Mar 12, 2012

Jimat itu Percuma


Di awal kedatangan saya di negeri yg mengamalkan bahasa Melayu ini, ada dua kosa kata yg agak lain dari pengertian kita di Indonesia, yaitu jimat dan percuma. Jimat yg kita kenal sebagai benda tangkal bala yg dipercayai oleh dukun syirik di Indonesia, di dalam bahasa Melayu artinya adalah hemat (berjimat = berhemat). Sementara kalung, gelang, bungkusan tolak bala itu dipanggil azimat (amulet) oleh orang Melayu. Bgm dengan percuma ? Di dalam kamus Melayu, percuma itu gratis atau free of charge (tak perlu bayar apa-apa). Agak mirip lah dengan kosakata kita, percuma itu kan sia-sia alias tak bermanfaat. Di waktu kecil, saya hafal lagu “Naik Kereta Api” ciptaan Ibu Sud, nah di salahsatu liriknya adalah … Bolehlah naik dengan percuma he..he..

*******


Oke, itu cerita bahasa jiran (tetangga).

Sebenarnya saya mau tulis cerita penjimatan alias penghematan. Sebagai sebuah negeri tanpa SDA (sumber daya alam), Singapura berjimat mengkonsumsi air dan energi. Air dibeli atau diolah dengan mahal, energi diproduksi dengan membakar minyak bumi atau gas setiap hari. Asal sanggup bayar mahal di akhir bulan, air dan energi (listrik, bbm) pasti akan mengalir tanpa henti ke setiap pelanggan. Tak ada istilah pemadaman atau penyalaan bergilir (byar pet) atau kelangkaan BBM. Mayoritas pelanggan sanggup bayar krn diancam pemutusan aliran namun langkah penghematan tetap dieksekusi sebagai sebuah usaha yg kontinu dan makin baik dari tahun ke tahun.

Bicara penghematan air atau listrik di kantor atau institusi pemerintahan Indonesia memang membuat pening. Semangat, slogan, dan poster hanya baru sebatas lip-service. Masih terpampang poster atau stiker besar mengajak untuk berhemat di gedung tsb tapi pemborosan air atau listrik terjadi di depan mata tanpa ada yg berpikir untuk menghentikannya. AC hidup tiada henti sementara jendela-jendela ruangan terbuka karena pegawai-pegawai di dalamnya merokok, lampu-lampu yang menyala terang benderang meskipun para pegawai sudah pulang, keran bocor yg tak diperbaiki, sensor water-flush di toilet yang airnya terus mengalir karena tak berfungsi, dll. Belum lagi ditambah kerusakan atau pemborosan lain yg disebabkan oleh sikap sebagian pegawai yg mengatakan INI BARANG MILIK NEGARA !

Di sudut sekolah

Tak heranlah pemborosan tsb tiada yg menghentikan krn tiada yang peduli. Kendaraan plat merah yang tergores, tabrakan, diisi bensin campur, atau dibiarkan hidup dengan full-AC menemani sang supir yg menunggu istri atasan nya yg sedang shopping tak ada yg peduli. Alat-alat inventaris kantor, sarana bantu pekerjaan, toilet yg tak dipelihara alias membiarkannya rusak. Rekening listrik, air, tagihan bensin, atau biaya reparasi mobil rusak semua ditanggung kantor (baca: negara -> APBN -> pajak rakyat). Kadang seenaknya saja meminjam (baca: memakai) fasilitas kantor untuk keperluan pribadi. Jika dipinjam dengan bertanggung jawab masih beradab lah, tapi jika saat dikembalikan hancur/rusak ? Belum lagi jika bicara tentang pencurian sarana kantor baik yg dilakukan orang dalam (kleptomaniac inside) atau memang pelakunya orang luar yg “tak sengaja diundang merampok" karena lemahnya pengawasan. Selama uang yg keluar bukan uang saya, silakan pergunakan semaunya. EGP !

Bukan hanya di departemen atau institusi pemerintahan, ini pun terjadi di institusi pendidikan yg bernama sekolah. Sekolah yg menjadi tempat mendidik anak-anak manusia, yg lebih banyak menyerap contoh perilaku nyata dibandingkan hafalan dari buku paket. Padahal anak-anak itu mendengar ceramah setiap bulan tentang kebersihan, hidup hemat, perilaku yg baik dll, namun yg dilihat sebaliknya. Mungkin ini salahsatu sebab mengapa di sekolah2 umumnya dibuat pembagian ada WC GURU dan ada WC MURID. Guru tidak pernah memakai WC murid karena sudah asumsinya WC itu jorok dan bau. Sementara murid sendiri berlaku seenaknya di WC mereka karena toh tak ada yg melarang atau sanksi. Standar nasional, gedung hijau, mendukung earth hour, dan berbagai slogan-slogan langit lainnya seolah tak berbekas.

Seorang kawan berteori, tiada penghargaan (reward) dan sanksi (punishment) bagi pelaku yg berbuat. Tidak pernah ada KPI (key performance indicator) yg mengukur tingkat penghematan yg telah dilakukan sebuah departemen, kebersihan tiap lantai, pemilihan toilet yg kinclong tiap bulan dll. Semua pegawai kebersihan diperlakukan sama, mereka tetap terima gaji asal masuk kantor. Tidak ada keistimewaan bagi yg berbuat lebih dan tidak ada hukuman bagi yg below standard atau melanggar. Lah standard nya saja tidak pernah diumumkan :-(

Miris jika yg dikambinghitamkan adalah gaji yg kurang, lalu dimana hati nurani ? Kalau satu atau dua dari kasta kepegawaian terendah yg bermental maling melakukan bisa jadi. Namun jika dibiarkan maka hal ini menular cepat. Tiada yg mengingatkan, tiada yg mengoreksi. Toh itu MILIK NEGARA ! Bangkrutnya negeri ini seperti disengaja. Kasta tinggi korupsi, kasta rendah maling, mayoritas tak peduli. Sama juga dengan anak-anak sekolah yg mencoret meja, merusak toilet, mematahkan kunci pintu kelas dll karena merasa sudah bayar uang gedung dan bayar spp.

Dengan tetap salut hormat kepada para pegawai yg tetap mengikuti akal sehat dan hati nurani, hingga mereka mau meluangkan sedikit waktu, tenaga, dan bekerja lebih untuk kebaikan institusi tempat mereka bekerja, saya ingin menyampaikan kesan bahwa sebenarnya rasa memiliki itu lah yang hilang. Mengapa di kantor swasta tindak penghematan dan pengawasan itu bisa dilakukan mayoritas, sementara susah sekali di institusi plat merah ? Perlu SOP, KPI, reward and punishment ? Uang ekstra yg seharusnya dibayarkan utk rekening listrik/air malah bisa dipakai tamasya satu departemen :-) Sekali lagi naik gaji bukan solusi !

Berhemat itu gratis.
Setiap orang dapat berhemat tanpa mengeluarkan biaya apapun !


Terkait: Bermula dari rasa memiliki

No comments:

Post a Comment