Nov 10, 2011

Lima Belas Menit itu Sesuatu !

Fifteen minutes is really something.

Hujan lebat yang mengguyur pulau kecil ini sejak awal dini hari 10 Zulhijjah 1432 H membuat suasana hati agak gundah. Apakah niat shalat Ied Adha di KBRI dapat ditunaikan ? Sedapat mungkin di momen spesial spt hari Ied, kami usahakan shalat ke sana krn penceramahnya dari Indonesia, dapat bersilaturahim dgn banyak kawan, tempatnya lebih lega, dan biasanya ada jamuan kuliner ala negeri kita :-)

Fikiran masih tak menentu saat melihat hujan di luar tak ada tanda-tanda berhenti hingga waktu Subuh habis. Artinya satu jam lagi pelaksanaan shalat akan bermula. Saya arahkan pandangan ke barat, ke arah yang akan kami tuju, masih gelap pekat. "Wah sptnya perlu plan-B nih" dalam hati ku berkata, meski keinginan ke KBRI masih besar. "Ya Allah beri kesempatan kami utk ikut berjamaah di KBRI".


Namun terjadi satu kesalahan fatal yg manusiawi. Suhu pagi itu hanya 28ÂșC. Saya merebahkan badan di kamar, sptnya udara dingin dan terlambat tidur semalam kompak menyetujui tindakan yg berpotensi resiko tinggi itu. Benar saja, sukses ketiduran seisi rumah ! Kaget, saya terjaga, cek jam 07:25, dan hujan sudah berhenti alhamdulillah. Mulailah drama pagi itu diawali dgn kejar-kejaran, berkemas dalam lima belas menit. Bismillah, kami keluar rumah, saat saya longok jam sudah 07:45. Emosi harus dijaga saat ini, jalanan di samping rumah hening dan basah, tak ada tanda-tanda taksi. Takbir dalam hati dan otak mulai bimbang apa harus memaksakan ke KBRI.

Rupanya di jalan, tak jauh dari tempat kami berdiri, sudah lebih dulu ada seorang pakcik yg sptnya jg akan ke mesjid menanti taksi bersama cucunya. Tunggu punya tunggu menit tetap berlalu. Saya sudah katakan pada istri, alternatif mesjid lain yg dpt dikejar. Saya pun berniat jika kami dapat taksi lebih dulu akan saya ajak pakcik tadi shalat di mesjid terdekat. Namun masalahnya, waktu tinggal 10 menit dan mesjid lokal biasanya mulai tepat jam 8 ! Saya sms rekan di KBRI, utk mengecek shalat di sana jam berapa, sekedar berharap akan jawaban ... shalat Ied akan mulai pukul delapan lewat krn menunggu jamaah yg masih di jalan he..he...

Tak sabar, saya ajak istri ke jalan utama, berharap lebih banyak taksi yg lewat. Baru saja melangkah melewati pakcik tadi, lhaa... ada taksi datang dari arah belakang dan di stop pakcik tsb. Pakcik yg beruntung itu melambaikan tangannya ke arah kami yg terus berjalant :-)

Di jalan utama memang lebih banyak taksi beredar, namun belum ada yg pasang lampu hijau di kepalanya tanda kosong. Di seberang jalan tempat kami menunggu kini, seorang pakcik lain juga menanti taksi. Akhirnya ia dapat duluan juga :-) Jam sudah menunjukkan 08:00 teng. Saya tetap bertakbir dgn suara lirih. Hmm pasrah banget ... sptnya ini takwil mimpi semalam. Malam itu saya mimpi mengejar jadwal pesawat dalam masa satu jam gara-gara masih banyak urusan yg harus diselesaikan sebelum pergi ke bandara .... arrrghhh ! Alhamdulillaah .. entah semenit atau dua menit kemudian ada satu taksi abu-abu kosong. Supirnya bapak yg cukup tua berkacamata. Saya utarakan tujuan dan pastikan kalimat yg keluar dari mulut ini adalah "Indonesian Embassy please ....". Satu kata, satu tekad, laa haula walaa quwwata illa billaahi, semoga Allah menyampaikan niat kami shalat dan bersilaturahim.

Bapak ini langsung tancap gas. Spt tahu isi kepala kami, ohh bukan, kami yakin ini skenario Allah Swt, bapak ini mengemudi dengan sungguh laju. Manuver yg lihai, traffic light yg bersahabat, dan suasana PIE/CTE yg tak ramai di pagi yg sejuk tadi membuat hati kami berangsur yakin bahwa niat kami seperinya kan tergapai. Di dalam taksi saya genggam tangan istri dan terus bertakbir lirih. Saya yakin emosi wanita di sebelah ini bergejolak, mau protes keras, tapi ditahannya dgn zikir sambil menatap jalan lewat jendela. Benar-benar kekhilafan fatal saya pagi itu ! Rasanya cukup sekali saya beri instruksi kepada pak supir untuk memilih CTE krn rutenya jadi lebih singkat. 
Sekitar pukul 08:15 lebih sedikit, taksi tiba di taxi stand kedutaan. 
Alhamdulillah selamat dan tiada hujan, hanya tampak dua tiga taksi lain yg baru tiba, dengan penumpang-penumpangnya langsung berlarian ke dalam kedutaan. Benar saja, petugas keamanan langsung menginfokan bahwa shalat baru bermulai, takbir tujuh kali terdengar satu persatu dari corong pengeras suara.

Kisah mengejar shalat pagi itu berakhir menyenangkan. Kami dapat bergabung mulai rakaat pertama meski tertinggal takbir. Elwis pun dapat menyatu di bagian jamaah muslimah di koridor belakang Riptaloka yg biasanya lebih ramai, sementara saya shalat di bawah tenda di luar mesjid. Allaahu Akbar walillaahilhamdu ! Usai ceramah kami pun bersalam-salaman, beratur mengambil kotak makanan, dan meneruskan berbagi cerita dan kangen-kangenan dengan kawan-kawan lain di sana. Pyuuuh... semoga kejadian ini tak berulang lagi... letih mental, lelah fisik. Pertimbangan saya saat memilih shalat di KBRI adalah keyakinan dari beberapa kali pengalaman. Masjid Istiqamah KBRI biasanya memberi tunda sekitar 15 menit utk memberi kesempatan bagi calon jamaahnya agar dapat bergabung shalat. Maklumlah, posisi kedutaan ini tak punya akses kendaraan umum yg mudah. Diperlukan sekitar lima belas menit berjalan kaki cepat dari dua halte bus terdekat dari sana. Selain itu, waktu lima belas menit tadi juga digunakan pihak kedutaan untuk memberi satu dua kata sambutan/pengumuman dari pengurus KBRI atau pengurus mesjid sendiri. 

Bahagia dengan kotak kue masing-masing

Manusia berencana, berikhtiar dan berdoa, selebihnya Tuhan yang atur.
06.11.11


No comments:

Post a Comment