Feb 4, 2011

Memanusiakan Manusia

Akhlak Rasulullah SAW itu Al-Qur'an : Tulisan 1 dari 4

Hujan dan gemuruh angin di Minggu 31 Januari itu tidak menyurutkan semangat jamaah yang hadir di Masjid Istiqamah KBRI pagi itu untuk mendengar siraman hikmah yang dibawakan Gus Mus (KH Mustofa Bisri) jauh-jauh dari Jawa Tengah Indonesia.

Saya pun agak cemas saat keluar rumah, berjuang menyetop taksi di saat lebatnya hujan. Bakal ramaikah acara pagi ini ? Sempat berdoa dalam hati agar jamaah yg sudah berniat datang diberi kemudahan utk hadir di SI perdana 2011 ini. Alhamdulillah jamaah terus bertambah ramai sejak Gus Mus mulai ceramahnya 10:20 waktu Singapura.

Seusai salam pembuka, Gus Mus berujar "Minggu pagi yg dingin diiringi hujan deras, ramai yang datang untuk mendengar ocehan saya, ini luar biasa. Hanya ridha Allah yang dapat mengganjar upaya saudara-saudari untuk datang pagi ini. Semoga barakah dunia dan akhirat terlimpah bagi kita semua !". Amiin. Meraih ilmu dan meninggalkan kenikmatan dunia lain.

Dalam bagian pertama ceramahnya, Gus Mus mengajak kita bersyukur karena:

(1) Menjadi umat yang terpilih

untuk mengikuti Rasulullah SAW dari sekian Milyar penduduk bumi. Menjadi umat Rasulullah SAW adalah hak prerogatif Allah, tak dapat dipaksa siapapun. Kita yang lahir di Indonesia amat jauh dari kedekatan apapun dgn baginda SAW. Bukan karena nasab (keturunan), kedekatan tempat tinggal, bahasa dll.

  • Ada yang "didekatkan" oleh Allah, sebagaimana paman (Abu Thalib), tetangga sebelah rumah beliau, ataupun besannya sendiri (yg juga paman beliau) Abu Lahab mertua dari Rukayyah dan Umm Kultsum TIDAK terpikat untuk menjadi muslim hingga akhir hayat mereka. Malahan mantan besan nabi SAW tsb memaksa kedua anak pria nya (Utbah dan Utaibah) untuk menceraikan kedua putri nabi SAW.
  • Padahal tidak seorang pun yang melebihi kefasihan Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah/dakwah yang pasti menarik bagi siapapun yang mendengarkan. Lalu mengapa orang2 yg hidup dekat secara jarak dan waktu dengan beliau tidak semua bersyahadat menjadi muslim ? Intinya bahwa MENGAJAK orang menjadi muslim itu adalah kewajiban kita, sementara apakah dia TERAJAK adalah hak prerogatif Allah SWT. Amatlah lucu bilamana ada seseorang mengaku-ngaku bahwa karena jasanya lah banyak orang yg sudah mendapatkan petunjuk ke jalan yang benar. Orang semacam ini biasanya akan menjadi sombong apabila banyak orang yg terajak dan marah besar apabila tidak ramai orang yg mau bergabung bersamanya.

(2) Pemimpin agung kita Rasulullah SAW adalah manusia
  • Uswah kita adakah manusia, sama seperti kita. Manusia mengikuti manusia itu enak. Secara logika tentu tidak sulit mengikuti ajakannya. Sebagaimana Allah berfirman dalam al Fushshilat 6 dan al Kahfi 110 : “Katakanlah, sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu. ..."
  • Rasulullah SAW adalah manusia paling manusia, yang mengerti manusia, dan bercita2 memanusiakan manusia. Rasulullah amat mengetahui kekuatan manusia sehingga selalu melekatkan kata "Kerjakan semampumu" dalam sunnah yang ia anjurkan. Seorang ahli ibadah ahli wirid yang menyuruh muridnya membaca ayat Kursi hingga 15000x sehari adalah orang yang tidak mengerti manusia.
    Dicontohkan selama waktu sehat Rasulullah selalu mengimami shalat. Selama itu pula tidak ada yg komplain akan panjangnya waktu shalat, tidak ada yg mengantuk saat beliau berkhutbah, dll. Saat Muadz b Jabal menjadi imam, jamaah nya komplen karena rakaat pertama tamat al-Baqarah dan rakaat kedua tamat al-Imran. Rasulullah SAW sangat menghormati manusia karena Allah memuliakan manusia. "Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan" (al Isra 70).
  • Rasulullah mengajarkan kita mengambil sikap pertengahan dalam urusan dunia ini. Jika menyenangi sesuatu tidak berlebihan dan jika membenci sesuatu pun tidak terlalu.

    Kesimpulannya ajaran dari Rasulullah SAW itu pasti mudah dilakukan. Apa standard nya ? Tanyakan manusia secara keseluruhan, bukan tanya pada diri sendiri. Kalau kita merasa berat mengikuti sunnah Rasulullah SAW, tanyakan diri sendiri (curiga) apakah kita masih 100% manusia ?

Ada anekdot, perbandingan manusia dan monyet, keduanya diberikan segelas air dan sepotong roti. Tangan kiri memegang gelas air dan di tangan kanan ada roti. Di saat sebuah pisang disodorkan, kira2 apa reaksi manusia, apa reaksi monyet ? Monyet masih akan meraih pisang itu dengan kakinya, sementara manusia tidak akan berlaku spt itu. Ini baru satu sisi yg diperbandingkan tentang sifat serakah. Benarkah kita manusia sejati ?

Allahumma shalli 'alaa Muhammad

No comments:

Post a Comment