Dec 10, 2011

AIDA dan Jendela Johari


Menjadi agen kebaikan dalam arti umum adalah menjadi da'i alias si penyeru. Ladang kerjanya bernama dakwah. Di era modern ini hadir beragam media pendukung da'i.
Alhamdulillaah teknologi sangat membantu kerja seorang penyeru kebaikan. 
Dimulai dari yg paling jadul lestari bernama telefon, radio, dan televisi, hingga dilanjutkan oleh komputer, internet, aplikasi web (buzz, tweet, YM, FB, skype, youtube, ustream, podcast, blog dll), dan piranti bergeraknya spt HP pintar, tablet dll. Dengan limpahan berkah teknologi sebanyak ini diharapkan para penyeru kebaikan memahami pemakaian teknologi yg sesuai dengan pesan yg akan dibawakan dan level pemahaman pemirsa nya. Pesan bisa singkat dan padat seperti sms dan kultwit, live lewat streaming suara atau gambar, ataupun interaktif seperti tulisan di blog/FB.

Bagi yg tak sempat mendengarkan kuliah dapat mencari rekaman ulang lewat mp3/youtube dan slide presentasinya dlm format e-book (pdf/chm). Khawatir tertinggal pesan-pesan penting saat mendengar ceramah maka manfaatkan aplikasi perekam suara yg hadir di HP pintar. Cara ini sudah sering dipakai mahasiswa saat menghadiri kuliah di sini dari yg jadul lewat tape recorder, HP, atau yg profesional macam jurnalis dgn perekam buatan Olympus ini. Luar biasa ! Andaikan para pencipta teknologi tsb adalah muslim,  bayangkan betapa luar biasanya pahala turun temurun yg mereka terima hingga akhir zaman :-)

Teknologi sudah tersedia (ubiquitous) di dua sisi: pemberi (da'i) dan penerima (pemirsa). Apa masih ada tantangan dalam menyeru kebaikan ? Tentunya akan selalu ada, malahan dengan bentuk yg lebih kompleks bernama pisau bermata dua. Dakwah hadir untuk kepentingan dan eksistensi manusia di dunia (al-Anfaal 8:24-25), namun sudah menjadi rahasia umum iblis dan para tentaranya tak akan pernah rela menyaksikan manusia di muka bumi ini sadar utk taat pada Sang Pencipta.

Sebuah pisau yg sejatinya bermata satu (yaitu yg memberi manfaat) diasah tentara iblis di sisi lainnya menjadi mata kedua yg dpt mencelakakan pemakainya (menjelma sebagai teknologi yg sarat mudharat, kejahatan, dan maksiat). Tiga puluh, empat puluh tahun yang lalu semua orang menerima dengan lapang hati televisi di rumah mereka. Namun kini isi siaran televisi sudah sulit utk dikawal, kotak ajaib yg *menculik* fisik, kejernihan hati, dan kecemerlangan fikiran berjuta pemirsanya, sehingga banyak rumah tangga berkeinginan utk melenyapkan kotak ajaib ini. Nasib yg sama kini menular kepada pisau lain yg bernama internet yg juga memiliki sisi kelam membawa faham pragmatis, materialis, hedonis, dan budaya indrawi yg tak sesuai dengan Islam.

*****

Dalam ilmu marketing (atau lebih tepatnya advertising) ada jargon populer yang disingkat AIDA (Attention, Interest, Desire, Action). Sebuah jargon yg telah bertahan lama, membagi tugas advertising dalam empat langkah, sehingga pemasaran produk sukses besar. Saya berpendapat bahwa kerja membawa umat kepada kebaikan adalah pekerjaan advertising. Di tiap level (langkah) AIDA diperlukan da'i dgn karakteristik tertentu.

  • A (Attention/Attract)
    Tahap awal utk menggaet perhatian: tabligh akbar, da'i kondang, siraman rohani lewat  tv atau pada momen-momen religi. Para da'i di tahap ini membangunkan kaum muslimin yg masih tertidur, tak peduli, atau yg sebelumnya tak pernah punya perhatian pada agamanya. Tugas da'i yg *berkampanye* dalam proses ini sptnya mudah (bahkan cenderung trendy, gaul/selebriti, ha-ha-hi-hi bukan tipikal ulama pondok), namun mungkin mereka perlu begitu krn ladangnya adalah orang awam. Keberhasilan tahap ini  diukur dengan berapa banyak pemirsa yg naik kelas ke tahap selanjutnya "level I".
  • I (Interest)
    Kini sebagian pemirsa sudah terjaga. Tumbuh keinginan utk mengikuti acara yg serupa. Kelompok inilah yg menjadi target lapis kedua dari penyeru kebaikan. Mereka mulai hadir di ceramah/tabligh di lingkungan sekolah/rumah/kantor atau saat ada waktu menonton siaran agama pada stasiun tv atau ustadz yg sama. Jika ada artikel agama di majalah/koran yg menarik perhatian atau diskusi ringan tentang agama di kantor/kampus orang ini mulai mau bergabung.
  • D (Desire)
    Nah bagaimana mengawal atau menjaga semangat para calon agen kebaikan tadi agar menumbuhkan minat yg mendalam ? Bagaimana menjunamkan keinginan (I) tadi menjadi kecintaan/kebutuhan (D) yg tak didasari keterpaksaan atau kebetulan. Menurut saya disinilah peran aktif masjid atau institusi pendidikan Islam yg lebih rapi, yg memiliki kelas/program/kurikulum utk ditawarkan kepada mereka. Da'i di level ini berperan menjadi pembimbing dan partner calon agen kebenaran dlm menuntun membaca buku-buku agama Islam yg lebih mendalam, memilah informasi di internet, mengubah penampilan, gaya bicara/bergaul dll.Tujuan akhirnya agar tiap calon agen mengenal inti/esensi dari ajaran Islam dan tidak hanya puas hanya tahu kulitnya saja.
  • A (Action)
    Di level ini seorang calon agen sudah bertransformasi menjadi agen. Agen kebaikan yg siap beraksi mandiri dilepas utk mengawal diri mereka sendiri dan di saat yg sama menebar kebaikan di sekitar (keluarga, teman, tetangga) baik secara sadar atau tidak. Mereka tetap memerlukan da'i pada masa ini untuk selalu merecharge semangat, motivasi, dan bertukar informasi. 
Siklus AIDA akan tetap berlaku hingga akhir zaman. Visi tunggal utk menyadarkan manusia pada tujuan hidup nya di muka bumi yaitu untuk menyembah Allah SWT yang Esa, misi utk membebaskan manusia dari penghambaan kepada tuhan (dewa), manusia lain, atau sistem thagut yg lain, meski dengan metodologi/cara yg dapat bervariasi mengikut kondisi. Jangan pernah merasa bahwa menebarkan kebaikan adalah private domain sebagaimana faham sekuler mengajarkan. Nikmat Islam dan Iman yg telah dianugerahkan Allah Swt menjadi motivasi utama kita menebarkan kebaikan, agar  keluarga, kerabat, kawan, dan siapapun yg kita cintai turut merasakan nikmat tsb. Jangan sampai kita mendapat marah Allah Swt karena sudah merasa *selamat sendiri* dan tak mau repot dengan yg lain (al A'raaf 7:164).

Jika dibayangkan dengan pendekatan teori jendela Johari (Johari windows) maka objektif akhir para da'i adalah membawa sebanyak-banyaknya umat muslim menjadi agen pembawa kebenaran (jendela hijau). Menghasilkan agen yg mampu:
  • membawakan nilai-nilai universal Islam secara komprehensif, dan 
  • melengkapkan siklus rabbani (mempelajari + mengamalkan + mengajarkan), 
agar semakin banyak saudara-saudari muslim yg masih berada pada ketiga jendela yg lain menuju jendela hijau. Oleh karena itu di tiap masa selalu diperlukan kecukupan jumlah agen kebenaran di tiap tahapan AIDA. Para agen kebenaran yg bekerja bahu membahu dan menghindari persaingan tak sehat mencari pengaruh.


Di era ramainya dakwah melalui status/ajakan singkat di FB/kultwit Aa Gym pernah berpesan: "Janganlah pernah minder (krn sedikit follower) atau dengki (melihat agen kebaikan lain punya follower lebih banyak). Ikhlaslah dalam berpesan dan bukan utk tujuan mengumpulkan ramai pengikut untuk pamer kefasihan/ kepintaran. Bila niat tidak ikhlas, artinya kita berdakwah BUKAN dalam rangka mencari Allah, agar orang lain dapat ilmu, atau diri kita menjadi lebih baik.", sebagaimana yg disampaikan Allah dalam surat al-Imran 3:79.


Alhamdulillaahi rabbil'alamiin, semoga memberi semangat !
Selamat tahun baru Islam 1433 H.

Tulisan terkait : Menjadi Agen Kebaikan
Beberapa bacaan pendamping (1)(2)



1 comment:

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

    ReplyDelete