang senang, mendengar khutbah pun tak mengantuk. Pulang dari sana dapat mampir tempat-tempat yg sudah lama tak diziarahi :-)

Kemarin sengaja shalat di Masjid Khalid. Masjid yg terletak di dekat sentra pasar melayu Geylang ini tak terlalu jauh dari mall Joo Chiat Complex dan GSM. Sepulang Jumat, sambil cuci mata di toko-toko kelontong di sepanjang jalan untuk mencari something really difficult to find saya arahkan kaki menuju dua toko buku legendaris di mall tsb: Toko Buku Haji Hashim (lantai 1) dan Toko Buku Warisan (lantai 2). Kedua toko ini memang super kompak alias padat dengan koleksi buku nya meski arealnya amat terbatas.

Memasuki toko buku tanpa ide mau cari apa adalah kesalahan terbesar :-( Alhamdulillah di TB H.Hasyim mata menangkap sosok buku-buku Prof Hamka diantaranya tafsir al-Azhar (edisi asli Panjimas) dan buku-buku beliau yg lain (agama, roman). Hmm mungkin ini memang tujuannya ! Saya bantai sekitar 15 menitan di sana, banyak karya Hamka ini yg sudah diterbitkan oleh Malaysia sehingga harganya pun pasti lebih mahal. Tapi saya salut dan bersyukur bahwa karya-karya bagus ini tetap ada penerusnya meski sudah tak naik tayang di tanah air :-( Selesai di lantai 1, lanjut ke TB Warisan di lantai 2. Toko buku bernuansa biru ini jauh lebih luas, terang  dan lebih lengkap. Bila di Indonesia kita hanya lihat koleksi buku penulis dari Indonesia saja, di sini dapat ditemukan koleksi buku bahasa serumpun dari tiga negara (mayoritas Malaysia, Singapura, dan Indonesia).

Toko Buku Warisan

Dengan semangat "Ku (sudah) Tahu Yang Ku Mau" langsung tanya penjaga toko dimana koleksi karya Hamka. Langsung menuju rak TKP, benar saja ... lebih banyak lagi ! Alhamdulillah tidak sia-sia pengembaraan setengah jam-an itu, saya berhasil bawa pulang tiga karya buya: Islam dan Adat Minangkabau (Pustaka Dini, $14), Lembaga Hidup (Panjimas, $11), dan Hamka Bercerita tentang Nabi dan Rasul (Pustaka Dini, $18).


Jadi perlukah libur hari Jumat itu ?

Bagi kita yg tinggal bukan di Timur Tengah, ini adalah sebuah kemewahan yg tak mungkin diperoleh tiap minggu, karena memang hari kerjanya berbeda. Namun tak perlu risau, Allah Swt sendiri menerangkan dalam Qs al-Jumu'ah 62:10 "Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung." Umat Islam bukannya disuruh cuti penuh satu hari itu untuk beribadah melainkan cukup menyediakan satu jam (kurang lebih) untuk beribadah yg wajib. Bagi sebagian orang, senangnya berlibur di hari Jumat umumnya  dikarenakan long weekend (Jum-Sab-Min) yg dpt diisi dengan kegiatan-kegiatan penting lain. Jadi tak perlu risau kawan :-)


AIDA dan Jendela Johari


Menjadi agen kebaikan dalam arti umum adalah menjadi da'i alias si penyeru. Ladang kerjanya bernama dakwah. Di era modern ini hadir beragam media pendukung da'i.
Alhamdulillaah teknologi sangat membantu kerja seorang penyeru kebaikan. 
Dimulai dari yg paling jadul lestari bernama telefon, radio, dan televisi, hingga dilanjutkan oleh komputer, internet, aplikasi web (buzz, tweet, YM, FB, skype, youtube, ustream, podcast, blog dll), dan piranti bergeraknya spt HP pintar, tablet dll. Dengan limpahan berkah teknologi sebanyak ini diharapkan para penyeru kebaikan memahami pemakaian teknologi yg sesuai dengan pesan yg akan dibawakan dan level pemahaman pemirsa nya. Pesan bisa singkat dan padat seperti sms dan kultwit, live lewat streaming suara atau gambar, ataupun interaktif seperti tulisan di blog/FB.

Bagi yg tak sempat mendengarkan kuliah dapat mencari rekaman ulang lewat mp3/youtube dan slide presentasinya dlm format e-book (pdf/chm). Khawatir tertinggal pesan-pesan penting saat mendengar ceramah maka manfaatkan aplikasi perekam suara yg hadir di HP pintar. Cara ini sudah sering dipakai mahasiswa saat menghadiri kuliah di sini dari yg jadul lewat tape recorder, HP, atau yg profesional macam jurnalis dgn perekam buatan Olympus ini. Luar biasa ! Andaikan para pencipta teknologi tsb adalah muslim,  bayangkan betapa luar biasanya pahala turun temurun yg mereka terima hingga akhir zaman :-)

Teknologi sudah tersedia (ubiquitous) di dua sisi: pemberi (da'i) dan penerima (pemirsa). Apa masih ada tantangan dalam menyeru kebaikan ? Tentunya akan selalu ada, malahan dengan bentuk yg lebih kompleks bernama pisau bermata dua. Dakwah hadir untuk kepentingan dan eksistensi manusia di dunia (al-Anfaal 8:24-25), namun sudah menjadi rahasia umum iblis dan para tentaranya tak akan pernah rela menyaksikan manusia di muka bumi ini sadar utk taat pada Sang Pencipta.

Sebuah pisau yg sejatinya bermata satu (yaitu yg memberi manfaat) diasah tentara iblis di sisi lainnya menjadi mata kedua yg dpt mencelakakan pemakainya (menjelma sebagai teknologi yg sarat mudharat, kejahatan, dan maksiat). Tiga puluh, empat puluh tahun yang lalu semua orang menerima dengan lapang hati televisi di rumah mereka. Namun kini isi siaran televisi sudah sulit utk dikawal, kotak ajaib yg *menculik* fisik, kejernihan hati, dan kecemerlangan fikiran berjuta pemirsanya, sehingga banyak rumah tangga berkeinginan utk melenyapkan kotak ajaib ini. Nasib yg sama kini menular kepada pisau lain yg bernama internet yg juga memiliki sisi kelam membawa faham pragmatis, materialis, hedonis, dan budaya indrawi yg tak sesuai dengan Islam.

*****

Dalam ilmu marketing (atau lebih tepatnya advertising) ada jargon populer yang disingkat AIDA (Attention, Interest, Desire, Action). Sebuah jargon yg telah bertahan lama, membagi tugas advertising dalam empat langkah, sehingga pemasaran produk sukses besar. Saya berpendapat bahwa kerja membawa umat kepada kebaikan adalah pekerjaan advertising. Di tiap level (langkah) AIDA diperlukan da'i dgn karakteristik tertentu.

  • A (Attention/Attract)
    Tahap awal utk menggaet perhatian: tabligh akbar, da'i kondang, siraman rohani lewat  tv atau pada momen-momen religi. Para da'i di tahap ini membangunkan kaum muslimin yg masih tertidur, tak peduli, atau yg sebelumnya tak pernah punya perhatian pada agamanya. Tugas da'i yg *berkampanye* dalam proses ini sptnya mudah (bahkan cenderung trendy, gaul/selebriti, ha-ha-hi-hi bukan tipikal ulama pondok), namun mungkin mereka perlu begitu krn ladangnya adalah orang awam. Keberhasilan tahap ini  diukur dengan berapa banyak pemirsa yg naik kelas ke tahap selanjutnya "level I".
  • I (Interest)
    Kini sebagian pemirsa sudah terjaga. Tumbuh keinginan utk mengikuti acara yg serupa. Kelompok inilah yg menjadi target lapis kedua dari penyeru kebaikan. Mereka mulai hadir di ceramah/tabligh di lingkungan sekolah/rumah/kantor atau saat ada waktu menonton siaran agama pada stasiun tv atau ustadz yg sama. Jika ada artikel agama di majalah/koran yg menarik perhatian atau diskusi ringan tentang agama di kantor/kampus orang ini mulai mau bergabung.
  • D (Desire)
    Nah bagaimana mengawal atau menjaga semangat para calon agen kebaikan tadi agar menumbuhkan minat yg mendalam ? Bagaimana menjunamkan keinginan (I) tadi menjadi kecintaan/kebutuhan (D) yg tak didasari keterpaksaan atau kebetulan. Menurut saya disinilah peran aktif masjid atau institusi pendidikan Islam yg lebih rapi, yg memiliki kelas/program/kurikulum utk ditawarkan kepada mereka. Da'i di level ini berperan menjadi pembimbing dan partner calon agen kebenaran dlm menuntun membaca buku-buku agama Islam yg lebih mendalam, memilah informasi di internet, mengubah penampilan, gaya bicara/bergaul dll.Tujuan akhirnya agar tiap calon agen mengenal inti/esensi dari ajaran Islam dan tidak hanya puas hanya tahu kulitnya saja.
  • A (Action)
    Di level ini seorang calon agen sudah bertransformasi menjadi agen. Agen kebaikan yg siap beraksi mandiri dilepas utk mengawal diri mereka sendiri dan di saat yg sama menebar kebaikan di sekitar (keluarga, teman, tetangga) baik secara sadar atau tidak. Mereka tetap memerlukan da'i pada masa ini untuk selalu merecharge semangat, motivasi, dan bertukar informasi. 
Siklus AIDA akan tetap berlaku hingga akhir zaman. Visi tunggal utk menyadarkan manusia pada tujuan hidup nya di muka bumi yaitu untuk menyembah Allah SWT yang Esa, misi utk membebaskan manusia dari penghambaan kepada tuhan (dewa), manusia lain, atau sistem thagut yg lain, meski dengan metodologi/cara yg dapat bervariasi mengikut kondisi. Jangan pernah merasa bahwa menebarkan kebaikan adalah private domain sebagaimana faham sekuler mengajarkan. Nikmat Islam dan Iman yg telah dianugerahkan Allah Swt menjadi motivasi utama kita menebarkan kebaikan, agar  keluarga, kerabat, kawan, dan siapapun yg kita cintai turut merasakan nikmat tsb. Jangan sampai kita mendapat marah Allah Swt karena sudah merasa *selamat sendiri* dan tak mau repot dengan yg lain (al A'raaf 7:164).

Jika dibayangkan dengan pendekatan teori jendela Johari (Johari windows) maka objektif akhir para da'i adalah membawa sebanyak-banyaknya umat muslim menjadi agen pembawa kebenaran (jendela hijau). Menghasilkan agen yg mampu:
  • membawakan nilai-nilai universal Islam secara komprehensif, dan 
  • melengkapkan siklus rabbani (mempelajari + mengamalkan + mengajarkan), 
agar semakin banyak saudara-saudari muslim yg masih berada pada ketiga jendela yg lain menuju jendela hijau. Oleh karena itu di tiap masa selalu diperlukan kecukupan jumlah agen kebenaran di tiap tahapan AIDA. Para agen kebenaran yg bekerja bahu membahu dan menghindari persaingan tak sehat mencari pengaruh.


Di era ramainya dakwah melalui status/ajakan singkat di FB/kultwit Aa Gym pernah berpesan: "Janganlah pernah minder (krn sedikit follower) atau dengki (melihat agen kebaikan lain punya follower lebih banyak). Ikhlaslah dalam berpesan dan bukan utk tujuan mengumpulkan ramai pengikut untuk pamer kefasihan/ kepintaran. Bila niat tidak ikhlas, artinya kita berdakwah BUKAN dalam rangka mencari Allah, agar orang lain dapat ilmu, atau diri kita menjadi lebih baik.", sebagaimana yg disampaikan Allah dalam surat al-Imran 3:79.


Alhamdulillaahi rabbil'alamiin, semoga memberi semangat !
Selamat tahun baru Islam 1433 H.

Tulisan terkait : Menjadi Agen Kebaikan
Beberapa bacaan pendamping (1)(2)



Nov 30, 2011

Dont tell us how to dress ...

foto dari sini
Pertama kali saya lihat foto flyer demo yg gede di bundaran thamrin tsb memang tak percaya, apalagi disambung dengan kalimat ... but tell them not to rape. Rupanya kejadian dua bulan lalu itu buntut dari ramainya kasus pelecehan wanita yg pakai rok mini. Pantesan para pengusung flyer tersebut adalah kaum hawa juga dgn rok mini.

Aneh bin ajaib. Mereka memaksa sikap orang (yg melihat mereka) sementara mereka tak mau berhenti bersikap sbg salahsatu akar masalah. Ini ide feminisme bodoh darimana ? Biasanya demo kaum rok mini dan busana kurang bahan adalah di pentas cat-walk dan bukan di pinggir jalan ramai :-)

Siapa yg bertanggung jawab mengurusi otak kotor masyarakat. POLISI ?

Dalam sejarah Islam, sejak Rasulullah, masuk zaman khulafaur rasyidin, hingga penghujung masa kejayaan kekhalifahan Abbasiah tidak pernah dikenal yg namanya POLISI ! Hukum syari'ah dibuat, ditaati muslim, dan dijunjung tinggi krn bersandar pada empat pilar yg solid (al-Quran, Sunnah, Qiyas, Ijma'). Seorang qadi (hakim) yg memutuskan perkara akan diangkat oleh khalifah. Meskipun ada cerita sedih jg krn hukum syariah ini untouchable for the elite rings/courts :-( Yg saya tahu dalam sejarah Islam hanya dikenal pejuang penjaga perbatasan (garnizoen/garrison city) atau penjaga khalifah namun bukan POLISI. Lalu saat ekspansi wilayah Islam lebih besar lagi mulailah dikenal tentara yg digaji oleh kekhalifahan.

Selain masyarakat menghormati hukum, khalifah, gubernur, dan state officers lainnya mengatur wilayahnya agar steril terhadap hal-hal pemicu maksiat spt judi, miras, pelacuran dll. Pendidikan agama dan sekolah umum pun dibuat gratis untuk tiap anak. Jadi alih-alih mengobati, mereka adakan pencegahan dini. Sistem ini dpt berjalan baik tanpa negara harus keluar anggaran besar utk POLISI. Keamanan dan keselamatan lingkungan ditegakkan dengan berpandukan *amar ma'ruf nahi munkar*. Tiap anggota masyarakat bertanggungjawab tegaknya nilai kebaikan universal yg dibawa Islam. Yang bandel pasti ada, tapi warga dapat melaporkan tanpa harus takut, apalagi mau diajak kompromi.

Sementara di peradaban barat, penjaga keamanan memang sangat diperlukan krn banyaknya orang tertindas di abad kegelapan yg menjadi penjahat. Faktor penyebabnya beragam mulai dari kebebasan yg tak bertanggung jawab, kemiskinan akut, kebodohan, ketimpangan level sosial, hidup bebas agama dll. Alhasil negeri2 di barat kewalahan dan harus mencari solusi (polisi, garda, sheriff dll).

Lalu mengapa negeri2 muslim mengadopsi sistem POLISI spt di barat ?
Bahkan ada yg *rancu* spt polisi syariah di Msia / Saudi.
Menghabiskan jutaan dollar tiap tahun tanpa ada tanda2 berkurangnya maksiat, problem sosial, malahan penjara makin sesak.
Harusnya pemerintah berani mengatakan NO WAY kepada sumber2 maksiat dan harapkan 50% kejahatan itu turun alami !


Nov 22, 2011

Perlu berhati-hati di Singapura

Membaca kabar duka seperti yang ditulis rekan saya ini memang memilukan. Sebuah rencana yg indah, dieksekusi dengan matang, namun ternyata maut lebih sigap menjemput. Bagi muslim, maut adalah suatu peristiwa luar biasa yg selalu datang dgn 3 rahasianya: kapan, dimana, dan dengan cara apa. Semoga tiap musibah selalu menjadi pelajaran bagi kita yg masih menjalani hidup.

Iktibar dari skenario musibah ini buat kami dan juga bagi para pelancong (dan guide nya = famili atau kawan si pelancong yg tinggal di Singapura) yg mau jjs di Singapura adalah jangan pernah lengah kapan dan dimanapun. Cukup mengherankan bahwa keyword judul di atas hanya menampilkan satu tulisan dari 4.2 juta lelaman yg dihimpun mbah Google (pada saat tulisan ini dibuat). Semua menganggap Singapura itu aman !

Bagi mereka yg baru datang dari Indonesia, negeri ini terasa sangat aman dan nyaman pada sentuhan pertama. Usai mendarat di Changi, lalu melaju dengan taksi ke hotel, tampak semua mulus, jalanan teduh dan lebar, greenman di tiap simpang jalan, serasa tak pernah mengenal macet atau pelaku zigzag yg nyelonong tanpa aturan. Hingga sense of danger pelancong menjadi teramat kurang, merasa semua tempat aman taat aturan, hak pemakai jalan dihormati, hukum dipatuhi, dll ....

Demikian pula dengan bermunculan nya mall-mall baru yg lebih glamour, arsitektur modern, dan full-AC sehingga paling asyik utk ngadem daripada hangus di sepanjang Orchard serasa berbelanja dimanapun memang aman. Namun jangan heran: copet di siang bolong itu ada, barang hilang krn tertinggal di taksi itu sudah biasa, penipuan jual barang berbuntut pemaksaan (scam, fraud) di lokasi semacam LP atau SLS itu sudah jadi gosip umum di situs travel semacam tripadvisor.com atau virtualtourist.com bahkan kaskus, menjual kartu handphone prabayar dgn harga tak masuk akal sudah sering, tiba-tiba Anda menjadi pemenang lucky draw untuk menikmati liburan bintang lima adalah tipuan, supir taksi yang minta tambahan biaya dll.

Spt yg dipaparkan bang Napi (versi Singapura): less crime doesn't mean no crime atau less accident doesn't mean no accident. Kehatian-hatian itu tetap nomor satu ! Taati aturan dan insya Allah Anda selamat.

Beberapa tips yang dapat dipakai:
  • Jalan di negeri ini aman utk pejalan kaki yg taat aturan dan bukan utk para jaywalker. Tetaplah tengok kiri-kanan dan tidak bercanda sebelum menyeberang.
  • Periksa barang-barang bawaan saat berkendara.
  • Hindari membeli barang tergesa-gesa krn menganggap SALE UP TO 70% itu asli murah. Survei di internet dulu atau singgahi mall besar yg memasang harga resmi.
  • Rencanakan detail perjalanan dengan baik kalau dapat gunakan bus/mrt.
  • Hindari dehidrasi saat jjs krn tempat2 wisata di Singapura amat memerlukan ketangguhan betis di tengah terik matahari. Maklumlah di sini tak ada bajaj atau ojek :-)


Atas dari segalanya sebagai muslim tentulah semua musibah hanyalah datang dari Allah.

Uang Singapura Palsu

Di rantauku ini semakin jarang orang memegang uang.
Uang semakin langka wujudnya dari hari ke hari. 
Uang sering muncul saat membayar makan di kedai atau bayar taksi.
Turun naik kendaraan umum pun sudah lama tak memakai uang.
Lima tahun belakangan ini daun plastik yg bernama debitcard dan cashcard semakin menggeser si daun kertas.
Pasar, mall, restoran semakin "panas" krn ulah si daun plastik.
Ia baru berharga setelah digesek :-)
Sementara creditcard kini berpenampilan baru dengan chip emas di bodi.
Membuatnya lebih awet krn tak perlu selalu digesek.
Uang kertas yg beredar umumnya hanya bernominal kecil $2, $5, $10, atau $50 sekali-sekala.
Nominal $2, $5, $10 pun sudah berbodi plastik (polimer) krn mereka yg paling sering berpindah majikan.
Alhasil masyarakat kenal sangat baik si ungu ($2), si hijau ($5), dan si merah ($10).
Si biru gagah ($50) juga lekat di hati masyarakat karena inilah nominal terbesar yg keluar dari mesin ATM. Persis mirip si biru Rp. 50 ribu di ATM di Indonesia nasibnya.

Lalu bagaimana dgn nominal besar $100, $1000, dan $10000 ?
Masih berbahan kertas hingga hari ini dan warna ketiganya pun pudar.
Tak jelas antara orange atau ungu.
Amat langka dipakai berbelanja.
Menukarnya pun harus ke bank sebab mesin ATM tak menyimpannya.
Saya pun tak pernah melihat fisik sepuluh ribuan itu.
Generasi muda (usia 20-30 tahunan) pasti tak begitu kenal ketiganya.
Karena generasi muda lahir semasa dengan naik daunnya si uang plastik.

Terbukti dua minggu lalu ada kasus terbaru uang palsu.
Seseorang yg sukses membeli barang elektronik total seharga $6000.
Tanpa diketahui (iphone4, ipad, macbookpro) berpindah tangan dgn uang palsu.
Uang palsu yg dipakai utk membeli adalah lembar-lembar uang nominal seribu.
Dicetak sendiri dengan printer rumahan yg mungkin dibeli dengan uang palsu juga :-)

*kasus pemalsuan terakhir uang singapura tahun 2010 di luar negeri yg tertangkap di Indonesia.