Apr 19, 2011

Atas Nama Retro

Sering kali anak belajar inkonsistensi dari perilaku orang tua nya.

Hal kecil yg bermula dari memperhatikan logo kecil:

Tjap Halal (Muis, Mui, Jakim, etc)


Anak2 biasanya patuh dgn pakem ini.


Namun dalam prakteknya ortu kadang alpa atas nama retro dan tetap mengkonsumsinya ... dan mengenalkannya pada anak. Sebagai anak tentunya senang2 saja dong jajan di luar sekali2 :-)

  • Dulu saya biasa makan bakmie XYZ ini dgn ortu, sudah 20 tahun tnyt masih ada tokonya. Rasanya masih sama spt dulu ... padahal bakmie yg sudah punya cabang besar dimana2 ini tak pernah pusing mengurus sertifikat halal. Toh tetap ramai pembelinya.
  • Hmmm ... kalau mencium wangi roti TanEeT ini rasanya ingat masa kecil. Duh kangen berat mau beli lagi, ada di mana ya ? Padahal dari 30 tahun lalu hingga sekarang, retail roti yg sudah terkenal di kompleks perumahan elite ini tak pernah mengurus logo halal.
  • Apapun fastfood nya, cokacola, pespi, r00tbeer minumnya. Padahal sudah jelas, ketiga merek ini beda negara beda ingredients, dan tak pernah pusing mengurus logo halal kalau tak terpaksa.

Itu baru brand yg sudah dikenal lamaaa banget, sejak zaman Orba. Nah yg
baru nongol sekarang saja masih diantri orang. Gerai BTalk (rotiberbicara) yg baru ultah kelima di Jkt saja masih dicari orang. Pdhl sudah jelas gerai ini gagal memperoleh ekstensi halal cert nya krn "sesuatu" hal. Gmn brand non-halal itu tak akan ada matinye ... wong yg retro macam kita masih banyak koq he...he.. Jadi bukan hanya atas nama retro, tapi juga atas nama fashion (trend saat ini).

Apakah nostalgia masa kecil atau masa muda kita akan estafet ke generasi
penerus ?
Dimana lagi posisi umat muslim di Indonesia utk memaksa produsen kuliner di Indonesia memiliki sertifikat halal ? Jika kita sangat kesal saat Msia mengklaim makanan tradisional Indonesia adalah milik mereka, pernahkan kita sama kesalnya saat roti/bakmi/seafood favorit kita ternyata tak pernah punya logo halal ? (padahal *maaf* sudah jelas2 yg jual non-muslim).

Saya memang masih mendua jika yg menjual makanan itu muslim tapi belum
punya logo. Ini terjadi saat makan bakso, nasgor, gorpis, martabrak sate ... dll ... di pinggir jalan tanah air. Tapi jika penjualnya sudah non-muslim dan nama tempatnya jg sudah asing, otomatis saya langsung praduga bersalah dulu.

We dont want our offsprings follow wrong path just for the sake of parents' nostalgia. Let them write their new book, free of our past mistakes.

**************

Kondisi umat Islam di Singapura, Malaysia, Indonesia (sengaja diurutkan berdasarkan tingkat keberuntungan dari segi tanggung jawab otoritas terhadap kehalalan produk, mulai dari yg paling baik saat ini) jelas lebih baik dibandingkan umat Islam di negeri lain. Sertifikasi atau hanya sekedar pernyataan jujur dari penjual produk/jasa F&B (food n beverages) sudah cukup bagi saya sbg penikmat kuliner. Mau lebih profesional dan diterima sbg standar internasional, sehingga produknya dpt diekspor ke berbagai negara, tentunya perlu sertifikat yg dijamin otoritas ybs (MUI). Sementara utk level UKM (usaha kecil menengah) dalam skala di desa/kota, jaminan dari pemilik usaha saja yg ditempelkan di dinding kedai makan atau dicetak bersama sampul/kotak/bungkus makanan yg dijual sudah cukup. Konsumen puas krn hak n
ya dihormati.

Namun sampai hari ini prakteknya masih tak seragam. Ada rasa khawatir (mudah2n) dalam hati pelanggan bahwa apa yg dikonsumsinya tercampur zat haram. Info dari penjual tentang no-pork/no-lard/no-alcohol saja tidak berani ditampilkan meskipun ketiga statement tadi belum menjamin produk yg 100% halal namun sudah ada itikad baik dari penjual akan "keselamatan" pemakainya.


Sama sekali memprihatinkan jika di negeri yg mayoritas muslim bernama Indonesia, kita bingung mencari makanan yg halal dan baik, spt pengalaman saat kita menjadi turis di kota2 yg muslim minoritas spt di Eropa Barat, Korea, Jepun, Australia dll secara umumnya. Padahal di negeri sendiri, tak berlaku hukum darurat, spt "dibolehkannya" makan daging dari sembelihan ahli kitab. Menjadi vegetarian atau penikmat seafood saja masih ragu-ragu juga kita di restoran asing di negara2 tsb krn khawatir tercampur pengcui (anggur putih), angcui (anggur merah), mirin, atau soyu/cuka/perisa/kaldu yg haram.

Gerai makan cepat saji semacam Mcd, Kfc punya global brand. Hampir seluruh kota besar dunia mereka hadir. Namun jangan cepat pesan dulu krn tidak di semua negara mereka punya sertifikat halal. Awalnya saya mengira mereka aman dikonsumsi berbekal ilmu bahwa yg dijualnya hanya ayam/sapi sembelihan ahli kitab (Nasrani), keju atau fish-o-fillet, dan mereka tak menjual babi, namun teman cerita bahwa di Thailand gerai McD pun menyediakan menu 6a61 arrgggh :-(

Kongsi pengalaman dari teman yg lama bekerja di negeri2 Islam di Timur Tengah (Middle East). Mnrt beliau semua produk makanan/penjual/pemroses diwajibkan "halal by law" sehingga hanya produk non-halal yg perlu disertifikasi. Selama tidak masuk ke rumah2 makan China/Western/di Hotel maka ia tidak khawatir. Ini persis yg diceritakan kawan yg sering ke Brunei bhw hanya deklarasi produk haram yg harus dipajang pemilik produk (Muslim not allowed / Non-muslim food sign) dan dibuat pemisahan lajur produk yg haram di supermarket :-)

Dulu sekali saya menganggap di China itu sulit mencari resto halal. Alhamdulillah dari pengalaman teman yg biasa dinas ke China, tnyt di kota2 besar semacam Beijing, Guangzhou, Tiangjin, Shanghai, Xiamen dll justru banyak perantauan muslim dari western China (Xinjiang, Uigur) yg membuka kedai makan halal. Sama kondisinya dengan Hongkong yg memiliki jawatan halal (Islamic Union of Hongkong) sehingga di Kowloon dapat ditemui Kfc halal dan rumah2 makan Pakistan. Di situs ini malah ditulis kalau dapat menyeberang ke pulaunya nah bakal ketemu warung Malang atau warung Jawa yg jualan tempe juga di Causeway Bay. Yang agak repot hanya dapat entertainment dari rekanan, dibawa ke restoran umum, nah di sini biasanya harus puas makan sayuran atau ikan/udang rebus saja :-)

/bersambung ke bagian dua/





No comments:

Post a Comment